
Melihat Annisa mengayuh sepeda Syakir begitu kencang seperti dikejar, Lana dan Tama terkekeh kecil. Disaat hati mereka berempat risau, ada-ada saja ulah kedua adiknya itu. Yang membuat mereka sedikit terhibur karena tingkah Annisa dan Syakir.
Lana mengikuti Annisa dari belakang bersama Syakir yang kini masih saja shock melihat sang Kakak begitu melihat gaya Annisa sepeti pembalap saja.
''Abang?''
''Hem?'' sahut Lana. Kini helm fullface nya udah ia buka. Jadi ia bisa mendengar jelas suara Syakir yang saat ini berada di belakang nya.
''Kakak seorang pembalap ya Bang?''
Lana menoleh pada Syakir sekilas. ''Maksud kamu?''
''Tuh, lihat aja sepeda Abang kayak apa? Maulah sampai kerumah harus Abang betulin lagi kuncinya! Pastilah goyang-goyang itu sepeda??'' ucapnya sedikit kesal pada Annisa yang saat ini sedang mengayuh sepedanya dengan kencang sepeti pembalap saja.
Mendengar itu Lana tertawa. ''Ya, kamu benar. Kakak kamu itu pembalap handal di sekolahnya dulu. Jangan kan balap sepeda, motor pun bisa ia bawa. Bahkan becak pun udah. Mobil aja yang belum. Abang rasa sebentar lagi kakak kamu itu akan bisa bawa mobil! lihat saja gaya nya itu? Seperti seorang professional saja!''
Syakir terkekeh, ''Abang benar!'' sahut Syakir membenarkan.
Annisa semakin cepat mengayuh sepedanya hingga menuju kerumah ayah Emil yang agak jauh masuk ke dalam. Tetapi jalannya luas dan banyak rumah disana.
Annisa tidak takut sama sekali di dalam keremangan malam yang semakin masuk. Lima belas menit kemudian, mereka semua tiba dirumah ayah Emil dengan Annisa yang ngos-ngosan karena kelelahan mendayung sepeda.
Di susul Lana dan Syakir. Terakhir Tama. Halaman rumah Almarhumah Nenek Rima ini begitu luas. Bisa muat tiga mobil bila di parkirkan.
__ADS_1
Dan ya, sudah ada dua mobil disana yang berjejer. Semua tetangga saling pandang. Mereka pun ingin tau ada apa dengan ayah Emil.
Tetapi tidak berani berkunjung karena Bunda Zizi sudah mengatakan jika Ayah Emil sedang kedatangan anak-anak dari mantan istri pertamanya.
Mereka pun pasrah.
''Hosshhh.. hossshh.. pegel nih! Hooshh... hossshh..'' ucap Annisa masih terengah-engah karena kelelahan.
Baju dan hijabnya basah dengan keringat. Ia duduk lesehan di depan pintu yang tertutup karena mereka sadar jika Papi Gilang sedang memimpin sholat Maghrib berjamaah.
''Lewat sini aja kak. Ayo Bang! Kakak harus mandi! Bau keringat! Nggak mau Abang bobok sama Kakak!'' ucap Syakir sengaja menggoda Tama.
Tama melotot. Lana terkekeh, ''Yeee.. siapa juga yang mau bobok sama kamu? heh? Kakak itu mau bobok sama Ayah!''
''Mandi Kak!'' tegur Syakir saat Annisa ingin menemui sang Ayah.
''Ishh.. kakak mau ketemu ayah, Dek! Awas ih!'' gerutu Annisa pada Syakir yang saat ini menariknya masuk ke kamar mandi kamarnya dan Tama yang sudah ayah Emil siapkan.
Rumah ayah Emil sekarang sudah di renovasi. Uang dua ratus lima puluh juta itu Bunda Zizi gunakan untuk merenovasi rumah Almarhumah Nenek Rima dengan membuatnya menjadi dua lantai. Bunda Zizi sendiri yang mendesain nya.
Tama terkekeh kala melihat dua saudara beda ibu itu saling tarik menarik satu sama lain. ''Abang! Bantuin ih! Adek mau ketemu Ayah loh.. masa iya ditarik begini sih?!'' ucapnya pada Tama yang kini sedang tertawa melihat tingkahnya dan Syakir.
Mendengar keributan di dapur Ayah Emil segera menuju dapur. Ia terkejut melihat Syakir dan Annisa saling sikut satu sama lain.
__ADS_1
''Ayo Kak.. mandi dulu ih!''
''Nggak mau! Kakak mau ketemu Ayah! Kamu gimana sih Dek?!'' tolak Annisa masih dengan menyikut leher Syakir dan dilepas lagi, tetapi di sikut lagi oleh Annisa hingga berulang kali.
Ayah Emil tertawa. Membuat Annisa, Tama, dan Lana menoleh bersamaan. ''Ayah!! Iihh.. lepasin Adek!''
''Nggak mau! Kakak itu datangnya Maghrib! Sebelum masuk kerumah itu cuci muka cuci kaki ataupun mandi terlebih dahulu kak.. biar yang ngikutin kakak saat mengayuh sepeda hilang dan hanyut dibawa air begitu loh..'' jelas Syakir sangat gemas dengan Kakaknya ini.
Annisa memutar bola mata malas. ''Memang Bunda sedang melahirkan apa?! Hingga kakak harus buat seperti itu?!'' ketus Annisa semakin jutek saja.
Ayah Emil semakin tertawa. Bunda Zizi menangis. Selama satu bulan ini ayah Emil tidak pernah tertawa lepas seperti itu. Selalu saja murung dan berdiam diri di dalam kamar.
Mak Alisa memeluknya dengan erat. ''Kebahagiaannya sudah datang Zi. Lihatlah. Putri yang dulu tidak ia inginkan, tetapi karena putri itu yang membuatnya tertawa. Semua orang bisa berubah kapan pun. Tetapi ada satu yang tidak bisa kita ubah.. Hah..'' ucap Mak Alisa dengan dada yang sesak. Hingga membuat Papi Gilang mengelus tubuh bagian belakangnya.
''Hiks.. hiks..'' Bunda Zizi terisak.
''Satu yang tidak bisa kita hindari dan kita tolak ialah kematian!''
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...
💕💕💕💕
Like, komen, dan kembang untuk othor ye?
__ADS_1