
"Benarkah? Tetapi Adek tidak merasakan hal yang seperti Abang rasakan dulu. Malahan Adek sangat kuat makan! Hari-hari yang adel lewati itu tanap makan. Hingga tubuh yang dulunya kurus kembali berisi setelah satu bulan lamanya. Nggak ada mual dan muntah. Hanya sajah waktu itu..." Annisa menggantungakn ucapannya karena tiba-tiba mengingat satu hal yang dulu begitu ia inginkan.
Tama masih menatapnya, entah kenapa. Pipi Annisa tiba-tiba saja memerah seperti kepiting rebus. Annisa semakin menundukkan wajahnya yang kini berada di hadapan Tama.
Tama mengernyitkan dahinya. Tetapi itu hanya sesaat. Setelah nya ia tertawa terbahak kala menyadari apa yang menjadi keinginan Annisa dulu.
Annisa semakin malu. Ia malah memeluk erat tubuh yang selama ini begitu ia rindukan kasih sayang dan kehangatannya. Annisa menepuk lembut dada tegap Tama hingga membuat sang empu semakin tergelak keras saat menyadari jika Annisa semakin malu karena Tama sudah tau apa keinginanya.
"Diem ih! Maluuuu.. Suar Abang itu loh.." tegur Annisa masih dengan memeluk tubuh tegap Tama yang saat ini masih saja tertawa karena ulahnya.
Tama berhenti tertawa, ia pun masih memeluk erat tubuh Annisa dengan erat. Rasa cinta untuk istri kecilnya yang kini sudah beranjak dewasa tidak pernah pudar walau mereka berpisah hingga lima tahun lamanya.
Tama memeluk erat tubuh Annisa. "Hemm.. Apa yang kamu rasakan saat menginginkan Abang, tetapi Abang tidak ada bersama kamu saat itu?" tanya Tama masih memeluk Annisa dengan erat.
Annisa mengurai sedikit pelukn erat dari tubuh Tama. "Tersiksa. Itu yang pertama. Yang kedua, sakit hati! sakit hati karena adek jauh dari Abang. Dan yang ketiga.. Nggak enak! Sangat nggak enak jauh dari Abang! Taubat akunya!" seru Annisa menggebu-gebu.
Bibir mengerucut kesal dan juag wajah cemberut itu membuat Tama semakin gemas melihat Annisa. Ia kembali tertawa.
"Berarti, setelah ini tidak ada lagi 'kan kata-kata ingin pergi untuk menuntut ilmu??" ledek Tama pada Annisa.
__ADS_1
Annisa mengerucutkan bibirnya. "Abang ledekin aku??" tuduhnya dengn wajah kesl
Tama tertawa. Ia pun memeluk kembali tubuh chubby istrinya itu. "Ya.. 'kan yang Abang benar sayngku.. Cintaku.. Permaisuriku.. Bidadari surgaku...???"
Annisa berdecak. "Nggak akan lagi! No More!! Okey???" ucapnya masih kesal pada Tama.
Tama Tertawa lagi, "Oke, oke! Jangan marah, hem??" ucap Tama masih memeluk erat tubuh chubby Annisa.
"Hemm.. Adek mau tidur di peluk abang kayka gini. Udah lama nggak meluk Abang kayak gini. Rasanya ada yang kurang kalau nggak meluk abang.." lirih Annisa dengan mata terpejam.
"Ya.. Abang pun sangat merindukan masa-masa kita seperti ini dulunya. Kali ini Abang tidak mengijinkan mu untuk pergi lagi sayang. Cukup liam tahun ini saja. Nggak ada kata lanjut lagi. Stop sampai disni. Abang nggak mau pisah dari kamu lagi.. Kiat tidur sebentar. Nanti amlam, kita semau akan pergi jalan-jalan untuk krliling kota Bandung dan sekalian ada sesutu yang ingin Abng tunjukkan padamu, tidurlah." Katanya apda Annisa.
Mereka berdua pun terlelap. Pelukan pertama yang begitu mereka berdua rindukan setelah lima tahun lamanya.
*
*
*
__ADS_1
Malam harinya.
Seperti yang Tama katakan pada Annisa tadi sore, mereka saat ini sudah berada di dalam mobil dan sedang di dalam perjalanan menuju tempat yang dituju.
Annisa sedikit curiga melihat Tama yang begitu hafal dengan jalanan yang mereka lalui. Ia memicingkan matanya saat melewati taman bermain yang biasanya Annisa dan kedua sahabatnya lalui saat membawa si kembar jalan-jalan.
"Abang kok bisa tau jalanan ini? Apakah Abang pernh kesini sebelumnya? Kapan? Dan dimana abang menginap? Kenapa Abang tidak pernah melihat ku sekalipun jika memang Abng pernah kesini dulunya?" todong Annisa dengan banyak pertanyaan.
Anto pura-pura tidak tau. Mitha sibuk dengan ketiga anaknya dan Tama? Ia lah yang saat ini sedang mengemudikan mobil sewaannya itu.
Tama tersenyum, "Sabar dulu sayang.. Ini kita lagi menuju tempat yang akan Abang tujukkan kepadamu. Jadi.. Permaisuriku diharap bersabar ya? Karena Raja mu ini sedang mengemudikan mobil ini." Jawab Tama dengan sedikit kekehan di bibirnya karena melihat Annisa yang kesal kepadanya karena Tama membuatnya menjadi rahasia.
Annisa terdiam dengan wajah kesal. Cukup Dua puluh menit dari komplek perumahan Annisa, kini mereka semu sudah tiba di tempat yang dituju. Annisa mematung kala melihat nama sowroom itu adalah singkatan namanya dan juga Tama yang kini Annisa sematkan kepada kedua anaknya.
"I-ini.. kok bisa kebetulan gini sih? Dari amna Abng tau tentang nama ini?" tanya Annisa saat melihat nama showroom Tama yang ada di kota Bandung.
Di sebelah shoeroom itu pun ada sebuah restoran bernama Annisa resto dan di ujung jalan sana juga ada sebuah market dengan nama ADRIANNISA. Yang merupakan penggabungan nama mereka berdua.
Tama tersenyum, "Showroom ini terinpirasi dari kepergianmu waktu itu. Showroom khusus yang akan Abng beriakn untukmu dan anak-anak kita nantinya. Dalam artian, showroom ini milik kita bersam yang Abang rintis dengan uang Abang sendiri, tanpa uang Papa," jelas Tama membuat Annisa tertegun.
__ADS_1