Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Mitha vs Azura


__ADS_3

Selesai dengan memasak bersama, kini adik Abang itu sedang duduk di meja makan. Mereka berdua sedang sarapan pagi.


''Ayo, kita sarapan. Setelah ini kamu bersiap. Agar kita bisa segera ke tempat kakak iparmu.'' Ucap Tama pada Mitha.


Mitha mengangguk, ''Siap Bos!" sahutnya.


Tama terkekeh. Mereka berdua makan dalam diam. Cukup lima belas menit saja, mereka berdua sarapan.


Mitha bangkit dengan membawa piring kotor untuk segera di cuci. Setelah selesai, ia menuju dimana Tama berada. ''Bang! Adek bersiap dulu ya?''


Tama menoleh dan mengangguk, saat ini ia sedang memegang ponsel miliknya dan melihat jika sudah banyak pesan dari Annisa. Istri kecilnya itu menyuruhnya untuk segera datang ke pesantren karena ustdazah Hanim sudah menunggu nya.


Tama terkekeh saat melihat serentetan pesan WhatsApp Annisa yang begitu banyak di ponselnya. Tama jadi terkekeh-kekeh sendiri saat melihat gambar emoticon dari Annisa hingga memenuhi layar ponselnya.


Tama tertawa. Suara tawa yang begitu keras di pagi itu. Mitha yang sudah bersiap pun segera turun. Ia tiba di samping Tama dan melihat isi pesan kakak iparnya itu penuh dengan emoticon bibir mengerucut tapi ada lovenya disana.


Mitha tertawa, Tama menoleh.


Deg!


Deg!


Tama terpaku melihat nya. Namun, seutas senyum terbit di bibir tipis nya. ''Masyaallah adek Abang... cantik banget Sayang! Masyaallah.. coba aja dulu kamu kayak gini. Pastilah kulitmu lebih bagus lagi. Ya Allah.. adikku...'' kaya Tama begitu terharu.


Mitha tersipu malu. Ia menunduk. Dengan cepat Tama memeluk adiknya itu. ''Abang suka kamu yang seperti ini. Marwah mu sebagai seorang perempuan terjaga. Seluruh tubuhmu tertutup rapat. Kamu persis seperti Kakak iparmu! Cup! Semoga Istiqomah ya sayang??'' ucap Tama sambil mengurai pelukannya dan tersenyum manis melihat adiknya yang begitu cantik kala memakai hijab.


''Hehehe.. amiin.. Abang doakan aja yang terbaik. Selama ini nggak ada yang ngingetin adek. Abang dan bang Anto lah yang selalu mengingatkan. Hanya saja.. seperti yang Abang bilang. Hidayah itu datang dari orang yang tepat. Ayo, nanti kakak iparku merajuk lagi. Biar adek ambil dulu rantang nya!'' kata Mitha pada Tama.


''Ya, Abang tunggu di depan ya? Sambilan mau Manasin mesin mobil dulu.''


''Oke, duluan aja Bang!'' seru Mitha.


Tangan halusnya sibuk memegang dua rantang. Satu untuk makan disana dan satu lagi untuk Annisa. Lengkap dengan puding buatan ala ala Kamitha Andriyana Pratama.


Ia terkekeh kecil saat menyebut nama panjangnya didalam hati. Ia berjalan menuju depan rumah Tama.


''Ayo, udah Semua??''


''Udah,'' sahutnya.


''Oke, kita mampir di pasar sebentar ya. Abang mau beli buah untuk kakak mu. Di sana ada pedagang buah di toko Abang. Khusus untuk kakakmu buahnya tinggal kita ambil aja udah disiapin.''


''Oke. Cepat Jalan! Adek ingin tau apa reaksi kakak ipar saat adek datang bersama Abang. Apakah ia cemburu atau tidak. Itu yang ingin adek buktikan! Hihihi...''


Tama terkekeh kecil. ''Awas aja kamu kalau kakak mu ngamuk nanti. Kamu harus tanggung jawab!''

__ADS_1


Mitha tertawa. ''Tentu.'' Sahutnya.


Setelahnya mereka berdua menuju ke pasar dulu untuk mengambil buah pesanan Tama yang sudah disiapkan oleh seseorang yang sudah menjadi langganan Annisa saat ia tinggal dirumah itu.


Cukup satu jam saja perjalanan mereka, kini adik Abang itu sudah berada di pesantren Annisa. ''Assalamu'alaikum Pak?''


''Waalaikum salam Bang! Ayo masuk! Sedari tadi neng Annisa sudah ribut dan keluar masuk nungguin Abang.'' sahut Pak satpam penjaga pesantren Annisa.


Tama tertawa begitu juga dengan Mitha. ''Ya sudah, ini untuk bapak. Saya masuk dulu ya? Takutnya si gadis ku itu ngambek! Bisa berabe nanti!''


''Hahaha.. Abang bisa saja! Silahkan!'' kata Pak satpam.


Tama tersenyum, ia membelokkan stir kemudinya menuju ruangan tempat biasa ia parkir. Tiba disana, sudah ada seorang guru yang menunggu kedatangan nya.


''Bang Tama?? Kamu datang lagi?? Bukannya kemarin udah ya? Ini siapa??'' tanya nya.


Mitha menatap gadis di depannya ini sebaya dengan Tama agak muda dikitlah. Entah kenapa ia merasa tidak nyaman dengan gadis ini.


''Ayo, Bang! Kita turun!'' ketus Mitha.


Tama terkejut. Ia menoleh pada wajah Mitha yang mendadak masam. Ustdzah Azura pun demikian. Mereka berdua saling berhadapan.


''Kamu siapa! Kenapa kamu datang bersama bang Tama?!'' ketus ustdzah Azura


Tama mengulum senyumnya melihat wajah Mitha mendadak malas melihat Azura. Sedangkan Azura semakin kesal pada gadis yang sedang bersama Tama ini.


''Apa untungnya buat kamu tau siapa aku?! Yang harus aku tanya itu.. kamu siapa?! Kenapa menghalangi jalanku! Minggir!!'' ketus Mitha lagi semakin tidak bersahabat.


Mendadak Tama ingin tertawa karena melihat mata Azura melotot pada adiknya itu. Ingin tertawa takut Mitha nanti kesal padanya.


''Kamu...!''


''Apa! Awas! Minggir sana! Halangan jalan orang aja!'' ketus Mitha lagi.


Tama terkikik geli. ''Abang!!'' seru Mitha dengan suara naik satu oktaf karena kesal.


Tama kicep, ia berdehem. Namun, wajahnya itu begitu terlihat seperti menahan tawa. ''Iya sayang!'' sahut Tama pula.


Mata Azura bertambah melotot. Mitha yang melihatnya keheranan. ''Itu mata kenapa di pelototin kayak gitu?! Sengaja mau dikeluarkan itu mata?! Kalau iya, jangan disini! Noh... ada rumah sakit di sebelah pesantren ini. Sok, mangga! Keluar sana!'' ketus Mitha lagi. Ia semakin tidak menyukai gadis yang sedang menghalangi jalannya ini.


''Siapa kamu?!'' tanya Azura pada Mitha


''Aku??'' sahut Mitha dengan menunjukkan dirinya dengan telunjuk menghadap dadanya.


Azura tidak menyahuti. Mitha terkekeh kecil. ''Untuk apa kamu tau? Ada urusan apa kamu denganku? Ingin ngajak gelut gitu?! Emangnya kamu siapa?! Pacar bukan! Istri apalagi? Cih, sok ngaku-ngaku! Minggir! Aku mau lewat!!'' ketusnya lagi.

__ADS_1


Azura semakin melototkan matanya. Ia menatap Tama untuk mencari jawaban, akan tetapi Tama melengos. Mitha terkekeh lagi.


''Kenapa?! Kamu ingin tanya apa sama suami aku?!''


Deg!


Deg!


Deg!


Azura bertambah terkejut dengan ucapan Mitha. Tama pun ikut melotot kan matanya. ''Kau...!''


''Ya, aku! Aku istri sahnya Adrian Pratama! Kenapa?! Kamu tidak suka?! Kalau tak suka minggir Sono! Halangan jalan orang saja!'' katanya lagi semakin ketus.


Wajah cantik itu begitu tidak bersahabat saat ini. Sedangkan Tama semakin geli hatinya mendengar ucapan Mitha untuk Azura.


''Kamu Dek! Cocok banget ya kamu sama Azura? Abang ingin lihat, siapa pemenang nya? Jika sama Annisa, ia pemenang nya! Tapi ini kamu? Hihihi...'' bisik Tama dalam hati.


Sementara Azura semakin tak suka melihat gadis cantik di depannya ini. Ia merasa kalah saing dengan gadis itu. Masih muda dan juga sangat cantik. Kalah saing ia dengan nya.


''Siapa kamu?!'' tanya Azura untuk kesekian kalinya pada Mitha.


Mitha semakin kesal pada Azura. ''Kamu itu kenapa?! Kamu itu bukan siapa-siapa saya! Untuk apa saya jelaskan kepada kamu siapa saya dan apa hubungannya dengan Adrian Pratama! Minggir sana! Buat semak aja!'' ketus Mitha semakin kesal.


Ia melewati Azura. Tapi Azura tildak tinggal diam. Ia mencekal pergelangan Mitha dan menghempaskan nya hingga Mitha berbalik padanya dengan wajah terkejut.


Tama pun terkejut. ''Jelaskan! Kamu siapa?! Dan ada hubungan apa kamu dengan Bang Adrian!'' serunya dengan suara naik satu oktaf.


Mitha terkekeh kecil, ia mendekati Azura dan...


Klek.


''Arrrgggghhttt... lepas! lepas!''


''Ingat ini baik-baik wanita bermuka dua! Saya tidak ada urusan dengan mu! Jadi jangan mengganggu saya! Kamu mau tau siapa saya??'' Azura tidak menyahut, ia terus berusaha melepaskan cekalan tangan Mitha di lehernya.


''Saya! Istri sahnya Adrian Pratama!! Saya pacar halal nya! Saya berhak atas dirinya! Bukan seperti kamu! Pengganggu saja! Kamu ingat itu! SAYA ISTRI SAH ADRIAN PRATAMA! KAMU DENGAR?!''


Deg!


Deg!


''Apa?!''


''Sayang!''

__ADS_1


__ADS_2