
Annisa duduk jauh dari Tama yang kini duduk bersama Papi Gilang, ayah Emil, penghulu dan juga para saksi pernikahan mereka dulu saat mereka menikah.
Annisa masih saja menunduk dibalik tirai yang terpasang disana. Dari kejauhan jika Annisa sekilas bisa melihat Tama yang saat ini begitu tampan menggunakan jas putih yang sama dengan Annisa kenakan saat ini. Dengan kain songket berwarna kuning keemasan dibawahnya.
Annisa tersipu malu kala Kinara menggodanya lagi. ''Kak?'' bisik Kinara di telinga Annisa.
''Apa?'' jawab Annisa begitu lirih
''Lihatlah Abang. Sangat tampan saat ini. Pastilah Abang akan terkejut saat melihat Kakak nantinya!'' bisik Kinara lagi.
Annisa terkekeh kecil. ''Udah! Diem! Kamu mengganggu kakak saja!'' balas Kinara masih dengan berbisik.
Kinara tertawa sambil membungkam mulutnya. Ia terkikik geli melihat tingkah Annisa yang saat ini begitu malu di goda olehnya.
''Sssttt... kalian ini! Adek! Diem!'' tegur Mak Alisa pada Kinara dan Annisa.
Kedua saudara itu cekikikan sendiri. Mak Alisa menggeleng kan kepala nya. Tetapi tetap terkekeh karena tingkah kedua putrinya itu.
Sedangkan di depan sana, Tama sedang duduk dengan tenang. Di hadapannya ada ayah Emil dan Papi Gilang. Serta Pak penghulu.
Di sisi kiri dan kanannya ada kedua saksi dari pihak Annisa dan Tama sendiri. ''Baiklah akan kita mulai segera akad nikahnya. Sebelumnya, saya mewakili keluarga mempelai wanita yaitu Papi Titi dari sang mempelai wanita. Dan ini Bang Milham. Beliau yang akan bertindak sebagai wali yang akan menikahkan Annisa nantinya. Untuk itu, daya persilahkan kepada Saudara Hakim untuk membacakan ayat suci Al-Qur'an terlebih dahulu,'' imbuh Papi Gilang sebagai pembuka suara disana.
Acara pun segera di mulai. Pembukaan pertama dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an, dilanjut dengan sepatah dua kata dari Papa Fabian selaku orang tau dari Tama.
__ADS_1
Di lanjut lagi dengan sepatah dua patah kata dari Ppai Gilang dan ayah Emil selalu wali Annisa. Beliau sedikit menjelaskan, bahwasa nya ayah Emil dan Alisa sudah bercerai sekitar dua belas tahun yang lalu.
Dan saat ini mereka sudah memiliki kehidupan masing-masing. Mereka sempat mengenalkan bunda Zizi pada seluruh tamu dan hadirin yang menyaksikan pernikahan Annisa dan Tama.
Untuk acara pernikahan hanya sedikit yang di undang. tetapi Papa Fabian membuat sebuah layar besar di depan hotel miliknya. Layar yang menunjukkan proses ijab qobul Anatar Annisa dan Tama nantinya.
Sama seperti Mak Alisa dulunya.
Setelahnya acara pun dilanjutkan lagi dengan sedikit pidato dari pak penghulu untuk pernihan Tama dan Annisa. ''Alhamdulillah.. acara akan segera kiat mulai. Mari saudara Adrian Pratama berjabat tangan dengan Pak Milham selaku wali dari saudari Annisa.''
''Sudah siap nak Tama??''
''Alhamdulillah, siap!'' sahutnya mantap.
''Yee.. pengantin prianya ngebet banget ini ingin nikah!'' celutuk Pak penghulu hingga menimbulkan gelak tawa di dalam ruangan ballroom itu.
''Sudah, sudah! Tidak akan kelar ini akad nikahnya! Ayo Pak Milham! Silahkan dimulai!''
''Baik! Abang, Jabat tangan ayah!'' katanya pada Tama.
Tama mengangguk. Wajah itu terlihat tegang sedikit. Ayah Emil tersenyum. ''Santai nak.. ayah tidak akan menahan mu!'' kelakar ayah Emil pula.
Tama tertawa. Begitu pun semua orang yang ada di sana. ''Hehehe.. baiklah Yah. Ehem, Bismillah!'' sahut Tama.
__ADS_1
Keduanya berjabat tangan disaksikan seluruh mata di ruangan itu. ''Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, Ashyhaduanlailahaillah waashhaduanna muhammadurrasululllah.. saudara Adrian Pratama bin Fabian Pratama saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandungku Annisa binti Milham Syahputra dengan mas kawin seperangkat alat sholat satu buah mushaf Al-Qur'an dan satu set perhiasan berlian dibayar tunai!''
Ayah Emil menyentak tangan Tama, ''Saya terima nikah dan kawinnya Annisa binti Milham Syahputra untuk saya dengan mas kawin, seperangkat alat sholat satu buah mushaf Al-Qur'an dan satu set perhiasan berlian dibayar tunai!'' sahut Tama dengan satu kali tarikan nafas.
Deg, deg, deg..
Dua jantung berlainan jenis itu berdegup tidak karuan saat ini. Tangan Annisa mendadak dingin seketika. Kinara memegang tangan indah yang berukiran Henna cantik itu.
Annisa menoleh pada Kinara dan tersenyum walau sedikit tegang.
''Bagaimana para saksi? Sah?''
Kedua saksi itu saling pandang dan mengangguk, ''Sah!''
''Sah!''
''Alhamdulillahirobbil Al-Amin.. barakallahu alaikuma wabaroka'alaikuma fi Khair..'' Pak penghulu membacakan doa untuk kedua mempelai yang baru saja melakukan akad ulang.
''Alhamdulillah.. sekarang, Tama dan Annisa sudah sah menjadi suami istri. Walaupun ini akad ulang untuk memberitahu kepada seluruh masyarakat, tetapi tetap sah ya? Ini hanya pengulangan untuk mereka berdua sebagai bukti jika mereka berdua sudah sah menjadi suami istri. Panggilkan mempelai wanita nya sekarang.''
''Baik,'' sahut Papi Gilang.
Ia berdiri dan memberi kode kepada Mak Alisa. Wanita paruh baya itu mengangguk, ''Ayo Nak. Kamu sudah dipanggil!''
__ADS_1
''Ya,'' jawab Annisa dengan segera berdiri di ikuti oleh Kinara dan yang lainnya juga.
Mereka semua menuju meja akad dimana Tama sedang menunggu Annisa saat ini. Wajah tampan itu tidak sedikit pun menoleh pada Annisa yang sedang berjalan padanya saat ini. Wajah tampan pujaan hati Annisa sedang menatap lirih pada ayah Emil yang sedang berbisik lirih padanya hingga membuat pemuda tampan itu terkekeh.