Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Flashback 4


__ADS_3

Suara dengungan tamparan yang begitu menggema di dalam ruangan Tama membuat ketiga orang itu terkejut bukan main. Sedangkan Tama menatap tajam dan seperti ingin menguliti Tian dan Azura secara hidup-hidup.


Dengan terhuyung ke belakang karena kepalanya semakin pusing, ia membuka laci meja dan mengambil satu botol kecil untuk ia buka.


Tapi sayang, saat Tama ingin membuka botol itu, tangan nya tiba-tiba kebas dan membuat obat itu jatuh kelantai dan ia memungutnya.


Kepalanya semakin pusing, "SSstt.. Brengsek!! Annisa.. Sayangh..." umpatnya sekaligus memanggil Annisa dengan lirih dengan tubuh berjongkok memunguti obat yang hanya terlihat banyak olehnya.


Memang benar, obat itu hanya tersisa satu saja. Tetapi pandangan Tama yang semakin mengabur dan juga kepala yang semakin pusing karena efek obat itu malah terlihat banyak berceceran di lantai.


Anto yang melihat Tama kepayahan mencoba mendekati Tama dan mendudukkannya di sofa ruangannya itu. Dengan segera Tama menenggak pil yang hanya tersisa satu butir lagi.


"Ambilkan lagi pil nya Anto! Tidak cukup satu untuk obat penawar dosisi tinggi! Cih! Dua kali aku mengalami hal ini. Ssssttt.. Aku butuh Annisa, Anto!" lirihnya dengan mata terpejam saat masih merasakan pusing masih tersisa karena obat itu ternyata dosis tinggi yang Azura berikan.


Anto dengan segera mendekati meja itu dan mencari obat yang Tama maksud. Tetapi obat yang ia cari tidak terlihat dimana pun.


"Obatnya nggak ada Abang. Dimana nya?" tanya Anto sembari membuka laci meja miliknya.


"Tadi obatnay terjatuh di bawah meja."


"Tak ada Bang, botolnya pun sudah kosong," jawab Anto masih mencari obat yang Tama maksud.


Tama menghela nafasnya. "Ya sudah, tak apa. Berarti obatnya memang sudah habis. Ck. Sial sekali aku! Dulu, Mama tiriku yang menjebakku dengan hal yang sama. Dan sekarang? Wanita lain yang aku anggap sebagai adik malah melakukan hal yang sama padaku! Sebenarnya, aku ini salah apa pada kalian? Hingga aku kalian hukum sehina ini??"


Deg!


Deg!


Azura, Tian dan Anto tertegun dengan mendengar ucapan Tama. "Andai kalian tau, aku tidak ingin berada di posisi ini. Aku ini manusia. Bukan barang yang bisa kalian pergunakan sesuka hati kalian yang bisa kalian permainkan! Aku juga punya perasaan! Apa salahku jika aku memilih Annisa dan juga showroom ini Papa berikan padaku? Apa salahku? Aku ingin Annisa sedari ia bayi. Tidak salah kan? Lalu, kenapa kalian ingin memisahkan ku dengan cinta masa kecilku?" lirih Tama dengan bibir bergetar.

__ADS_1


Anto mendekati Tama dan mengelus lembut bahu Abang angkat sekaligus Abang iparnya itu. "Kenapa Nto? Kenapa kalian begitu membenci Annisa ku? Sementara Annisa merupakan hidup dan nafasku?"


Deg!


"Tidakkah kalian tau, jika raga terpisah dari tubuhnya bukankah kita akan mati?"


Deg!


Azura menggigit bibirnya dan masih dalam pelukan Tian. "Aku hanya ingin bahagia dengan cintaku. Apakah itu sulit bagi kalian untuk memberikannya? Benar, dulu aku memang tidak ingin menikahinya karena aku pikir aku bisa pergi dari nafasku. Ternyata tidak. Aku mati tanpa nya. Hidupku ada bersama nya? Apakah salah jika aku menginginkan cintaku, hidupku serta nafasku bersama ku??"


Deg!


Deg!


Deg!


Ruanagn itu sunyi sepi. Hanya terdenagr isak tangis daru Azura saja walau sesekali. Taamyang mersakan rekasi itu kembali ia membuka matnay dan menatp dingin pada Azura.


Dengan gerakan cepat, ia mengambil botol minuman yang tadi ia minum dan sudah di bubuhi obat haram itu ia lempar tepat pada Azura.


Azura tidak tau, tetapi Tian dengan cepat menangkapnya membuat Azura yang berada di dalam pelukan Tian tersentak kaget. Ia menoleh pada Tama dan Tian.


"Minum obat itu! Dan rasakan rekasi dari obat yang kamu berikan padaku!" tegasnya dengan mata menatap tajam pada Azura dan Tian.


Azura melotot melihat obat itu kini berada di tangan Tian. Ia menggeleng pertanda tidak mau dengan wajah memelas menatapTian.


"Minum!"


Deg!

__ADS_1


Azura menggeleng dengan wajah ketakutan. Tama terkekeh, ia menatap tajam lagi pada Azura. "Kenapa? Kau takut? Jika kau takut melihatku, kenapa kau ingin menjebakku Azura? Apakah untuk mendapatkah tubuhku?? Atau hartaku?? Cih! menjijikkan!" ucap Tama dengan sinis pada Azura.


Azura semakin ketakutan dan semakin bergetar tubuhnya. Ia menggeleng sembari mundur dua langkah ke belakang.


Tama tertawa. Tertawa yang begitu menyeramkan. Mereka bertiga terkejut melihat reaksi Tama. Ia bangkit dan berdiri walau dengan sempoyongan, tetapi Tama tetap berjalan mendekatinya.


Secepat kilat Tama merampas botol itu dari tangan Tian dan menarik tangan Azura yang tidak jauh berada dari nya.


Azura meronta. Tetapi Tama memegangnya dengan kuat. Tian tidak bisa berkutik karena melihat tangan Taam mengacung di wajahnya. Begitu pun dengan Anto. Tatapan mata Tama begitu dingin dan tajam saat ini.


Hingga membuat kedua orang itu membeku di tempat. "Kau salah jika bermain-main denganku Azura! Kau salah karena telah membangunkan sisi lain dari diriku! Selama ini tidak ada yang bisa menenangkan ku selain Mak Alisa dan juga Annisa! Bahkan Mama kandungku pun tidak bisa menghentikan sisi iblis dari diriku!! Kau salah berhadapan dengan ku, Azura!" tekan Tama dengan suara rendahnya. Namun, begitu penuh penekanan hingga Azura tidak bisa berkutik.


Azura melihat jika itu bukanlah Tama yang ia kenal begitu ramah dan lembut. Tetapi ini Tama dengan jiwa yang lain. Sama saat ia memergoki Almarhum ayah Emil di rumah mereka saat itu bersama dengan wanita lain sedang bercumbu di dalam rumah Mak Alisa. ( Ada di cerita othor yang pertama AKU BUKAN PEMBAWA SIAL )


Dan itu sangat membuatnya murka dan hampir membunuh kedua orang itu jika tidak Mak Alisa yang melarangnya yang saat itu sedang hamil Annisa.


Dengan gerakan cepat, Tama memegang dagu Azura dan meminumkan minuman itu ke mulut Azura dengan cara ia paksa. Wajah Tama begitu menyeramkan saat ini hingga Azura ketakutan melihatnya dan tanpa sengaja ia menenggak minuman itu sampai habis.


Setelah selesai, Tama tertawa dengan keras melihat wajah pucat Azura yang berada di samping Tian.


"Panggil kedua orang tua mereka! Nikahkan Azura dan Tian di ruangan ini! Agar kedua orang tuanya tau, seperti apa kelakuan anak gadis mereka yang tega menjebak seorang pria yang merupakan suami orang dengan cara memberikan nya obat perangsang dosis tinggi!"


Dddddduuuuuaaaarrrrrr...


Bbrruuuukkk..


Azura terhenyak dan jatuh terduduk mendengar ucapan Tama yang menyuruhnya menikah dengan Tian. Ia menggeleng, tetapi entah kenapa reaksi tubuh itu begitu menginginkan hal lain.


Hingga Anto dan Tian saling berpandangan saat mendengar desaahan halus keluar dari bibir Azura yang kini matanya terpejam dengan bibir ia gigit dengan kuat agar suara itu tidak lolos keluar.

__ADS_1


__ADS_2