Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Sandiwara berujung penderitaan


__ADS_3

Budayakan like setelah membaca cerita recehan othor ini. Jangan Hanya komen doang! Othor marah nih! πŸ˜’


✌️✌️


Happy reading..


🌺🌺🌺🌺


Tama mendekati Papi Gilang dan mengambil kertas putih itu dari tangannya. Ia membacanya.


Deg!


''Selamat tinggal semuanya. Kami berempat pulang ke Medan sore ini. Jika masih di berikan umur panjang, maka kalian akan bertemu dengan kami lagi. Tapi jika tidak, inilah waktu terakhir kami bersama kalian semua.. kami pulang.. maaf .. sudah membuat kalian kesusahan selama mengurusi kami.. kami pamit. Assalamualaikum..''


''Selamat tinggal bang Tama.. semoga kita berjumpa lagi.. kalau kita bertemu nanti, jangan lupa jatuhkan talak padaku. Agar kamu bisa menikahi gadis pilihan kedua orangtuaku. Selamat tinggal Abang.. Semoga kamu bahagia hidup bersama nya. Annisa.''


Brrruukkk..


''Tama!!!'' pekik Kakek Yoga dan Nenek Alina.


Tama jatuh tak sadarkan diri. Tubuhnya tiba-tiba saja panas. Mendadak semua orang panik. Kakek Yoga mendekati Tama dan menepuk-nepuk pipi pemuda tampan itu. Tapi Tama tetap tidak sadarkan diri.


Mak Alisa dan Papi Gilang panik bukan main. Begitu juga dengan Rayyan dan Algi. Seseorang mematung di depan pintu rumah Kakek Yoga. Ia menatap terkejut pada Tama yang jatuh tak sadarkan diri dengan wajah memucat.


''Abang! Bangun Nak! Kita bawa kerumah sakit! Ayo Bang! Algi! Bantu Abang kalian! Mami mau hubungi Kakak kalian dulu untuk menghubungi kedua Kakak kalian yang kabur gara-gara sandiwara!''


Deg!


Papi Gilang dan Kakek Yoga membeku ditempat saat mendengar ucapan ketus dari Alisa. ''Ayo! Cukup aku melihat kedua putriku pergi! Tapi jangan lagi putraku yang lain! Jauh sebelum kalian ada, Tama lah putra sulung ku! Kamu tidak mau membantu Mami, Ar Rayyan Putra Bhaskara?!? Kamu harus tanggung jawab!''


Deg!


Deg!


Lagi, jantung itu berdegup tak karuan. Rayyan mengangguk. Dibantu oleh Kakek Hilman dan Kakek Karim, Tama di gotong untuk dibawa ke mobil dan di larikan ke rumah sakit.


Husna.


Gadis itu berdiri mematung didepan pintu menghalangi jalan mereka semua. Mak Alisa menatap dingin padanya.


''Minggirr!! Kau tidak ada urusannya disini! Tama, menantuku! Jika kau berharap, Tama akan menjadi calon suami mu? Maka lupakan itu! Sampai kapanpun, aku Mak nya! Tidak akan mengizinkannya! Dan ya, siapa yang menjodohkan mu semalam! Menikahlah dengan nya!!''

__ADS_1


Ddduuaaarrr..


''Alisa!!''


''Apa?!?! Kamu bukan yang menjodohkan putraku dengan gadis ini?! Lihat sekarang?! apa yang terjadi dengan putra dan putriku! Semuanya ini karena ulahmu! Kamu yang menjodohkan mereka! Kenapa tidak kamu saja yang Menikahi nya?! Maka.. lepaskan Aku!''


''Alisa!''


''Alisa!''


''Sayang...'' lirih Papi Gilang melemah.


Husna berdiri mematung mendengar ucapan wanita paruh baya yang ternyata Mak angkat dari lelaki yang ia kejar.


''Minggirr! Kau menghalangi jalanku! Hallo Kak! Assalamualaikum..''


''Waalaikum salam Mak?''


''Kedua adikmu dan juga kedua anakmu sudah pulang ke Medan sore ini. Hubungi mereka! Susuli di terminal! Jika sudah kabari Mak. Mak akan balik setelah Abang mu keluar dari rumah sakit! Jangan banyak tanya! Cukup dengarkan saja! Kamu dengar Kak?hubungi adikmu, Annisa! Dia kabur dari kami semua karena sandiwara seseorang yang sengaja memicu perseteruan di dalam rumah tangga nya! Sandiwara berujung penderitaan! Assalamualaikum!''


Tut!


''Waalaikum salam...'' sahut Ira dengan wajah terkejut dan juga melongo mendengar serentetan ucapan Mak Alisa tanpa jeda.


''Hah? Iya, Mak yang nelpon. Katanya adek dan anak kita sedang dalam perjalanan ke Medan. Ada sesuatu yang terjadi disana. Sekilas tadi Kakak melihat jika bang Tama jatuh terkapar dilantai dan sedang disadarkan oleh Nenek dan Kakek. Ada apa ya By??'' tanya Ira pada Ragata.


''Hemm.. Papi. Palingan Papi ini yang cari masalah. Kamu kan tau. Seperti apa usilnya Papi kita itu? Kakak yakin, semua ini pasti rencananya. Namun Gatot! Alias gagal total! Karena adek lebih memilih pergi dan bang Tama tumbang!'' jawab Ragata. Ia terkekeh setelah mengatakan hal itu.


Ira termenung.


''Bisa jadi. Biar ku hubungi dulu kedua adikku itu. Aku sangat kenal Annisa. Ia tidak mungkin pergi jika hatinya tidak terluka. Begitu juga dengan Nara. Mereka itu sama persis kekakuan nya. Kita coba dulu. Alhamdulillah, tersambung.'' Kata Ira pada Ragata.


Sementara di perjalanan, kedua adik kakak itu sedang bersenda gurau dengan kedua keponakan mereka. Supir kenalan Annisa itu tersenyum.


''Kamu kok pulang mendadak sih Dek? Padahal kan Abang masih ingin di kampung! Kamu ih!'' gerutunya sambil terus menyetir mobil Xenia miliknya.


''Hehehe.. namanya udah tugas memanggil Bang! Abang juga! Ngapain ikutin aku segala sih sampai ke kampung lagi! Apa itu Nenek lampir nggak marah kalau Abang pulang nggak bawa uang???''


Seseorang itu tertawa terbahak. ''Kamu Dek! Kurang asam banget sih sama bini Abang?? Begitu-begitu, dia itu baik sama kamu! Lihat tadi kan? Gimana? Dia setujukan kalau Abang ikut pulang bersama kamu??'


Annisa memutar bola mata malas. ''Ck! Bang Fadli sama kak Nadia itu memang cocok! Kalian klop banget! Tapi giliran Abang nggak punya uang, Abang di tendang kan sama tuh nenek lampir??''

__ADS_1


Pemuda yang bernama Fadli itu tergelak keras. Nara terkikik geli. ''Ada uang Abang kusayang... tak ada uang Abang ku tendang!'' celutuk Nara sambil menyanyikan bait lagu jaman dulu tentang kasih sayang kalau ada uang.


Buhahahaha ...


Mereka semua tertawa terbahak. Sementara itu ponsel Annisa berdering tapi kecil sekali. Ziara yang tau langsung saja merogoh ponsel Annisa dan memberikan nya pada Nara.


''Onti! hapenya bunyi!'' katanya pada Nara sambil menyerahkan ponsel itu pada Nara.


Annisa mengangguk, sekilas ia melihat jika Ira yang sedang menghubunginya. ''Assalamu'alaikum Kak..''


''Ummiiii... Abiii... Adek lagi pulang kampung cama ontiiii!!!'' pekik Arga saat melihat kedua orang tuanya


Annisa dan Nara tertawa. ''Assalamu'alaikum nak ... dijawab dulu ih salamnya!'' gerutu Ira dari sebrang sana.


''Dek... kalian jadi pulang ke Medan sore ini??'' tanya Ira hati-hati takut menyinggung Annisa dan Nara.


Nara tersenyum, ''Jadi Kak.. Ini lagi dijalan Sama bang Fadli.'' sahut Nara sambil menunjukkan wajah Fadli pada Ira.


Fadli mengolok Ira dengan menjulurkan lidahnya. Ira dan Raga tertawa. ''Awas adikku lecet Bang! Kalau lecet sedikit saja akan ku bilang Sama kak Nadia!'' kata Ira sambil berpura-pura marah.


Fadli terkikik geli. ''Tenang sayang .. Abang akan jaga kedua bidadari cantik ini! Apa lu? melotot kayak gitu Sama Abang? Nggak suka??''


Ragata melototkan matanya. Ira, Annisa dan Nara tertawa bersama karena Fadli telah berhasil menggoda Ragata.


''Ya sudah, kalau sudah tiba langsung kerumah ku ya, Bang?''


''Tentu sayangku. Mmmuuuaacchh..'' goda Fadli pada Ira.


''Bang Fadli! Saya pecat kamu dari kantor saya!!''


Deg!


Buhahahaha...


Semua yang ada disana tertawa melihat Ragata melotot garang pada Fadli. Ia pun ikut Terkekeh juga melihat tingkah absurd Bang Fadli. Karyawan Ragata di perusahaan Hariawan. Sekaligus tangan kanan Ragata.


Bersyukur nya Annisa ketika di hubungi oleh Fadli karena melihat status Annisa yang di posting Nara tadi.


Tau, jika Annisa sedang tidak baik-baik saja saat ini. Dan benar, saat tiba disana, ia melihat Nara berlari kepayahan sambil menggendong si kembar.


Secepat kilat Fadli menggendong nya dan membawa mereka berdua kerumahnya. Tiba disana mereka disambut dengan hangat oleh Nadia yang terkenal galak pada siapa pun, termasuk dulunya Ira.

__ADS_1


Sementara Tama, saat ini tubuh tegap itu sedang tak berdaya. Dari mulutnya terus terdengar suara igauan memanggil Annisa.


Semua yang ada disana merasa bersalah. Terutama Papi Gilang, Kakek Yoga dan Rayyan yang memancing huru hara itu.


__ADS_2