Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Sudah pergi


__ADS_3

''Abangggg!!! Tidaaaaaaakkkk!! Jangaaaannn!!!''


Dddduuuaarr!!


''Bunda?''


Deg!


Semua yang ada disana tersentak mendengar suara Bella yang terkejut. Reflek saja Bella memanggil nya Bunda. Sama seperti Annisa dan kedua saudaranya yang lain.


Annisa tidak peduli dengan keadaan di belakang nya. Ia sibuk membaca surah Yasin tanpa mengeluarkan suara.


Bunda Zizi bangun. Ia melihat jam. Dan ternyata sudah pukul empat pagi. ''Maaf Mak mengagetkan mu ya? Udah, tidur aja lagi. Mak mau sholat tahajud dulu-,''


Deg!


Deg!


Tubuh bunda Zizi menegang seketika saat melihat tubuh ayah Emil di tutupi dengan kain panjang. Sedang wajah ayah Emil tidak terlihat karena tertutup tubuh Annisa yang saat ini sedang menunduk.


''Mak?'' panggil Bella lagi


Bunda zizi tidak menyahut. Ia bangkit dan mendekati ayah Emil dan Annisa. Baru tiga langkah ia berjalan kaki itu terasa tertancap di bumi.


Tidak bisa di gerakkan. Wajah itu memucat seketika. Tanpa sadar kepala itu menggeleng dengan wajah pucat pasi.

__ADS_1


Ia mundur dua langkah ke belakang hingga menginjak kaki Arta dan Syakir bersamaan. ''Aduhh!!! Sakit ih!'' seru Sykair dan Arta bersamaan.


Semua yang sedang terlelap pun ikut bangun dan terduduk. Dari kejauhan sana sudah terdengar suara alunan merdu pertanda hampir masuk waktu subuh.


''Awwuuh... sakit Mak! Ih! Kok di injak sih?'' ucap Syakir begitu sakit lengan kanan nya terinjak oleh kaki bunda Zizi.


''Enggak! Itu nggak mungkin! Abang nggak mungkin pergi! Iya kan Kak?'' tanya bunda Zizi pada Annisa.


Annisa tidak menyahut, ia terus saja membaca tadinya tanpa suara. ''Annisa!'' seru bunda Zizi sedikit meninggi.


Annisa berhenti dari membaca Yasin. Ia menoleh pada Bunda zizi dan tersenyum walau sendu. Wajah itu penuh dengan air mata. Dan sangat sembab.


Mata itu memerah dan air mata keluar terus menerus dari sana. Tak ada sedikit pun suara yang terdengar dari Annisa.


''Bunda... Ayah sudah pergi...'' lirih Annisa tanpa suara.


''Ada apa Bun- da.. Ayah?? I-ini...'' tunjuk Tama pada jenazah ayah Emil yang sudah tertutup kain panjang dan selendang putih di wajahnya.


Begitu pun dengan Syakir. Ia tersentak kaget. Sama seperti Bunda Zizi, ia pun mundur ke belakang hingga membentur tubuh tegap Tama.


Tama memegang Syakir dengan tangannya bergetar. Mak Alisa dan Papi Gilang berlari mendekati Annisa yang saat ini masih menangis tanpa suara.


''Pi? Bang Emil?'' tanya Mak Alisa pada Papi Gilang yang hampir saja jatuh jika tidak Papi Gilang menahan nya.


Brruukkk..

__ADS_1


''Mak!!''


''Mak!!''


''Bundaaa!!''


Ddduuaarrr!


Bunda Zizi jatuh terkapar dilantai dengan wajah pucat pasi. Mata itu terpejam. ''Bundaaa! Bangun Bunda! Banguuuunnn!! By!!'' pekik Ira pada Ragata yang terdiam mematung Karena terkejut melihat jenazah ayah Emil dihadapan Annisa yang sudah tertutup.


''I-ini tidak mimpi kan ya Bang?'' Tanya Syakir pada Tama.


Tama menggeleng, sekuat tenaga ia mendekati Annisa yang saat ini sedang tersedu karena melihat nya. Bibir itu terus bergetar memanggil nama Tama.


Tama mendorong perlahan tubuh Syakir menuju Annisa yang saat ini semakin tersedu saat melihat wajah pucat Syakir.


''Dek..'' lirih Annisa tanpa suara. Suaranya serak saat ini karena terus menangis dan meraung-raung tadi saat ayah Emil menutup mata.


''Sayang ini? Ini beneran?'' tanya Tama memastikan. Annisa mengangguk dengan air mata beruraian. ''Beneran? Bukan mimpi?'' lanjut Tama lagi.


Annisa mengangguk lagi. ''Ya.. ayah sudah pergi tadi pukul tiga pagi. Saat kalian semua hiks.. terlelap dalam tidur. Tetapi adek hiks.. bisa melihat ayah pergi untuk hiks yang terakhir kalinya.. haaaaa.. ayah sudah pergi Bang... ayah sudah pergi meninggalkan kita.. haaaaa...'' Raung Annisa sambil memeluk Syakir dan Tama bersama an.


Rasanya suara itu begitu sakit. Annisa tidak punya suara lagi saat ini. Suara itu sudah hilang. Tama mematung. Tetapi tangan itu tetap mengelus tubuh istri dan adik ipar nya dengan tangan bergetar.


Semua yang ada di sana menangis bersama. Ira menangis saat mengolesi kayu putih pada Bunda Zizi yang belum sadar.

__ADS_1


Ragata masih tercenung melihat jenazah ayah Emil yang sudah membeku. Arta dan Bella terdiam tanpa suara. Tetapi air mata itu terus mengalir dengan deras.


__ADS_2