
Annisa bangun dari tidurnya karena merasakan perut yang begitu perih. Ia ingat, sedari pulang dari rumah sakit belumlah makan sama sekali.
Ia bangun dengan kepala begitu pusing. Annisa memijit pelipisnya. Matanya menoleh kesana kemari, tak ada Tama.
Lalu, Annisa menoleh ke sisi kirinya. Disana di atas nakas, sudah tersedia susu yang sudah lumayan dingin.
Annisa mengambil susu itu dan menenggaknya sedikit. Setelah itu ia sarapan dengan roti yang tersedia disana. Roti selai kesukaan Annisa. Selai srikaya.
Annisa tersenyum dengan mulut mengunyah makanan itu. Ia habiskan dua potong roti begitu juga dengan susu nya.
''Ah.. Alhamdulillah.. udah lumayan kenyang. Tapi masih laperrrr!!'' serunya sambil cekikikan sendiri.
Dengan segera ia menjulurkan kakinya kebawah dan berdiri tegap. Sembari merasakan dirinya pusing lagi atau tidak.
Dirasa tidak pusing lagi karena sudah makan, Annisa bergegas turun untuk turun ke bawah.
Ceklek,
Pintu kamar Annisa buka.
Hahahaha...
Baru saja pintu terbuka sudah di suguhkan dengan suara Tama dan Selly yang sedang tertawa.
Panas!
Ada yang panas!
Ingin terbakar saat itu juga!
Rasanya ingin sekali membakar seluruh isi rumah ini beserta dengan orang di dalamnya. Pikir Annisa begitu panas.
Dengan hati dan pikiran yang panas, Annisa melangkahkan kakinya perlahan menuruni tangga.
Ia turun satu persatu dari atas tangga tanpa ada suara di setiap pijakan kakinya di lantai tangga. Tiba di tengah-tengah tangga, Annisa semakin merasa panas.
Wajahnya memerah seperti baru saja tersiram air panas. Bagaimana tidak, ia melihat Selly dan Tama sedang tertawa-tawa bersama.
Sampai-sampai Selly tidur di bahu Tama. Panas! Semakin panas! Dengan cepat kakinya melangkah turun ke bawah menuju dapur.
Kedua orang yang sedang sibuk di dapur itu tidak tau sama sekali akan kehadiran seseorang yang panas melihat tingkah mereka.
Tangan Annisa gemetar saking marahnya. Amarahnya sudah sampai di ubun-ubun. Air mata menetes di pipinya yang terasa panas.
Seketika itu juga kepala nya menjadi pusing sekali. Dengan segera menghidupkan kompor dan memasak air sedikit.
Cetak.
Suara kompor berbunyi. Tama terdiam. Tapi tidak dengan Selly. Wanita itu masih sibuk tertawa sendiri.
Entah apa yang mereka tertawa kan hingga terbahak seperti itu. Annisa semakin merah padam wajah nya.
Wajah putih mulus itu berubah menjadi merah seperti tomat masak. Namun, panas! Annisa dengan segera membuka kulkas.
Ia mengambil telur, sosis dan sawi. Setelah nya ia cuci bersih dan ia rajang sesuai selera. Melihat air di panci telah mendidih, Annisa membuka mi instan dan mencelupkannya ke dalam panci itu.
Ia buka satu lagi. Kemudian ia masukkan lagi. Setelah nya ia aduk, dan dibiarkan sebentar. Hanya sebentar.
Setelah nya ia mulai menghidupkan kompor satu lagi untuk menumis bawang merah hingga harum.
Sreeeenggg..
Suara minyak dan bawang yang di tumis. Tama terkejut, tapi masih tetap fokus pada cerita Selly.
__ADS_1
Harum semerbak memenuhi ruangan. Tama memejamkan matanya. ''Mi instan? Siapa yang masak?'' gumamnya dalam hati.
Sedangkan Annisa setelah masakan itu siap, ia mengambil satu buah mangkuk keramik berwarna putih.
Saking panasnya terhadap dua orang di depan sana, tanpa sengaja ia menyenggol gelas dan panci hingga terjatuh kelantai.
Pecah berserakan dan menimbulkan suara berisik akibat panci aluminium itu jatuh ke lantai.
Pyaar..
Klontang!
Deg.
Tama dan Selly terkejut. Dengan cepat Tama berlari menuju dapur. Begitu juga dengan Selly.
Ia berdiri mematung saat melihat Annisa sedang membelakangi mereka berdua tanpa peduli dengan panci dan gelas pecah itu.
Tangan Annisa bergetar saking panasnya. Tama berjalan perlahan mendatangi Annisa. Tapi baru selangkah Tama melangkah, Annisa sudah menghentikan langkahnya.
"Berhenti Bang Tama! Jangan melangkah ke dapur ini satu langkah pun! Jika tidak ingin mie yang berkuah panas ini ku siram ke wajah kalian berdua!!"
Deg!
Deg!
Terkejut Tama dan Selly mendengar ucapan Annisa. Annisa tetap membelakangi nya. Tak sedikitpun ia menoleh pada dua orang yang sedang mematung melihat pergerakan tangannya yang bergetar entah karena apa.
Setelah siap, Annisa berbalik dan menuju meja makan. Ia meletakkan mie itu dan duduk disana dengan tenang.
Kedua orang itu menatap diam padanya. Annisa makan dengan lahapnya. Ia tak peduli dengan dua orang yang sedang mematung memandangi nya itu.
Sesuap, dua suap, tiga suap ia masih sibuk dengan mie instan milik nya. Selly menelan saliva nya. Ia sangat ingin makan makanan itu.
"Dri! Aku mau mie itu dong.." pinta Selly dengan tak tau malunya.
Tama diam, ia masih ingin melihat apa yang akan di perbuat Annisa setelah ini. Ia merasakan jika dirinya salah saat ini.
Membiarkan Annisa kelaparan hingga turun sendiri ke bawah dan masak sendiri. "Dri.. aku juga mau... buatin yah? ya? ya?" pinta Selly lagi
Membuat Annisa memegang erat sendok dan garpu yang ada di kedua tangannya. "Ayolah Dri.. adik angkat kamu aja bisa! Masa aku nggak? Aku kan calon istri kamu? Masakin yah?? Yah??" pintanya dengan manja.
Annisa semakin panas mendengar nya. Tanpa sadar ia banting sendok dan garpu di mangkuk keramik putih itu hingga menimbulkan suara berisik di tengah kesunyian mereka bertiga.
Kluntiiingg!!
Tama dan Selly terjingkat kaget. Annisa menoleh pada mereka berdua. Ia bangkit dan mengambil air rebusan yang masih terasa hangat itu.
"Kamu ingin makan apa yang aku makan bukan?? Nah! Makan!"
Byuuurrr..
"Astaghfirullah!! Adrian! Panas!" pekik Selly.
Annisa menatap nyalang pada mereka berdua. Tama diam. Tidak ingin melarang ataupun ingin melerai.
Annisa semakin geram di buatnya. Lagi, ia ambil mangkuk mie tadi dan ia lemparkan ke tubuh Tama.
Bugghh..
Pyaarrr..
"Ssssttt..."
__ADS_1
"Makan! Kau sangat ingin apa yang aku makan bukan?! Makanlah?! Pinta pada CALON SUAMI MU untuk memasakkan mu makanan yang sama seperti aku makan! Belum puas?! Heh?!" kata Annisa dengan wajah semakin memerah saat melihat Selly membersihkan tubuh Tama dari bekas sisa mie instan yang sudah Annisa lemparkan.
Annisa berbalik dan menampung air yang ada di westafel dengan baskom lalu Annisa menyiram kan nya pada Selly Tama hingga mereka berdua basah kuyup.
Byurrrr...
"Aaaaaaaaaa... Adrian!! aku basah! Basah! Basah Dri!!!" pekik Selly begitu kuat.
Ia mencak-mencak tak jelas dilantai. Annisa menatap dingin pada Tama yang juga sedang menatap nya.
Tama melangkah kan kakinya mendekati Annisa.
"Keluar!!"
Deg!
Bagai di tusuk tombak jantung Tama saat mendengar ucapan Annisa yang menyuruhnya keluar.
"Keluar kataku!!" seru Annisa lagi dengan suara naik satu oktaf.
Selly menoleh pada Annisa dengan wajah begitu marah. "Apa?? Kau ingin marah padaku?! Silahkan!! Tapi ingat? Kau pergi membawa nyawa tapi kau pulang hanya tinggal nama!!!"
Deg.
Deg.
Tama dan Selly membeku di tempat. Tama tak menyangka jika Annisa akan semarah ini padanya.
"KELUAR KATAKU!! APA KALIAN TIDAK DENGAR??! KALIAN TULI?!! KELUAR?!?! AKU MUAK MELIHAT KALIAN BERDUA DISINI!!! DAN KAU! ADRIAN PRATAMA!! KAU LEBIH MEMENTINGKAN WANITA ITU DIBANDINGKAN AKU YANG HANYA ADIK ANGKAT BAGIMU??? AKU KELAPARAN!!! MANA KATAMU TADI, KAU INGIN MASAK MAKAN SIANG UNTUKKU?! INIKAH TUJUAN MU MEMBAWA KU PULANG KE RUMAH MU, AGAR KAU BISA PUAS MENYIKSAKU DENGAN SELINGKUHAN MU, ADRIAN PRATAMA?!!?! HUH?!!?! AAAAAA... PERGI!!!! KELUAR KATAKU!!! SEBELUM AKU MEMBUNUH KALIAN BERDUA!!! PERGI!!!! AAA... AKU BENCI KAU ADRIAN PRATAMA!!! AKU BENCI WANITA SELINGKUHAN MU ITU!!! PERGI!!!!"
Pyaaarr...
Pyaaarr...
Pyarrr..
Klontang!
Klunting!
Braaakkk..
"Annisa!!!!" pekik Tama saat melihat Annisa jatuh terbentur tepi meja makan.
"HIKS.. KELUAR KAU BRENGSEK! KELUAR!!! AKU TAK MAU MELIHATMU ADA DIRUMAH INI!!! PERGI IIIII!!!!!" pekik Annisa dengan suara melengking.
Hingga rasanya gendang telinga mereka berdua ingin pecah saat itu juga. Tama menatap sendu pada Annisa.
Inilah yang ia tidak mau. Dan inilah yang ia takutkan jika sampai Annisa melihat nya dengan wanita lain.
"Sa-sayang..."
"AKU MINTA, CERAIKAN AKU!!!"
Deg!
Deg!
Deg!
''Apa?!?!''
💕💕💕💕
__ADS_1
😱😱😱 Panas euuuyy... ada yang mau nurunin panas Annisa??