Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Arta marah


__ADS_3

Bunda Zizi meletakkan nampan berisi minuman itu dihadapan tamunya ini yang berjumlah lima orang.


''Di minum kak.''


''Hem,'' jawabnya hanya dengan deheman saja. Seperti bunda Zizi tiada harganya sama sekali dihadapan mereka.


Arta geram melihat nya. ''Abang!'' panggilnya pada Tama.


''Apa Dek? Mana yang belum bisa? Ini udah tapi,'' jawab Tama sembari melihat isi PR Arta.


''Bukan! Bukan ini yang ingin adek bilang. Adek cuma mau bilang, kalau kakak disini pastilah orang yang telah menghina Abang akan dijaga habisi olehnya! Mereka belum kenal aja sama Kak Annisa! Kenapa kakak nggak pulang sih Bang?!''


Tama tersenyum, ''Kakak mu kan masih sekolah di pesantren. Dua bulan lagi baru ia pulang. Dua bulan lagi kan ia ujian?? Sama seperti kamu kan ya?''


Arta mengangguk. ''Iya bener! Tapi apa yang terjadi sekarang ini membuat adek begitu kesal pada mereka semua! Datang-datang bukannya membawa makanan atau apapun itu, ini masih dikasih santapan rohani yang tidak jelas!'' ketus Arta begitu kesal pada keluarga bunda Zizi itu.


''Arta! Kamu tidak boleh ngomong kayak gitu! Sebaik apapun kami, kami ini tetap keluarga mu! Tak kan putus air di cincang Arta!'' tukas Uwak Nita begitu kesal kepada Arta.


Arta terkekeh sumbang. Begitu pun dengan Syakir. ''Cih! Baik katanya bang?? Baik apanya? Jelek iya!'' ketus Arta

__ADS_1


Tama terkekeh. ''Udah. Siapkan dulu PR kamu. Setelah ini Abang harus pulang. Kak Mitha sendirian di bengkel hanya ada bang Anto disana. Ayo, siapkan PR kamu. Mumpung ada Abang disini,'' imbuh Tama pada Arta..


Arta mengangguk, ''Ya, tentu saja. Bukan seperti mereka! Sekali datang udah sok ngajarin air tak putus di cincang! Emang siapa bilang kalau air itu bisa di cincang?! Aneh tuh orang!''


Syakir dan Tama tertawa. Begitu pun dengan Bunda Zizi yang saat ini sedang berada di dalam kamar. Ia sedang menyuapi ayah Emil makan. Pria paruh baya itu pun ikut terkekeh.


''Anak kamu Dek!''


Bunda Zizi tertawa. ''Biarin aja Bang! Mereka pantas mendapatkan ucapan ketus dari Arta. Bukan sekali dua kali loh. Udah sering kali. Terkadang aku bosan dengan saudara sepupu ku itu. Entah dari mana bapak mendapatkan saudara julid kayak begitu? Heran aku!'' ketus bunda Zizi pula.


Ayah Emil pun ikut tertawa lagi. ''Kamu Dek. Kalau kedengaran orangnya malu loh.. kamu bakalan di Omelin sama mereka!'' ayah Emil tertawa lagi.


''Udah ih. Sebaiknya kamu hidangkan makan siang untuk mereka semua. Tama juga. Ajak ia makan. Kita harus berterima kasih kepada nya. Karena dia telah menolong kita. Pergilah.''


''Ya, Abang sudah cukup nih makannya ?''


''Sudah. Tinggal minum obat aja. Pergilah. Abang bisa minum obat sendiri. Urusi dulu tamu julid kita itu!''


Bunda Zizi tertawa lagi. ''Ya, ya, ya. Sebenarnya malas sih. Tapi ya.. mau gimana lagi??'' kata bunda Zizi sambil terus keluar dari kamar nya.

__ADS_1


Tiba di luar, ia melihat jika tamunya itu sibuk dengan ponselnya. ''Cih! Katanya ingin menjenguk bang Emil. Tapi apa itu?! Mereka sibuk sendiri!'' ketus bunda Zizi pada diri sendiri.


Ia berlalu ke dapur dan mengangkat makanan untuk ketiga orang yang sedang mengisi PR di depan tivi. ''Makan dulu nak. Sudah masuk waktu tengah hari! Ayo Tama. Makan dulu nak.''


Tama tersenyum, ''Iya Bunda. Ayo kita makan Dek. Abang udah lapar sedari tadi.'' Seloroh Tama pada kedua adiknya.


Syakir dan Arta tertawa. Sementara Uwak Nita menatap tak suka pada Tama. ''Zi! kami tidak kamu hidangkan makan??''


Bunda Zizi menoleh. ''Untuk siapa?? Untuk kalian begitu?! Kalian datang kesini ingin menjenguk suamiku atau sibuk dengan hal kalian sendiri?!''


''Ya.. kami ingin menjenguk suami kamu lah. Masa' iya kami sibuk sendiri sih. Kami itu tahan bela-belain kesini karena ingin menjenguk suami kamu! Tapi mana suami kamu?! Jangan kan keluar, batang hidungnya pun tidak terlihat? Apanya mau di jenguk coba?!'' ketus Uwak Nita pada bunda Zizi.


Bunda Zizi terkekeh sumbang. ''Oh ya? Kalian ingin menjenguk suamiku ?? Apa yang kalian bawa saat menjenguk suamiku?!'' ketus bunda Zizi semakin tidak bersahabat pada sepupunya ini.


''Lah... kamu ingin dibawakan sesuatu toh.. kenapa nggak bilang sih Zi? Kami kan bisa membelinya tadi diluar! Kamu ini!'' ucapnya sambil Terkekeh-kekeh.


Bunda Zizi merengut masam. ''Kalau ingin menjenguk ayahku, lain kali bawa buah tangan uwak! Jangan hanya bertandang membawa badan buntal Uwak saja kesini! Uwak pikir, tubuh Uwak itu enak di makan apa?! Yang ada tuh ya? Eneg aku lihatnya! Masa' iya jenguk orang sakit tapi harus dikasih tau dulu sama yang punya rumah agar bawa sesuatu?! Lebih baik Uwak pulang sana? Buat semak saja!'' ketus Arta tak suka pada uwaknya itu.


''Betul sekali kamu Dek. Mana ada sejarahnya, ingin jenguk orang sakit itu kita harus ngomong dan kasih tau ingin beli apa?! Itu tak tau diri namanya! Seharusnya Uwak paham tentang itu! Atau.. Uwak datang kesini karena terpaksa? Atau karena ingin mengungkit kejadian satu bulan yang lalu? Yang mana seluruh keluarga kalian ditahan di kantor polisi karena kasus penipuan dan perampokan?! Itu tujuan kalian datang kesini?!''

__ADS_1


''Jika memang iya, lebih baik kalian pergi dari sini! Kami tidak membutuhkan keluarga tukang tipu seperti kalian! Pergi kalian! Datang dengan alasan menjenguk, tak taunya ingin mengungkit kejadian sebulan yang lalu! Pergi kalian!'' usir Arta begitu marah pada Uwak Nita.


__ADS_2