
''Hahaha.. kamu ini ada-ada saja. Ayo kita makan dulu. Tadi kamu bilang apa? Kita kurang ajar? Karena apa??'' tanya Tama pada Annisa yang kini sedang minum susu coklat kesukaannya.
''Srrruuppp.. Ah... nikmatnya minum susu coklat di siang hari. Ehem, ya.. kita kurang ajar dan Allah lah. Emang Abang pikir kita kurang ajar sama siapa?'' tanya njisa dengan segera menyiapkan makanan di piring yang berisi makanan versi jumbo itu.
Tama yang sedang menyeruput Kopi susu nya pun menoleh pada Annisa. ''Maksud kamu?'' tanya Tama lagi pada nnida yang saat ini sedang mengunyah makanan.
Annisa menelan makanan itu dengan cepat. ''Maksudnya.. Allah itu udah kasih kita segalanya. Kesehatan, rezeki yang melimpah seperti saat ini. Kita sedang makan dengan nikmatnya. Sedang diluar sana masih banyak orang dibawah kita yang harus mengais dulu untuk makan. Dari pagi hingga malam hari. Tetapi kita? Kita sudah diberikan segalanya oleh Allah. Tetapi tetap saja kita selalu terlambat untuk memuja dan menyembah Nya..'' lirih Annisa dengan mata berkaca-kaca.
Tama menoleh pada Annisa, ia menghela nafasnya. ''Benar. Kita ini memang makhluk yang sangat kurang ajar pada Allah. Ketika kita tidak punya apapun, kita meminta sebanyak dan sekuat kita dengan senganya Allah mengabulkan. Tetapi ketika semua kebutuhan kita tercukupi, kita malah lalai dalam berterima kasih kepada Nya.. ya.. Abang sadar. Abang pun banyak melakukan kesalahan.. Kamu benar sayang..'' lirih Tama dengan dada yang sesak.
Keduanya berhenti makan dan menyadari kesalahannya mereka. Ya, bentar sepeti yang Tama katakan.
Allah itu memanglah sangat baik bahkan lebih baik. Allah mengabulkan setiap dia yang kita panjatkan seikhlas hati. Kita menangis meraung meminta kepada Nya untuk memenuhi segala kebutuhan kita agar kita hidup dengan berkecukupan.
Tetapi ketika Allah memberikan semua itu kepada kita, kita sebagai manusia ini malah lalai dalam berterima kasih pada Nya.
Setiap kebutuhan dan keperluan kita Allah penuhi. Apapun itu. Tidak terkecuali. Allah memberikan apa uang kita butuhkan bukan yang kita inginkan.
Walau banyak keinginan yang belum terwujud itu pertanda nya Allah tau mana yang terbaik buat kita. Terkadang kita saja yang sering su'udzon sama Allah.
Padahal Allah itu tau mana yang terbaik dan mana yang tidak untuk kita. Seperti yang tertuang di dalam Al-Qur'an yang artinya :
__ADS_1
''Diwajibkan atas kamu pertempuran. Padahal penyelesaian adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal dia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui ." Q.s. Al-Baqarah ayat 216
Dan juga yang tertuang didalam Surah Ath-Thalaq Ayat 2-3 yang artinya :
"Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar . Dan berikan rezeki dari arah yang tak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu .”
Dua surah ini menunjukan jika kita tidak perlu takut dan juga merasa kekurangan akan rizki yang Allah berikan. Semua itu sudah menjadi ketetapan Nya.
Setiap yang bernyawa sudah di tetapkan rezekinya masing-masing. Allah lebih mengetahui apa yang kita butuhkan dari pada diri kita sendiri.
Tama dan Annisa yang termenung dengan ucapan mereka sendiri kini terkejut kala ponsel mereka berdering bersama.
Tadi, saat ia turun menuju ruang makan. Tama sengaja membawa ponsel miliknya dan Annisa. Dan benar. Dua ponsel itu saling berbunyi bersahut-sahutan dengan nada dering suara orang adzan. Senandung adzan dari Syakir ketika ia ikut lomba dan menang dengan juara satu terbaik tingkat kabupaten.
"Abang, Mak yang nelpon. Mungkin mereka menghubungi kita karena kontak batin kali ya?" Annisa tertawa.
"Entahlah. Ehem, Assalamualaikum Dek? Iya, lusa kakak baru kesana. Iya, iya. Beneran ih! Mana ada Kakak bohong! Selama ini ada kakak bohong rupanya sama kamu?? Eh? Iya Yah. Insyaallah lusa kami baru ke tempat Ayah ya? Ayah bisa bersabar kan? Tentu. Ya, waalaikum salam..." lirih Annisa mendadak sendu.
Ia yang tadinya ceria kini tiba-tiba saja mendadak sendu seperti itu. "Ya, hallo Mak. Wassalamu'alaikum salam . iya Abang dirumah. Batal datang? Hoo.. baik. Tak apa. Kami baik-baik saja kok. Iya, ini lagi makan sama Adek! Iya Mak.. lusa kami baru ke tempat Ayah. Iya Abang tau... Ya. Waalaikum salam..." lirih Tama sama seperti Annisa saat ini.
Keduanya terdiam membisu setelah panggilan telepon dari Syakir dan Mak Alisa.
__ADS_1
"Kita berdua harus kerumah ayah besok pagi Bang.."
"Kita berdua harus kerumah Ayah besok pagi sayang.." ucap mereka bersamaan.
Tama dan Annisa saling pandang. Keduanya pun terkekeh tetapi sendu. "Baik, nanti malam saja kita kesana. Firasat adek mengatakan ada hal buruk yang akan menimpa keluarga kita." Ucapnya begitu serius.
Tama mengusap air mata Annisa yang tiba-tiba saja jatuh di pipi mulusnya. "Ya, bersiaplah sedari sekarang. Habiskan dulu makanan mu. Setelahnya kita bersiap. Apa.. Palung surga mu masih sakit??" tanya Tama sambil menatap dalam pada Annisa.
Annisa menggeleng. "Nggak Bang.Udah lumayan kok ini. Kan udah mandi dengan air hangat tadi. Udah sedikit berkurang kok. Ayo kita makan. Setelah ini kita harus bergegas. Adek punya firasat buruk Bang!" jawab Annisa hingga membuat Tama menoleh padanya dengan serius.
"Apapun yang terjadi semua itu sudah menjadi ketetapan Allah untuk ayah. Pesan Abang, temani ayah. Mungkin inilah keinginan nya. Ingin berkumpul dengan ketiga anaknya. Abang hubungi saudara kita yang lain ya? Makanlah. Habiskan makanan mu," Annisa mengangguk.
Entah kenapa pikiran dan hatinya sejak dimana ayah Emil berkata demikian padanya saat resepsi malam tadi, membuat Annisa merasakan Ada hal buruk yang akan terjadi di Keluarga nya.
Mereka pun bergegas makan dan bersiap akan menuju kerumah Ayah Emil. Karena Syakir telah memberi kabar jika Ayah Emil sangat ingin ketiga anaknya menginap dirumahnya.
Entah apa. Annisa pun tidak tau. Yang jelas Annisa saat ini begitu gelisah. Sesak di dada dan pikirannya membuat ia kurang fokus. Hingga saat ia mencuci piring, hampir saja piring itu terjatuh jika tidak Tama yang menyambutnya.
Annisa terkejut. Tama memeluk Annisa. "Sabar... semua pasti baik-baik saja, hem?"
"Ya, tentu Bang. Ayo kita bersiap. Sebelum Maghrib kita harus tiba di rumah Ayah."
__ADS_1
"Tentu. Kamu bersiaplah. Abang ingin menghubungi saya kita yang lain. Tadi cuma Ira yang ngangkat. Ia pun sudah duluan kesana. Lana belum lagi. Mak bilang tadi, ia sedang ada tugas dari Komandan nya." jelas Tama pada Annisa.