
''Arta!!!!''
''Apa!!!! Tidak suka???? Kalau tidak suka, kalian tau kan dimana pintu keluar rumah kami?!'' ketus Arta semakin tidak suka dengan uwaknya ini.
''Kau...!!''
''Apa!! Pergi kalian dari rumah ini! Kehadiran kalian tidak di butuhkan dirumah ini! Kehadiran kalian dirumah ini hanya membuat mataku semak saja! Apa kalian tidak bosan?! Setiap kali datang hanya ingin menunjukkan kebaikan kalian yang hanya seujung kuku?! Kalian lihat Abang kami ini! Bahkan kebaikannya tidak setara jika dibandingkan dengan kebijakan kalian semua?! Kebaikan apa yang sudah kalian lakukan hingga kalian ingin mengungkitnya berulang kali?! Aku rasa itu tidak ada! Jalanin datang hanya untuk menunjukkan kalian lah yang paling hebat dan paling waaauuww!!! Tapi sayang! Kebaikan yang kalian lakukan itu tidak sebanding dengan kebaikan Abang ku ini! Abang yang kalian panggil tua karena memang sudah tua! Kalian pikir kalian itu masih muda?! Kalian itu sudah bau tanah! Sudah bau kubur! Sebentar lagi pun bakalan masuk ke pintu kubur! Cih! Masih berani-beraninya mengaku baik kepada keluarga kami! Pergi kalian dari rumah ku! Ini yang terakhir kalinya kalian menginjakkan kaki di gubuk susah kami ini! Kalian orang kaya tidak pantas bertandang ke rumah miskin seperti kami ini! Pergiiiii!!!''
Deg!
Deg!
''Arta!!'' tegur ayah Emil yang sudah berdiri di depan pintu kamar miliknya.
Arta menoleh pada ayah Emil yang saat ini sedang menyapanya dengan raut wajah datar. Bunda Zizi yang masih tertegun karena ucapan putra keduanya itu.
''Arta... Dek??'' panggil ayah Emil bersamaan pada Arta dan Bunda Zizi.
__ADS_1
''H-hah?? I-iya Bang! Arta. Duduk. Makan dengan tenang. Kamu juga Syakir! Tama?''
''Iya Bunda! Ayo Dek, kita makan! Abang udah lapar loh..''
Syakir terkekeh tapi tidak dengan Arta. Wajah itu datar saat ini. Ia di dudukkan di sebelah Tama dan Tama yang menyuapi ia makan. Arta menerima dengan lapang hati. Ia tidak menolak keinginan Tama yang menyuapinya makan.
Setetes bulir bening menetes di pipi halus Arta. Tapi tidak terdengar suara isakan tangis nya. Tama mengusap bulir bening yang mengalir semakin deras di pipi Arta. Arta sesegukan.
''Aaa.. lagi! Kamu harus kuat! Kamu harus banyak makan! Kamu harus kuat menghadapi cobaan hidup ini. Kamu ingat seperti kakak mu Annisa bukan??''
Arta terkekeh di sela-sela tangisnya. Begitu pun dengan Syakir. Mereka bertiga terkekeh-kekeh jika sedang mengingat Annisa.
Ayah Emil menarik sedikit ujung bibirnya. Ia menatap datar pada sepupu bunda Zizi yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan sinis nya.
''Jika tujuan kalian datang kesini hanya untuk menunjukkan kesombongan kalian, maka kalian berhasil! Kalian patut di hadiahi jempol ke bawah! Saya heran sama kalian?! Kenapa kalian sedari dulu tidak menyukai kehadiran ku yang sudah menjadi suami Zizi?! Apakah pria tua seperti ku ini sangat hina di mata kalian?! Apakah aku tidak bisa berubah menjadi seorang pria yang lebih baik lagi?! Apakah aku ini begitu hina ataukah aku ini hanya kotoran saja Dimata kalian?! Sebenarnya apa yang menjadi alasan kalian hingga kalian menolak kehadiran ku?! Boleh aku tau Kak Nita yang terhormat???''
Sepupu bunda Zizi terdiam. Ya menatap datar pada ayah Emil yang saat ini sudah berjalan perlahan mendekati kedua anak dan menantunya dibantu papah oleh Bunda Zizi.
__ADS_1
''Jelaskan Kak! Agar aku tau dimana letak kesalahan ku selama ini! Apakah aku ini sudah lancang mengambil Zizi dari kalian?! Bukankah seorang wanita yang sudah cukup umur itu memanglah harus menikah?! Atau... inilah yang menjadi alasan kalian, karena Zizi lebih memilih pemuda blangsak seperti diriku dibandingkan dengan pemuda yang kalian jodohkan yang ternyata pemuda itu tukang pemain wanita diluar sana?!''
Deg!
Deg!
Uwak Nita terkekeh sumbang.
💕💕💕💕
Sambilan nunggu cerita bang Tama update, mampir dulu yuk ke karya teman aku yang satu ini.
Noh, cus kepoin!
Like, komen, kembang, vote dan rate selalu othor tunggu dari kalian semua! 😘😘
__ADS_1