Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Yang terakhir kalinya Ayah nikahkan.


__ADS_3

Selesai dengan keluarga Mak Alisa dan Tama. Kini ayah Emil dan Bunda Zizi mendekati mereka berdua. Annisa tersenyum lebar. ''Ayah.. Bunda...'' sapanya pada ayah Emil yang kini berdiri dihadapannya.


Ayah Emil tersenyum manis sekali. Annisa tertegun. Tidak pernah selama ini


Ayah Emil tersenyum seperti itu. Baru kali ini. Tama pun merasakan ada hal yang Aneh pada mertuanya itu yang merupakan ayah angkat nya sedari ia berumur lima tahun.


''Selamat berbahagia putriku.. semoga kamu bisa menjadi istri yang Sholehah yang patuh pada suami dan juga taat pada perintah Allah sesuai dengan aturan Nya. Ayah tidak bisa memberikan apapun padamu. Ada sih. Itu semua adikmu yang ingin memberikan sesuatu untukmu. Sayang??'' panggilnya pada bunda Zizi.


''Iya bang ini... loh? Astaghfirullah! Ketinggalan disana. Haduuhh.. hehehe.. bentar ya? Bunda ambilkan dulu,'' katanya pada Tama dan Annisa dengan sedikit malu.


Sepasang pengantin itu terkekeh melihat bunda Zizi. Beliau berlalu untuk mengambil Hadiah dari Ayah Emil itu. Dan itu menjadi kesempatan untuk ayah Emil bisa berbicara serius kepada ketiga anaknya termasuk Tama.


''Kakak! Abang! Kesini!'' panggilnya pada kedua anaknya yang lain sembari melambaikan tangannya. Kedua anak itu patuh. Mereka berdua mendekati ayah Emil dan berdiri dihadapan nya.


Mak Alisa dan Papi Gilang heran melihat ayah Emil yang begitu serius saat ini. ''Ada apa Yah?'' tanya Kak Ira.


Sudah Emil tersenyum. ''Kalian bertiga itu anak-anak ayah. Maafkan kesalahan ayah yang dulunya pernah membuat kalian bertiga terluka.. termasuk kamu bang Tama.''


Deg!


''Ayah ..'' lirih Annisa dengan mata berkaca-kaca.


Ayah Emil masih tersenyum, ''Ayah sudah menikahkan kakak dengan Bang Raga. Dan sekarang Annisa. Ini merupakan terakhir kalinya Ayah menikah kan anak-anak ayah. Selebihnya ayah berikan tugas ini kepada bang Lana. Kamu siap bang untuk menikah kan adikmu Mirabella Syahputra adik kandung berbeda ibu dengan mu??''


Deg!


Deg!


Jantung ketiga anak itu berdetak tak karuan. Wajah mereka mendadak cemas. ''Ayah kok ngomong gitu? Emangnya ayah mau kemana??'' tanya Kak Ira, ia mendekati ayah Emil dan memeluknya.


Ayah Emil tersenyum, ia membalas pelukan putri sulungnya bersama Mak Alisa itu. Lana pun demikian.


Annisa menatap datar pada ayahnya. ''Adek??'' panggilnya pada Annisa.


Annisa diam. Wajah itu semakin dingin saja. Telapak tangan yang tadinya hangat kini berubah menjadi dingin. Tama memegang tangan itu dan mendekatkan nya pada ayah Emil. Tetapi Annisa tidak mau.


''Sayang?'' panggil Tama.


Annisa tetap tidak menyahuti. Ia terus saja menatap Ayah Emil yang kini tersenyum padanya tetapi dibalut sendu di dalamnya.

__ADS_1


''Kenapa??Adek nggak ingin ayah peluk nak??''


Annisa diam. Wajah itu semakin dingin saja. Papi Gilang yang melihat itu mendekati Annisa.


''Lihat Papi, Kak!'' serunya dengan suara rendah.


Annisa tetap tidak menggubrisnya. Ia tetap menatap dingin pada ayah Emil. ''Jika ayah datang kesini hanya untuk berpamitan sama kami, lebih baik ayah nggak usah datang!''


Deg!


Deg!


Bunda Zizi terkejut mendengar ucapan Annisa pada ayah Emil. Sang ayah tetap tersenyum manis pada Annisa.


''Ayah bukan berpamitan padamu, nak.. Ayah hanya ingin anak-anak ayah berkumpul disini dan memeluk ayah di hari pernikahan mu. Kalau menunggu Bella, kan masih lama?''


Ira dan Lana terkekeh. Tapi tidak untuk Papi Gilang, Tama dan Annisa. Ada sesuatu yang aneh yang mereka rasakan pada Ayah Emil.


Kamu kenapa Bang?


Ayah Emil tersenyum pada Papi Gilang.


Abang tidak apa-apa GI.... hanya saja.. terkadang kita tidak pernah tau kapan dan dimana takdir itu akan menjemput kita. Abang hanya ingin menghabiskan waktu bersama mereka. Tapi lihatlah! Annisa Putri mu itu menatap tidak suka sama Abang!


Bang...


Udah Gilang... Abang tidak apa-apa. Tolong jaga Annisa, Ira, dan Lana untuk Abang ya? Dan juga ketiga anak Abang yang lainnya... Abang tidak tau kapan waktu Abang akan berpulang. Yang jelas waktu itu sudah tiba.


Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr


Papi Gilang tersentak mendengar nya. Ia mundur dua langkah ke belakang hingga menubruk tubuh Mak Alisa. Wajah itu pucat pasi seketika.


Annisa tersedu. Seolah tau apa yang kedua orang itu bicarakan, Annisa menangis tersedu. Semua yang melihatnya panik bukan main.


Masa iya pengantin menangis tersedu di hari bahagia sih? Begitulah pikir mereka. Ayah Emil memeluk erat kedua anaknya. Ia berbisik lirih di kedua telinga anak itu hingga membuat keduanya menangis bersama.


''Nak.. Ayah titip Bunda kalian ya? Sayangi dirinya seperti kalian menyayangi Mak Alisa. Jaga ketiga adik kalian. Waktu sudah tidak lama lagi. Sebelum ayah pergi, bolehkah ayah meminta jika kalian menginap dirumah ayah Walau seminggu saja??'' bisiknya pada kedua anaknya itu.


Kedua anak itu semakin tersedu. Bunda Zizi yang berada di belakang ayah Emil membatu seketika. Pikirannya blank. Hatinya seperti diremas. Apa maksud ucapan suaminya itu? Ingin pergi? Pergi kemana? Kenapa dirinya dan ketiga anaknya di titipkan kepada Ira dan Lana? Ada apa? Pikirnya.

__ADS_1


Tama memeluk Annisa dengan erat karena tidak tahan melihat Annisa tersedu seperti itu. Begitu pun kedua saudara Annisa yang lainnya.


Suasana di ballroom itu mendadak sunyi seketika. Yang terdengar hanya suara raungan Annisa yang semakin tersedu di pelukan Tama begitu pun dengan saudaranya yang lain.


Papi Gilang tidak bisa berbicara. Ia jatuh terduduk di kursi pelaminan yang disediakan untuknya dan Mak Alisa.


Ayah Emil mengurai pelukannya dan meminta sesuatu pada bunda Zizi. ''Kesinikan sayang Hadiah untuk putri kita.'' Katanya sambil mengulas senyum manis pada bunda Zizi. bunda zizi mengulurkan benda yang berhiaskan kotak berwarna merah menyala itu kepada ayah Emil.


Bunda Zizi masih terpaku di tempat. Ia tidak tau harus berbuat apa. Yang jelas telinganya tidak mungkin salah dengar tadi.


''Nak??'' Ayah Emil mendekati Annisa yang berada di pelukan Tama.


Tama mengurai pelukannya. Wajah Annisa yang berhias makeup basah karena air mata yang tidak mau berhenti. Ayah Emil tersenyum, ia mengusap pipi halus Annisa yang semakin tersedu.


Annisa memegangi kedua tangan kasar itu. Tangan yang dulu tidak pernah menimang nya sedikitpun. Berbeda dengan kedua saudaranya. Kak Ira dan Bang Lana.


''Ayah tidak punya apapun yang bisa ayah berikan untukmu. Hah.. ini barang peninggalan nenek Rima yang dititipkan sama ayah untuk diberikan kepada kalian bertiga. Hahh.. Mana jari mu nak?'' katanya dengan dada yang begitu sesak dan bibir bergetar.


Papi Gilang menangis dalam diam. Sementara Mak Alisa baru Paham jika mantan suaminya itu bersikap aneh seperti itu. Ia pun jatuh terduduk di hadapan Papi Gilang.


Papi Gilang memeluk Mak Alisa dengan wajah yang sudah basah air mata. Mereka pun ikut menangis.


Annisa semakin tersedu kala jari manisnya di sematkan sebuah cincin yang sangat cantik peninggalan Almarhumah nenek Rima untuk dirinya.


Annisa tak kuasa menahan tangis. Ia tersedu di pelukan ayah Emil yang kini memeluknya begitu erat. Semua yang melihat itu ikut sedih. Tapi mereka tidak tau sedih karena apa.


Bunda Zizi mundur ke belakang selangkah dua langkah hingga ia menabrak seorang di belakang nya.


Brruukkk..


''Astaghfirullah! Bunda!''


Deg!


Deg!


''Zizi!!''


💕💕💕💕

__ADS_1


Jangan sedih ye? 🤧


Like, komen dan kembang nya untuk Othor! Vote nya juga dong.. biar othor tambah semangat update nya 😭😭😭


__ADS_2