
''Asal kau tau, lelaki katarak yang kau sebut tadi itu merupakan CEO terkenal di kota Medan ini. Begitu juga dengan Mak ku! GILANG BHASKARA DAN ALISA BHASKARA! PEMILIK SAH BHASKARA GROUP DAN MALL ALISA DI KOTA MEDAN INI! YANG SERING KALIAN KUNJUNGI SETIAP SATU BULAN SEKALI!!!''
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...
''APA?!??!'' pekik semua orang yang ada disana.
Annisa tertawa terbahak. ''Hahaha.. kenapa?? Terkejut??'' ledek Annisa pada mereka semua.
Semua yang ada disana menatap terkejut pada Annisa. Annisa maju dan berhadapan dengan mereka semua yang duduk di tilam tahu miliknya. Annisa tersenyum miring.
''Cih! Datang-datang langsung menghina orang! Kalau memang kalian orang kaya kenal duduk dan tiduran orang Hian seperti saya sekarang Apa kalian tidak takut tertular penyakit miskin di tubuh kalian karena tilam itu punya saya??'' pancing Annisa, membuat beberapa orang yang terduduk dan tiduran disana mendadak bangkit dan berdiri dengan menyapu dan mengipasi tubuh mereka karena merasa jijik.
Annisa tertawa melihat cemoohan mereka melalui sorot mata sinis mereka itu. Annisa berjalan menuju ransel miliknya dan mengeluarkan ponsel miliknya yang tiba-tiba saja berdering.
Annisa tersenyum, ''Iya Bunda, waalaikum salam.. udah. Udah kakak mandikan. Heh? Keluarga jauh? Hoo.. jadi mereka ini semua kelurahan jauh Bunda ya? Hoo.. begitu... hem, baiklah. Bunda tenang saja. Ada kakak disini! Oke, kajdk tunggu! Nggak usah, nanti bang Tama bisa beli dari restoran seberang untuk msjdn siang mereka. Bunda tunggu adek aja pulang. Ck. iya, iya Bunda ku sayang... ih. Iya, waalaikum salam...'' ucap Annisa pada ponsel miliknya
Annisa terkekeh kecil saat melihat keluarga bunda Zizi menatapnya ingin tau, tapi Annisa tidak peduli. Ia tetap sibuk dengan perawatan kulitnya dengan skin care yang lumayan mahal.
Bukan maksud Annisa ingin menunjukkan. Tapi itulah yang terjadi saat ini. Setiap habis mandi Annisa pastilah melumuri seluruh tubuhnya dengan pelembab itu.
Semua Padangan mata menatapnya dengan datar. Tama menatap sekeliling, ia tersenyum tipis melihat itu. Sementara ayah Emil semakin menunduk. Pria paruh baya ayah Annisa itu tidak ingin berdebat dengan keluarga Bunda Zizi.
__ADS_1
Ia lebih memilih mengalah. Ingin sekali melarang Annisa agar tidak mengurusi mereka itu. Tapi lidahnya seperti terkunci. Annisa mendatangi ayah Emil setelah siap dengan perawatan tubuhnya.
''Ayah mau apa? Biar Abang belikan di restoran seberang sana. Ingin makanan seperti kemarin??'' tanya Annisa pada ayah Emil.
Ayah Emil menggeleng. ''Ayah tidak usah takut dengan mereka. Harta kami cukup untuk bisa membiayai pengobatan ayah dan memberikan makan ayah selama kami di sakit ini. Kami datang kesini tulus untuk menjenguk ayah. Bukan untuk MENGERUK harta ayah. Walaupun Bunda Zizi akan menang arisan bulan depan, Kakak tidak akan meminta nya sedikit pun! Malah kakak akan berencana ingin memberikan yang lebih untuk biaya hidup ayah. Kami sudah berhasil Yah. Ayah jangan takut tidak makan! Ayo, ayah mau pesan apa?'' tuturnya lembut kepada ayah Emil sekaligus menyindir keluarga jauh bunda Zizi itu.
Sementara Tama terkekeh kecil saat Annisa mengedipkan mata nakal padanya. ''Jangan gitu. Nanti Abang makan kamu!'' bisik Tama saat mendekati Annisa.
Annisa tertawa terbahak. Sementara tamu jauh Bunda Zizi itu tidak berbicara namun, mereka semua menatap sinis pada Annisa dan Tama.
''Abang keluar dulu ya? Mau pesan makanan buat tamu kita ini. Bunda akan datang??''
Annisa mengangguk, ''Ya, sebentar lagi Bunda Zizi akan kesini. Katanya saat ini masih di jalan. Adek pun sudah pulang dari sekolah. Katanya sekolah sedang mengadakan rapat hari ini dan mereka cepat pulang.'' Ujar Annisa pada Tama.
Annisa tertawa lagi. Semua itu tidak lepas dari perhatian mereka semua. Annisa tidak peduli itu.
Setelah melihat Tama keluar, kini saatnya mereka semua ingin mengeroyok Annisa dan Emil secara bersamaan. Tapi sebelum itu terjadi, mereka lebih dulu yang di keroyok oleh Annisa dengan kata-kata nya.
''Kau-,''
''Tidak perlu mengajariku nenek tua! Aku tau maksud dan tujuan mu datang kesini hanya untuk menghina dan merendahkan ayah ku! Aku ingat kan pada kalian semua. Jangan sekali-kali menghina ayahku! Jika itu sampai terjadi, kalian berdua akan berhadapan dengan ku! Jangan main-main dengan ku! Aku menghargai kalian semua karena kalian semua orang tua yang seharusnya aku hormati. Tapi karena lidah tidak bertulang kalian yang membuat ayahku hingga meneteskan air mata, kalian semua harus berhadapan dengan ku!''
__ADS_1
''Jangan sekali-kali menghina ayah ku! Kalian semua tidak atau apapun tentang nya! Ayahku tidak pernah merampas harta Kalian! Tapi kalianlah yang merampas harta ayahku selama tiga belas tahun ini! Perlu aku ingatkan bagaimana dulu kalian memaksa Bunda Zizi untuk memberikan kalian tunjangan hari raya dengan jumlah sepuluh juta satu orang?! hingga Ayah ku harus berurusan dengan bank karena harus menyenangi kalian semua?!''
Deg!
Deg!
Mereka semua terkesiap mendengar ucapan Annisa. ''Kau..!!!''
''Ya, aku!!! Akulah orang yang telah melunasi hutang ayah selam ini di bank demi menyelamatkan kalian semua yang abis akan harta !! Apa salah ayahku pada kalian semua, HUH!? Pernahkah ia meluakai hati kalian dengan perkataan nya?! Pernahkah kalian mendengar ia menyahuti ucapan kalian selama ini ia menikah dengan putri kalian?! Huh?! Jawab!!!!'' sentak Annisa dengan suara melengking tinggi.
Hingga semua orang yang ada diruangan itu dan juga ayah Emil terjingkat kaget. Termasuk empat orang yang baru saja tiba di depan pintu ruang inap ayah Emil.
💕💕💕💕
Hayoo.. Annisa... hihihi...
Hehehe.. maaf ye baru mskdn othor update, maklum sibuk di dunia nyata. Sambilan nunggu cerita adek Annisa update, mampir dulu yuk, di karya teman aku yang satu ini.
Karya nya Author Yanktie Ino
__ADS_1
Cus kepoin!
Like, komen, kembang, vote dan rate setiap kali kalian singgah di cerita remehan nothor ini ye? Othor tunggu! 😘😘