
Mereka berdua melamunkan kejadian beberapa saat lalu. Di mana mereka sedang saling duduk dan berpelukan dengan jantung berdetak seirama.
''Sayang..''
''Abang..'' mereka memanggil bersamaan, kemudian saling pandang dan terkekeh.
''Kamu aja dulu, baru Abang. Hem?'' ucap Tama pada Annisa
Gadis kecilnya itu tersenyum, ''Adek hanya mau bilang.. Abang itu cinta terakhir ku! Bukan cinta pertama! Karena cinta pertama ku sudah di ambil oleh Papi!'' Annisa tergelak saat mengatakan hal itu.
Karena melihat wajah Tama berubah menjadi masam. Annisa tertawa lagi, Tama tersenyum tipis.
''Abang jangan kecewa dengan perkataan ku tadi, Abang memang bukan yang pertama, tapi Abang yang terakhir. Abang cinta sejati yang selama ini ku tunggu. Di setiap malam dalam sujudku, selalu ku selipkan namamu disana. Berharap bahwa kamulah yang menjadi cinta terakhirku dan menjadi cinta sejati dari seorang gadis kecil yang bernama Annisa. Adek sangat mencintai Abang, mungkin bagi orang lain ini akan terlihat buruk, tapi adek tak peduli. Yang adek ingin kan adalah Abang yang menjadi imam dunia dan akhirat. Dan ya, Allah mengabulkan doaku. Terimakasih karena mau menerima gadis kecil nan usil sepertiku??''
Tama tersenyum lembut menatap Annisa. Binar-binar cinta itu begitu terlihat disana. ''Abang menerima mu sejak kamu masih dalam kandungan Mak kita. Entah kenapa, rasanya sehari saja tidak menyentuh perut Mak dulu Abang merasa tidak enak. Perasaan yang sudah tumbuh sedari kamu masih dalam kandungan Mak kita, kini berlanjut hingga kamu dan Abang telah dewasa. Kita berdua memang ditakdirkan bersama, terlepas dengan cara kita menikah dadakan seperti itu, itu merupakan cara Allah menjawab doa-doa kita berdua,'' imbuh Tama pada Annisa yang sedang menatap wajah tampannya.
Annisa mendekat kan wajahnya pada Tama hingga hembusan nafas yang begitu harum itu menerpa wajah Tama. Pemuda tampan yang sudah matang itu semakin terbuai dengan perlakuan Annisa terhadap nya.
Annisa mengecup kening, kedua mata, hidung, kedua pipi dan terakhir bibir tipis yang berwarna merah jambu milik sang pujaan hati.
Bibir yang tidak pernah merokok sama sekali. Harum nafas yang begitu Annisa sukai. Bahkan apapun yang ada pada diri Tama, Annisa menyukai nya.
Begitu pun sebaliknya, Tama larut dalam buaian yang memabukkan yang baru pertama kali ini ia rasakan. Tama tidak lah nakal dalam bergaul. Ia pemuda yang santun dan ramah pada setiap orang.
Ia sangat menghargai wanita. Bahkan saat Annisa beranjak remaja pun, Tama tidak pernah menyentuh Annisa walau hanya sekedar ujung kukunya saja.
__ADS_1
Tapi saat ini, buaian lembut yang Annisa berikan padanya tidak salah kan? Ia sah menyentuh setiap jengkal tubuh sang pemilik hatinya.
Suara kecapan dan decapan menggema diruangan dapur mereka. Tama terlena begitu juga dengan Annisa. Sepasang anak manusia yang sedang terlena dalam hubungan halal mereka.
Tidak akan ada yang bisa melarang mereka berdua. Mereka berdua pasangan suami Istri. Halal untuk melakukan apapun. Sadar jika sedang di dapur dan juga Tama masihlah memikirkan nasib Annisa yang masih sekolah, ia pun melepaskan pagutan mesra mereka berdua.
Dengan nafas saling memburu mereka berdua terkekeh bersama. ''Kamu sangat nakal, hem??'' Annisa terkekeh.
''Hanya bersama Abang, adek seperti ini. Dan inipun baru pertama kalinya merasakan hal seperti ini. Dulu, teman-teman adek yang lain saja sudah pernah melakukan hal seperti yang baru saja kita lakukan. Adek nggak mau. Adek mau nya sama Abang! Pasti sensasinya berbeda! Dan ya! Benar sekali! Menyenangkan!'' kata Annisa sambil mengedipkan matanya menggoda Tama.
Tama tergelak kencang hingga kepalanya mendongak ke atas. Annisa pun ikut tertawa. ''Hemmm.. betah banget ya duduk di pangkuan Abang kayak gini??'' Tama terkekeh.
Annisa nyengir kuda. Gemas, ia menggoyang-goyangkan pinggulnya di pangkuan Tama. Membuat pemuda dewasa itu melototkan matanya.
''Hentikan sayang! kamu bisa membangunkan ular piton yang sedang tertidur! Jangan memancingnya.. cup.'' bisik Tama di telinga Annisa.
Jantung Annisa berdegup kencang. Ia merasakan ada sesuatu yang mengeras dibalik tempat ia duduk. Sementara Tama semakin mengeratkan pelukannya.
''Abang??''
''Hem..'' sahut Tama hanya dengan deheman saja. Sesuatu yang tertidur itu sudah bangun dengan sendirinya.
Seolah ia tau, jika sarangnya sudah ada di depannya saat ini. Tama semakin menelusupkan wajahnya di ceruk leher Annisa yang tidak menggenakan hijab.
Annisa semakin berdebar. ''Abang..'' panggil Annisa lagi saat merasakan tangan nakal Tama sudah bergeleriya diseluruh tubuh yang tertutup kain satin itu.
__ADS_1
Annisa menggigit bibirnya saat merasakan sesuatu yang lembab dan basah menyentuh buah melon nan padat berisi miliknya. Ia ingin memekik, saking tidak ingin merasakan hal aneh itu.
''Sssttt.. jangan disitu...'' lirih Annisa di telinga Tama yang sedang sibuk dengan buah melon miliknya.
Tama tak peduli. Ia sedang sibuk dengan mainan baru yang begitu ia sukai saat ini. ''Bang, kita belum makan loh.. adek lapar.. ssssttt.. emmmhh..'' Annisa menggigit bibirnya lagi untuk menahan sesuatu yang entah seperti apa.
Tama tersadar, ia menatap Annisa yang juga sedang menatap nya kini. Mata hitam setajam elang itu begitu di selimuti kabut gairah.
Tama bangkit dengan membawa Annisa menuju ke kamar mereka dengan cara menggendong Annisa ala baby koala. Annisa tidak keberatan malah itu yang ia sukai.
Tiba di kamar mereka, Tama membawa Annisa menuju kamar mandi. Ia ingin mandi untuk menyegarkan pikiran dan hasrat yang tiba-tiba saja muncul. Ingin melanjutkan, tapi kasihan dengan Annisa.
Tak di lanjut kan, ia yang jadi pusing sendiri. Terpaksa ia mengambil jalan lain. Ia membawa serta Annisa ke kamar mandi, agar rasa yang sudah di ujung tanduk itu lepas.
Tama masuk ke kamar mandi dan mendudukkan Annisa di closet. Ia membuka baju satu persatu dihadapan Annisa dan hanya tersisa CD saja.
Setelah nya ia mendekati Annisa yang sedang memejamkan matanya tidak ingin melihat tubuh polos Tama. Selama ia menikah dengan Tama, baru kali ini Annisa dihadapkan pada tubuh Tama yang tanpa penutup.
Tama memutar kran dan menghidupkan air hangat di sore hari. Terpaksa ia lakukan agar Annisa tidak kedinginan nanti. Ia menarik lengan sang istri yang masih memejamkan kedua matanya. Tama terkekeh, tapi ia tidak bisa menunda sesuatu yang sudah mendesak ingin keluar itu dari CD nya.
Dengan segera ia melucuti pakaian di tubuh sang istri dan mulai melakukan sesuatu yang seharusnya ia lakukan. Ia terpaksa melakukan hal ini karena hasrat yang sudah bangun akan sulit untuk ia jinakkan kecuali bersama Annisa.
Annisa pasrah dengan semua perbuatan sang suami di tubuhnya. Karena itu adalah sang suami. Mereka larut dalam rasa yang seharusnya terjadi dua tahun lagi. Tapi, kali ini Tama benar-benar tidak bisa menahan nya lagi.
Lagi pun, mereka sah melakukan apapun juga. Karena mereka sudah sah secara hukum dan Agama.
__ADS_1
💕💕💕💕