
Kriiiiiiinggg..
Kriiiiiiinggg..
Kriiiiiiinggg...
Suara dering ponsel memcaj keheningan subuh mereka di dalam kamar yang meredup karena lampu tidur itu.
Annisa yang terkejut terduduk beserta Kinara. ''Apa itu?!''
Deg!
Tama terkejut. Ia mengerjab. Tama memicingkan matanya saat cahaya lampu yang sudah terang itu menyilaukan matanya.
''Kenapa lampunya di nyalain?? Silau Dek.. mata Abang..'' lirih Tama dengan suara seraknya.
Annisa terkejut. ''Astaghfirullah! Abang?! Kenapa Abang disini?! Lah? Loh? Abang!'' Seru Annisa begitu terkejut.
Begitu pun dengan Kinara. Gadis itu terkejut melihat Abang iparnya ada disana. Sontak saja ia jatuh kebawah dengan sengaja demi menutupi kepalanya yang terbuka tanpa hijab.
''Eh?'' Annisa terkejut, lalu terkekeh. ''Saking rindunya ya? Bangun ih! Nenek nanti nyariin Abang loh.. mau kena amuk nenek??''
__ADS_1
Deg!
Tama terlonjak. Ia bangun dengan tergesa. Ia berlari dengan panik menuju pintu. Baru pintu masih memegang handle nya saja Tama berbalik lagi.
Ia berlari cepat ke arah Annisa.
Cup, cup, cup, cup, dan Cup.
Annisa melototkan matanya saat Tama mengecup seluruh wajahnya. Terakhir, putik ranumnya di hadapan Kinara. Membuat gadis cantik berparas ayu mirip dengan nya itu sontak saja memejamkan mata mendadak.
''Vitamin!'' katanya sambil berlari dan mengedipkan matanya pada Annisa. Annisa melongo. Tiba-tiba saja wajah itu merah merona.
Sedangkan Kinara, menyipitkan sebelah matanya ingin melihat apakah adegan live itu masih ada? Pikirnya.
''Hehehe... kakak mirip banget sama Mami dan Papi! Papi pun suka begini sama Mami! Emang? Apa sih yang sangat enak dari bibir kita perempuan ya Kak? Kok bisa di cium dan dimakan kayak begitu?? APa nggak habis ya itu bibir?'' tanya Kinara yang saat ini sedang duduk di sebelah Annisa.
''Dasar kamu Bang! Maluuuu.. huhu... maaaaakkk.. tolongin ih! Kakak maluuuu.. bang Tamaaaa....'' pekiknya dalam hati.
Kinara Terkekeh kala merasakan Annisa menendang-nendang selimutnya saking malunya pada nya.
''Udah Kak.. adek udah biasa kok. Ayo mandi dan bersiap. Sebentar lagi penata riasnya datang untuk merias Kakak. Ayo, adek pun mau mandi!'' katanya pada Annisa.
__ADS_1
Annisa tidak menyahut tetapi gadis ayu itu berlari masuk ke kamar mandi setelah mengambil handuk dengan terburu-buru. Kinara tergelak keras melihat tingkah kakak nya itu.
Sementara Tama di kamar sebelah ia sedang mandi saat ini ketika sang nenek terbangun. Wanita yang sudah berumur enam puluh tujuh puluh tahun itu tersenyum mengingat Tama.
''Ternyata.. kamu tidak bisa di kunci terlalu lama ya? Awas aja kamu! Tunggu tanggal mainnya!'' gumam nya sembari keluar dari kamar Tama dan menuju kamarnya sendiri.
Bukan nenek tidak tau. Beliau tau. Tapi sengaja membiarkan Tama. Karena nenek baru dapat informasi tadi malam kalau Tama dan Annisa sudah cukup lama berpisah. Jadi nenek memaklumi.
Seharusnya itu tidak boleh. Tetapi karena Tama nekad, ya harus gimana lagi??
Pukul enam lebih tiga puluh, Annisa sudah dirias oleh penata rias. Acara akad ulang mereka akan di adakan pada pukul tujuh lebih empat puluh lima menit. Dan saat ini Annisa sudah hampir siap. Hanya tinggal memakai baju kebaya berwarna putih saja. Yang sengaja Tama siapkan untuk dirinya tiga bulan yang lalu.
''Sudah selesai!'' kata penata rias Annisa.
Kinara terpana melihatnya. ''Masyaallah... cantiknya Kakakku...'' ucap Kinara begitu takjub dengan wajah Annisa saat ini.
Mak Alisa Terkekeh, ''Kamu pun akan sama cantiknya dengan Kakak mu nanti. Bersabar lah. Masih sangat lam loh..'' goda Mak Alisa pada Kinara.
Kinara hanya bisa menyengir saja. Wajah ayu itu kini begitu Cantik saat ini. Sama persis seperti Annisa. Dengan kata lain, Kinara ini versi Annisa ke dua. Begitu kata Kak Ira.
''Ayo kita keluar! Tama sudah menunggu kita sedari tadi. Semua orang saat ini sedang menunggu mempelai wanitanya yang begitu ingin mereka lihat, hem?'' kata Mak Alisa pada Annisa.
__ADS_1
Annisa mengangguk dan tersenyum, gadis ayu itu sangatlah cantik saat ini dengan menggenakan kebaya putih tulang sepeti Mak Alisa dulu.
Riasan wajah yang alami membuatnya semakin terlihat sangat cantik. Annisa tersenyum saat adiknya mengedipkan matanya pada Annisa. Pertanda menggoda Annisa lagi. Dasar Kinara. Ajak sekali menggoda Annisa setelah kejadian tadi subuh di dalam kamar Annisa.