
''Ayo ih buruan. Ntar Bunda dan Mitha nyariin loh..''
Tama memutar bola mata malas menatap Annisa. ''Tadi, siapa yang buat lama? Abang gitu?'' ketus Tama masih dengan berwajah masam.
Syakir terkikik geli. Begitu juga dengan Annisa . ''Hadeeuuuhh.. begini nih punya istri masih kecil! Tapi ya gimana dung?? Habisnya Cintaaaaaa...'' celutuk Tama lagi semakin membuat Annisa dan Syakir tertawa bersama.
Tama menghela nafas berat. Walaupun begitu, ia tersenyum melihat adik kakak itu bisa tertawa lepas seperti itu. Tidak seperti tadi. Menangis seorang diri tanpa ada yang menemani. Sementara kedua orang tuanya selalu menyalah kan atas perbuatannya yang tidak pernah ia perbuat.
Cukup lima belas menit mereka di jalan menggunakan mobil Tama, kini mereka bertiga sudah tiba di toko ponsel yang paling dekat dengan rumah sakit.
''Ayo turun. Kamu tinggal pilih. Mau yang mana?'' kata Annisa pada Syakir.
Syakir tertegun melihat sederetan ponsel di dalam etalase yang terpajang itu. Pertama kali matanya tertuju pada ponsel merek Samsuuung Pro A13 Galaksi.
Annisa tersenyum, ia tau kemana arah mata adik kecilnya itu. Tama melihat saja. Ia tidak ambil pusing. Toh, Annisa yang ingin membelikan nya.
''Permisi kak. Saya mau beli ponsel yang berwarna gold itu.''
''Yang ini??'' tunjuknya
''Ya, yang itu. Bener kan Dek?'' Syakir tersenyum dan mengangguk.
Annisa pun ikut tersenyum, ''Ini aja kak? Nggak mau kartu nya sekalian??'' tanya pemilik ponsel itu.
Annisa mengangguk, ''Ya, kartunya satu. Sekalian bajunya satu. Biar nggak polos amat itu ponsel. Masa iya, kita aja yang dipakai kan baju. Lah dia?''
__ADS_1
Pemilik ponsel itu terkekeh dengan ucapan Annisa. Tama pun ikut Terkekeh. Syakir terus saja tersenyum. Annisa mengeluarkan dompet nya dan memberikan kartu tipis itu kepada pemilik toko.
Pemilik toko itu tertegun namun, setelah nya ia tersenyum. ''Sebentar ya Kak. Kode PIN!''
''Ho, oke! Udah.'' kata Annisa saat ia sudah menekan kode pin kartu tipis nya.
Ia menoleh pada Tama yang sedang berbicara melalui sambungan ponsel mahal miliknya. Annisa bisa mendengar jika itu adalah Mitha.
''Ini kak. Dan ini bonusnya!'' kata pemilik toko ponsel itu sembari memberikan satu buah gantungan kunci pada Annisa. Dan disambut senang oleh Annisa. Tama pun tiba di sana.
''Sudah selesai??''
Annisa mengangguk dan tersenyum, ''Sudah. Ini udah di tangan Syakir!'' tunjuk Annisa pada Tama.
Annisa tertawa begitu juga dengan Syakir. ''Kak??'' panggil Syakir pada Annisa.
''Hem, ada apa? Ada yang kamu inginkan lagi? Bilang aja. Mumpung kita lagi di jalan ini.''
Syakir menatap dalam pada Kakaknya itu. Matanya berkaca-kaca. ''Lah, loh, loh. Kok nangis?? Ada yang salah ya sama ucapan kakak? Kakak kan bilang yang-,''
Grep!
Annisa terkejut. Begitu pun dengan Tama. Syakir menangis lagi. ''Hiks. Makasih kak. Udah mau beliin ponsel buat Abang. Memang ini yang Abang butuhkan untuk sekolah Abang. Tapi Mak nggak percaya sama omongan Abang. Arta ayah belikan. Tapi Abang?? Hiks.. makasih Kak...'' Isak Syakir dalam pelukan Annisa.
Annisa memeluk erat tubuh adiknya itu. ''Untukmu, apapun akan kakak lakukan. Selagi itu memang kamu perlukan, maka akan Kakak berikan. Tapi jika tidak, kakak tidak akan mengizinkannya! ingat Dek, ponsel itu bisa menghancurkan dan bisa juga menghasilkan! Kamu bisa melukis. Keluarkan bakat kamu di ponsel itu. Dan dapatkan uang. Minta rekening bunda untuk kamu daftar kan. Jika bunda nggak ngasi. Maka kamu akan kakak buka rekening baru. Tapi atas nama Kakak nantinya.''
__ADS_1
Syakir semakin erat memeluk tubuh Annisa. Ia semakin sesegukan disana. ''Hiks. Buka rekening atas nama Kakak aja. Abang nggak mau, Mak nanti ngomel tujuh hari tujuh malam gegara buku rekening itu. Sudah cukup selama ini Abang selalu dimarahi. Tidak lagi kali ini. Abang ingin membuktikan pada Mak, kalau Abang bisa menghasilkan uang. Bukan menghabiskan uang seperti Arta yang selalu menipu Mak dan ayah. Abang nggak gitu Kak.''
Annisa tersenyum, Tama dapat melihat senyum Annisa itu begitu tulus. ''Kakak percaya. Bukankah selama ini kita sering berbagi walau hanya dari telepon umum???'' Annisa Terkekeh saat mengatakan telepon umum.
Syakir pun ikut terkekeh. Padahal saat ini ia sedang menangis. ''Sssrrruuup... hehehe.. uang jajan Abang cuma lima ribu satu hari berbeda sama Arta. Tapi dari uang itu Abang kumpulkan untuk bisa ngomong sama Kakak satu bulan sekali,'' imbuh Syakir terkikik geli saat mengingat nya.
Annisa Terkekeh namun, juga tertegun dengan ucapan Syakir jika uang jajan adiknya itu cuma lima ribu rupiah. Dapat apa uang segitu untuk jaman sekarang ini.
Annisa merogoh dompetnya lagi dan mengeluarkan uang sebanyak satu juta karena hanya itu yang tersisa di dompet nya. Lupa pula tadi untuk menariknya.
Tapi itu tidak mungkin, saat ini Tama bersama nya. ''Ini, untuk uang jajan mu. Kakak cuma punya segitu uang cashnya. Sisanya tertinggal di pesantren. Untuk satu bulan cukupkan??'' kata Annisa sambil menyodorkan uang berwarna merah ke tangan Syakir.
Syakir tertegun Melihat nya. ''Kak??''
Annisa tersenyum, ''Mulai sekarang, kalau kamu membutuhkan sesuatu bilang Kakak ya? Dan ya, kalau bunda sama Ayah ngasi kamu uang jajan ambil aja. Kamu tabung yang itu. Uang itu suatu saat akan berguna untuk mereka. Kakak tau, Ayah udah nggak bisa bekerja lagi sekarang karena penyakit nya itu. Jadi.. kamu tabung uangnya. Setiap bulan akan kakak kirimkan uang jajan untukmu satu juta sebulan.''
Lagi dan lagi Syakir tertegun dengan ucapan Kakak nya ini. ''Tapi.. ini kebanyakan kak untuk satu bulan. Abang biasa hanya 150 ribu saja. Itu sudah cukup kok. Ini Abang kembalikan sisanya.'' katanya pada Annisa.
Ia mengambil uang itu selembar saja. Karena tidak ada yang berwarna biru ia mengambil satu saja. Lagi dan lagi Annisa tertegun dibuat nya. Annisa menatap Syakir yang kini tengah menunduk.
''Dek???''
Syakir tidak menyahut, tapi tangan itu bergetar. ''Mak bilang, Abang nggak boleh banyak-banyak jajan. Nanti bodoh katanya. Tapi kalau Arta, Mak sering ngasih sepuluh ribu satu untuk uang jajan nya. Belum lagi untuk uang sekolah yang untuk apa kata nya. Abang sering ngasih kak. Terkadang pun ketika Uwak Andi datang Abang selalu di berikan uang lebih tapi di ambil oleh Mak lagi. Sedang adek Arta tidak. Ia di bebaskan untuk memegang uang banyak. Hiks.. kalau boleh, Abang ikut kakak aja ya?? Abang nggak mau tinggal bersama Mak dan ayah. Mereka berdua pilih kasih kak. Bawa Abang pergi kak.. hiks.. Abang nggak kuat disana. Sedari adek Arta ada, Mak sama ayah lebih peduli padanya ketimbang Abang. Abang selalu di di kemudian kan. Hiks.. bawa Abang pergi kak.. hiks..''
''Astaghfirullah al'adhimm...''
__ADS_1