Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Kamu segalanya dan untuk selamanya


__ADS_3

''Aku juga menginginkan Abang. Bukan yang lain. Seumur hidupku Abang lah pria satu-satunya setelah Papi Gilang dan ayah Emil. Kamu segalanya. Satu untuk selamanya..'' bisik hati Annisa.


Ia menangis di dalam dekapan hangat Tama. Tama masih setia mengelus puncak kepala sang istri yang tertutup hijab.


''Sudah.. jangan menangis. Inilah perjalanan hidup kita. Mana ada jalan yang licin tanpa ada batu kerikil?''


Annisa sesegukan. ''Nggak ada sayang. Bahkan baju batu pun ada juga kuyaknya. Walaupun itu sangat kecil, tetapi jika dibiarkan Maka akan menjadi membesar. Begitu juga dengan kehidupan pernikahan kita. Nggak ada sejarahnya dalam kehidupan rumah tangga lancar.. mulus kayak jalan tol! Wong jalan tol aja yang bebas hambatan tetap ada kerikil kecilnya? Jalan bergelombang nya? Begitu juga dengan kita.''


''Pernikahan ini merupakan ladang pahala yang tiada habisnya. Pahala itu akan habis ketika kita sudah menghadap Nya. Makanya untuk menjemput pahala itu kita akan mendapati ujian di dalam pernikahan kita. Ujian itu bermacam-macam. Salah satunya ya... seperti tadi dan dua Minggu yang lalu itu.''


Annisa mengurai pelukannya dari tubuh hangat Tama. Mata itu sembab dan hidung bangir nya memerah. Tama tersenyum, ''Iya sayang.. salah satunya yang terjadi pada kita ketika di Aceh dan juga saat tadi. Salah satunya itu. Sengaja Allah memberikan ujian itu kepada kita, agar kita lebih kuat lagi dalam ujian selanjutnya.''


''Sama seperti tingkatan level. Semakin tinggi level keimanan kita maka semakin tinggi pula ujian yang kita dapatkan. Sekarang Abang tanya, ketika kamu mendapatkan tantangan yang sangat sulit tetapi hasilnya itu begitu menggiurkan. Apakah kamu kamu akan memilih tatangan itu atau kamu lebih memilih mundur?'' tanya Tama pada Annisa.


Annisa menatap dalam pada Tama. Annisa menoleh pada seseorang di ujung sana yang sedang memperhatikan mereka. Annisa tersenyum dan mengangguk.


Tama menoleh kemana mata Annisa melihat. Ia pun ikut mengangguk dan tersenyum. ''Ayo, jawab dulu pertanyaan Abang. Setelah itu kita makan dan kamu masuk, hem?'' kata Tama lagi.


Annisa tersenyum dan mengangguk. ''Adek memilih tantangan itu. Untuk hasil pikirkan nanti. Yang penting maju dulu untuk memulainya. Jika kita tidak memulai nya bagaimana kita tau hasilnya?? Semakin tinggi kualitas dari tantangan itu maka semakin tinggi hadiah yang kita dapatkan. Maka kita wajib berusaha untuk mendapatkan nya. Itu jawaban adek. Ayo kita makan. Ustdazah Hanim memberikan waktu lima belas menit lagi. Ayo Ma. kita makan. Abang mau apa? Biar adek ambilkan!'' ucap Annisa.


Dengan tangan terus cekatan mengambilkan piring, mangkuk cuci tangan serta nasi yang ada didalam rantang ia letakkan ke piring Tama dan Mama Linda.


Tama tersenyum begitu juga dengan Mama Linda. ''Terimakasih sayang. Jawaban mu memuaskan ! Tapi ingat, itulah ujian didalam pernikahan kita. Semakin kuat cinta kita. Maka semakin banyak pula ujiannya. Dan ya, hadiahnya adalah kebahagiaan yang hakiki untuk kita berdua. Abang menyayangi mu, sayang. Sangat menyayangi mu. Kamu, satu untuk selamanya. Cup.'' Tama mengecup lagi dahi Annisa untuk yang kesekian kalinya.


Mama Linda terkekeh. ''Udah ih! Kapan makannya ini. Asik mesra-mesraan aja. Hem.. dasar! Kalau ada Papa, Mama pun bisa mesra-mesraan nya!'' ketus Mama Linda pura-pura jutek.

__ADS_1


Bibir paruh baya itu mengerucut sebal. Tama mendekati nya dan melabuhkan kecupan sayang di dahi dan kedua pipi Mama Linda. ''Abang sayang sama Mama. Jangan ngomong gitu. Nanti menantu Mama ini kabur lagi, mau? Payah Ma. Dapetin mutiara yang satu ini! Harus nyebrangi tujuh samudera untuk mendapatkan nya!'' seloroh Tama yang mendapat hadiah cubitan sayang di perut sixpack nya.


Mama Linda tertawa melihat tingkah pasangan beda usia itu. Ia ikut bahagia dengan Tama dan Annisa. Akhirnya Masalah mereka berdua selesai juga.


Mengingat Annisa, Mama Linda sedikit khawatir. Annisa terlihat dewasa dan tegar Hanya di depan mereka saja. Padahal buktinya, Annisa masihlah anak SMA.


Yang dimana jiwanya itu masih labil. Masih terbolak balik dan terombang ambing. Tapi tidak untuk cintanya. Cintanya tulus. Sedari kecil hingga sekarang, Mama Linda bisa melihat nya.


Annisa gadis yang lemah. Butuh perhatian banyak dari mereka. Terkadang ia sengaja bersikap dewasa karena keadaan yang sedang menimpanya. Ia sangat mengenal siapa Annisa.


Terutama Mak Alisa. Wanita paruh baya yang dulu pernah marah saat melihat ayah Emil lebih mementingkan Mama Linda yang saat itu memang sedang membutuhkan bantuan karena Tama sedang sakit dan sangat merindukan Papa Fabian.


Mereka dipertemukan pada saat Mak Alisa dalam masalah dan juga ayah Emil yang membuat ulah. Semua kejadian itu seperti ikatan takdir untuk Tama.


Ia seperti di tuntun untuk bisa bertemu dengan Mak Alisa. Masih teringat oleh Mama Linda, saat Tama kecil menangis pilu ketika begitu merindukan Mak Alisa dan ayah Emil.


Tama kecil begitu terluka. Ia menjerit, menangis dan berteriak memanggil nama Ayah Emil dan Mak Alisa. Mama Linda yang bingung harus apa, dengan sangat terpaksa ia membawa Tama kerumah Mak Alisa.


Pukul sudah menunjukkan setengah dua belas malam waktu itu. Tapi itu tidak menyurutkan langkah Mama Linda untuk mempertemukan mereka.


''Hiks.. Abang mau Mak Alisa. Abang mau tinggal disana aja! Nggak mau sekolah disana! Mereka jahat! Selalu bilangin Abang nggak punya ayah. Abang punya ayah kan Mak??'' tanya Tama kecil pada Mak Alisa.


Mata Mak Alisa berkaca-kaca saat mendengar ucapan Tama kecil waktu itu. Ia memeluk erat tubuh Tama dan mengusap surau hitam Tama penuh sayang.


''Dengarkan Mak, nak. Abang punya Papa dan ayah. Abang punya dua orang tua sekaligus! Yang satu Papa kandung Abang, Papa Fabian. Dan satu lagi, ayah Emil. Ayah angkat Abang. Abang boleh kok sering-sering kemari, hem? Mak seneeenngg.. banget punya putra tampan setampan Abang Tama. Semoga... kelak jika Mak memilki putri lagi Mak akan menjodohkan kalian berdua. Agar Abang Tama selalu bersama Mak. Tidak boleh sama yang lain! Mak nggak rela! Mak sayang banget sama kamu nak!'' ucap Mak Alisa pada Tama kecil yang masih berusia enam tahun waktu itu.

__ADS_1


Sepenggal ingatan itu membuat Mama Linda menitikkan air matanya. Tama, sang putra tercinta begitu merindukan sosok seorang ayah di kehidupan nya.


Pernikahan beliau dengan Papa Fabian ditentang oleh kakek nenek Tama yang saat itu masih hidup. Beliau terpaksa meninggalkan Mama Linda begitu saja demi menyelamatkan putra semata wayangnya.


Semua akses untuk menemui Tama di tutup rapat oleh kakek nenek. Tama waktu itu. Hingga suatu ketika, istri kedua Papa Fabian berulah. Disanalah kakek nenek Tama sadar. Jika menantu pilihan mereka itu gila harta.


Sebelum mereka berdua meninggal, mereka berdua meminta Papa Fabian untuk membawa Tama dan Mama Linda yang pada saat itu kakek dan nenek Tama kecelakaan akibat sabotase dari sang menantu gila hartanya itu.


Singkat cerita, Mama Linda dan Tama di terima di keluarga besar Papa Fabian. Mereka berdua dinikahkan kembali saat umur Tama berusia 13 belas tahun.


Mereka hidup bahagia setelah kejadian menyakitkan itu. Tapi tidak dengan Tama. Selama hidupnya. Sejak ia berumur enam tahun ia sudah tinggal bersama Mak Alisa. Hingga kembali di jemput saat Tama berusia tiga belas tahun.


Saat semua nya telah usai. Disanalah Tama harus kembali. Disaat Mak Alisa melahirkan Annisa waktu itu. ( Baca, 'Aku bukan pembawa sial' disana semua cerita tentang Tama dan Mama Linda ye?)


Mama Linda terharu jika mengingat masa lalu Tama. Masa lalu yang begitu membuat Tama terluka karena selalu di ejek tidak memiliki Papa.


Beruntung nya Mama Linda, ada Mak Alisa. Mak Alisa lah yang mengurus Tama ketika ia bekerja untuk menafkahi putra sulungnya itu.


Walaupun Tama saat itu tinggal dirumah Mak Alisa, untuk biaya makan, sekolah serta yang lainnya. Mama Linda lah yang menanggung nya. Bahkan saat Mak Alisa mengalami masalah, Tama lah yang membantu nya.


Lalu, bagaimana mungkin Mama Linda bisa melepas putri nya untuk orang lain sementara putra nya juga begitu menyayangi Annisa sejak Annisa masih dalam kandungan?


Hah. Inilah yang dinamakan jodoh sudah tertulis dalam lauhul Mahfud. Rezeki, jodoh dan kematian itu sudah di tentukan. Dan inilah takdir seorang Adrian Pratama.


Menikah dengan adik angkat yang sedari bayi ia sayangi dan ia jaga. Walau terpaksa, tapi inilah jalan takdir mereka berdua.

__ADS_1


💕💕💕💕


Hari ini satu aje ye? Othor mau nulis di lapak satu lagi. Cus kepoin! Othor tunggu disana!


__ADS_2