Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Kamu sangat beruntung, Dek!


__ADS_3

''Hiks .. maafkan adek kak.. maaf..'' lirih Arta begitu memelas pada Annisa.


Annisa masih menatap datar padanya. Walau tangan itu tidak melepaskan rangkulannya dari tubuh Arta. Syakir berlalu setelah melihat Arta berada dalam pelukan Annisa.


Ia duduk kembali di dekat Tama. Tama mengusap lembut punggung Syakir. Syakir tersenyum padanya dan mengangguk. ''Hiks.. maaf Kak .. maafkan adek .. hiks.. maaf...'' lirih Arta sesegukan di dalam pelukan Annisa.


Annisa tidak menyahut namun, tangan halus itu mengelus lembut punggung Arta yang terus bergetar karena menangis sesegukan. ''Kenapa baru sekarang Dek?'' tanya Annisa begitu lirih di telinga Arta yang menangis sesegukan.


''Kak... hiks..''


''Kenapa?? Apakah selama ini apa yang Kakak berikan padamu kekurangan Dek? Hingga kamu sampai harus mengambil yang bukan hak mu?? Apakah ajaran yang selama ini Kakak ajarkan tidak kamu penuhi di dalam kehidupan mu?? hem??'' ucap Annisa semakin erat memeluk tubuh Arta yang semakin tersedu.


Tama mengusap sudut mata nya. Sedangkan Ayah Emil sudah tersedu sambil memangku kepala Bunda Zizi di atas pangkuan nya.


''Kenapa Dek? Kenapa??'' lirih Annisa terdengar seperti bisikan angin lalu di telinga Arta.


Arta tidak menyahut, tapi tubuh itu semakin bergetar. ''Kamu tau? Kamu sangat beruntung bisa di penuhi permintaan oleh ayah. Tidak seperti kakak, kak Ira dan bang Lana. Kami tidak pernah mendapatkan hak sepertimu. Tapi kami tidak marah pada ayah. Malah kami memahami kondisi ayah. Walau kami tau ayah saat itu cukup mampu untuk membeli apapun yang kami mau. Bisa di hitung dengan jari. Seperti apa dan apa yang ayah berikan untuk kami. Terutama Kakak!''


Deg!


Berdenyut ulu hati ayah Emil mendengar ucapan Annisa untuknya dulu. Ia semakin tersedu di lantai bersama Bunda Zizi yang ternyata sudah sadar. Wanita itu pun ikut menangis.

__ADS_1


''Kamu beruntung dek. Sangat beruntung! Kakak, jika bukan Papi Gilang yang menyelamatkan kakak dulu pasti saat ini kakak sudah tiada di dunia ini!''


Deg!


''Kak...'' lirih Syakir semakin tersedu mendengar ucapan Annisa yang dulu pernah ia dengar dari Mak Alisa dan Kak Ira. Begitu pun Bang Lana.


Syakir memeluk tubuh Annisa yang berguncang karena mengingat kejadian enam belas tahun silam. ''Hiks.. kamu beruntung sayang. Sangat beruntung! Tidak seperti kami bertiga. Sedari kecil hiks kami di abaikan hingga kami sudah besar. Hiks.. kamu beruntung dek, kedua orang tua kita begitu memperhatikan mu! Tapi kenapa kamu membuat ulah yang akhirnya membuat nama kedua orang tua kita menjadi tercemar hiks, hem??''


''Udah kak.. hiks..'' isak Syakir begitu pilu. Ia memeluk tubuh Annisa dengan erat dan kepala bersembunyi di ceruk leher Annisa.


Sedang Arta semakin tersedu di pelukan Annisa. Lelaki kecil itu bersujud dilantai tepat di kaki Annisa. ''Ma.. hiks af...''


Tama mendekati ayah Emil dan mengangkat paruh baya itu untuk duduk di bangkar. Begitu juga dengan bunda Zizi. Tama memeluk ibu tiri Annisa itu dan membawanya pada ayah Emil.


Kedua paruh baya itu menangis di pelukan Tama. Mitha yang sudah sedari tadi disana pun ikut menangis. Ia tak menyangka jika kehidupan kakak ipar kecilnya itu begitu miris semenjak ia dilahirkan ke dunia.


Tapi sekarang, nasib baik itu sedang berpihak padanya. Uwak Udin terdiam membisu duduk di sofa. Ia pun ikut menangis dalam diam karena ucapan keponakan nya itu.


''Kamu beruntung Dek. Sangat beruntung! Berbeda dengan kami bertiga.. hiks..''


''Nak...'' panggil Bunda Zizi

__ADS_1


Ia mendekati Annisa, Syakir dan Arta. Wanita paruh baya itu terduduk di lantai dan memeluk ketiga anaknya itu.


''Maafkan Bunda nak.. bunda salah telah menutupi kejahatan Arta selama ini. Bunda pikir, kalau menutupi dari kalian semua maka Arta akan berubah. Ternyata.. hiks.. tidak sama sekali.. maafkan Bunda Nak.. maaf...'' ujar Bunda Zizi pada Annisa yang saat ini masih memeluk tubuh Arta dan Syakir.


''Bunda... apapun yang sudah bunda lakukan terhadap kedua adikku salah Bunda... andai bunda tau kalau Syakir selalu menangis di telepon umum setiap kali berbicara pada kakak. Bunda tau, bahkan Arta tega mengambil uang hasil kerja serabutan Syakir untuk membayar uang SPP dan uang buku di sekolahnya.'' jelas Annisa semakin erat memeluk tubuh Syakir yang ada di sebelah kanannya saat ini.


''Ya Allah... tapi Bunda selalu memberikan uang yang Syakir minta untuk bayar uang SPP nak.. jadi mana mungkin-,''


''Abang yang mengambilnya Mak! hiks..''


Deg!


Annisa memejamkan matanya saat mendengar suara lengkingan Arta begitu tinggi di telinganya.


''Apa?! Ja-jadi... ka-kamu menipu Mak Arta???'' tanya bunda Zizi untuk memastikan.


''Ya! Hiks.. Abang yang mengambil nya!'' sahut Arta lagi masih dengan suara meninggi di telinga Annisa.


Lagi dan lagi Annisa memejamkan kedua matanya saat merasakan gendang telinga yang hampir pecah akibat seruan Arta yang begitu keras. Hingga membuat nya berdengung.


Syakir yang sadar segera menarik Annisa untuk memeluknya seorang diri. Dan Arta di peluk oleh Bunda Zizi. Tama yang ingin mendekati mereka pun tidak jadi. Ia malah terkekeh melihat tingkah Syakir yang begitu melindungi Annisa.

__ADS_1


__ADS_2