Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Penjelasan Tama


__ADS_3

''Abang..''


''Sayang..'' sapa mereka berdua bersamaan.


Nara dan Rayyan tersenyum. Mereka berdua melipir ke arah lain. Memberi ruang pada sepasang suami istri beda usia itu.


''Sayang...'' panggil Tama dengan sedikit menegakkan tubuhnya untuk meraih Annisa. Tapi Annisa bergeming.


''Abang Kenapa?? Sakit gara-gara aku tinggal, atau gara-gara wanita calon istri Abang? Gimana sama perjodohan itu? Lancarkah? Kapan kalian menikah? Jangan lupa undang adek ya? Dan ya, jangan lupa jatuhkan talak padaku, sebelum Abang menikahinya!''


Deg!


Deg!


''Sayangku...'' panggil Tama lagi, masih berusaha meraih tangan Annisa yang tidak jauh berdiri darinya.


''Untuk apa?? Untuk mengucapkan kata talak kah? Yuk, aku siap! Aku siap menjanda di usia dini!''


Deg!


Lagi, serasa di tusuk tombak runcing hati Tama saat mendengar ucapan Annisa. Tama menatap Annisa dengan wajah sendu.


Nyyuuuuttt...


Sakit!


Inilah yang Annisa rasakan sekarang. Sakit sekali hatinya saat melihat sang pujaan hati lemah tak berdaya. ''Sini duduk dulu. Abang tidak kuat untuk menggapai mu. Kemari sayang, Abang akan jelaskan! Semuanya. Tanpa terkecuali. Izinkan Abang untuk menjelaskannya, hem? Sssttt...'' desis Tama saat kepala nya terasa pusing lagi.


Annisa seperti di tuntun untuk melangkah mendekati Tama. Tubuh dan hati sejalan. Hanya saja karena terluka, perasaan itu berubah seketika.


Tama tersenyum, ia menggapai lengan Annisa dan menarik menuju kehadapan nya. Ia memeluk erat tubuh Annisa yang begitu ia rindukan.


''Abang kangen banget sama kamu sayang.. jangan pergi.. Abang tidak ingin kamu pergi.. Abang membutuhkan mu, disisi Abang! Tanpa Kami, apalah Abang sayang.. Abang mohon, dengarkan dulu penjelasan Abang, ya?'' pinta Tama masih dengan memeluk erat tubuh Annisa.


Wajahnya tepat berada di dada Annisa. Annisa mengepalkan tangannya. Ingin sekali mengusap kepala Tama, tapi mengingat jika Tama sudah memiliki calon istri, tangan yang sudah terangkat akhirnya turun lagi.

__ADS_1


Tama tau, ia mengurai pelukannya dan menatap dalam pada Annisa. ''Abang tidak menerima perjodohan itu. Abang Tidka menginginkan nya. Yang Abang inginkan itu kamu, sayang. Bukan wanita lain..'' jelasnya pada Annisa.


Annisa menatap datar padanya. Sakit sekali melihat sang pujaan hati begitu dingin terhadap nya. ''Sayang.. Abang tidak seperti yang kamu pikirkan. Abang masih sama. Abang diam karena tidak ingin menyinggung perasaan Papi. Taukah kamu, saat Papi mengatakan hal itu dihadapan semua orang, siapa dulu yang Abang lihat? Papi? Atau kamu waktu itu?''


Annisa menatap manik mata hitam elang Tama. Mata sayu penuh cinta terhadapnya. Annisa mengalihkan tatapannya ke arah lain. Tama terkekeh.


''Kamu sayang! Kamu! Bahkan yang Abang pikirkan saat itu kamu. Apa pikiran mu, bagaimana perasaan mu terhadap Abang setelah mendengar ucapan Papi. Kamu tau sayang, gadis yang bernama Husna itu memang sangat ingin mendekati Abang. Tapi Abang tidak memberi jarak padanya. Tapi dasar Papi dan kakek, suka sekali menggoda Abang. Bahkan sepanjang perjalanan kami pulang, Abang di goda habis habisan oleh dua paruh baya itu.''


Tama menghela nafasnya. ''Abang tidak berniat ingin menerima lamaran gadis itu. Abang nggak mau sayang. Abang maunya kamu. Bukan yang lain. Papi dan kakek sengaja menggoda kita berdua. Mereka ingin menguji cinta kita. Apakah kita kuat menghadapi guncangan itu atau memilih mundur?''


''Abang bertahan sayang, untukmu. Bukan untuknya. Tapi.. disaat Abang membutuhkan mu di sisi Abang agar kita saking menguatkan dalam ujian rumah tangga kita yang baru seumur jagung ini, kamu malah pergi. Pergi tanpa pamit. Tanpa mendengarkan penjelasan Abang dulu..'' lirih nya lagi.


Tama memejamkan kedua matanya saat tangan Annisa menyentuh tubuh tegapnya. Ia tersenyum di dada Annisa. Walaupun sedang marah, tapi Annisa tetap ingin menyentuh tubuh sang suami untuk menguatkan.


Tama semakin mengeratkan pelukannya. ''Kejadian sewaktu di pantai batu putih itu, kamu salah paham sayang. Kamu salah paham sama Abang. Kamu tau? Saat disana, semua orang mengabaikan Abang, termasuk kamu!''


Deg!


Annisa memeluk tubuh Tama semakin erat. Bahunya berguncang. ''Kamu sibuk dengan kedua ponakan kita tanpa kamu tau kalau kamu sudah mengabaikan kehadiran Abang! Abang sendirian disana, tanpa ada yang menemani. Padahal waktu itu, tubuh Abang sudah tidak fit. Abang demam.''


Isakan Annisa terdengar ke telinga Tama. Ia pun semakin erat memeluk tubuh sang istri yang selama dua Minggu ini begitu ia rindukan.


''Abang demam, kepala Abang pusing, tapi tetap Abang paksakan ikut kalian ke pantai. Abang ingin tidur sama kamu malam itu, tapi kamu marah sama Abang. Gara-gara ucapan Papi dan kakek. Abang harus apa coba? Abang menahan diri agar tidak menemui mu. Hanya Algi yang tau, jika Abang saat itu demam. Abang menyuruhnya untuk membeli obat di apotek.''


''Setelah minum obat, baru lah mendingan. Tapi Abang sangat ingin tidur denganmu. Abang datang ke kamar mu. Tapi terkunci. Terpaksa Abang balik lagi ke kamar tamu. Abang tidur sendirian di dalam kamar itu tanpa kamu.''


''Hingga ke esokan paginya, kita jalan-jalan ke pantai bersama. Dan itu pun kamu tidak mau semobil sama Abang. Dan yang kamu lihat disana itu, semuanya tidak benar. Gadis itu yang mendekati Abang. Bukan Abang yang mengajaknya untuk bertemu. Pertemuan itu tanpa di sengaja. Dan saat Abang melihatmu, disitu lah kamu pergi. Boleh Abang tau, apa yang menyebabkan kamu pergi tanpa mau berbicara sama Abang, sayang??''


Tama mengurai pelukannya dari tubuh chubby Annisa. Ia menatap mata bulat bening mirip Papi Gilang itu.


Annisa masih sesegukan. ''Jawab sayang, apa yang menyebabkan kamu pergi dari Abang sampai-sampai kamu hari itu juga pulang ke Medan tanpa pamit sama Abang? Taukah kamu sayang? Abang jatuh tak sadarkan diri saat membaca Suratmu waktu itu. Belum lagi, ketika Abang dirawat di rumah sakit tidak ada yang menemani Abang. Kamu pergi, Mak pun pulang karena Papi yang memintanya. Abang kebelet ingin buang air, Abang bangun. Tapi kepala ini begitu pusing.''


''Tspi tetap Abang paksakan. Hingga Abang menabrak pintu kamar mandi saking pusing nya. Tubuh Abang oleng ke belakang hingga jatuh membentur tepi meja keramik yang terbuat dari semen. Abang tak sadar kan diri. Yang Abang ingat saat itu adalah.. kamu! Abang sangat ingin bertemu denganmu, walau hanya mendengar suara saja. Abang kritis dan koma selama seminggu, Sayang..'' jelas Tama kepada Annisa, yang semakin membuat Annisa merasa bersalah.


Tama membawa duduk Annisa di pondok dekat dengannya. Ia dudukan dan duduk saling berhadapan. Tama tersenyum saat melihat Annisa sesegukan seperti itu. Ia mengusap bulir bening yang mengalir di pipi chubby nya yang sudah agak tirus.

__ADS_1


''Sayang, dengar Abang! Kamu belum jawab pertanyaan Abang. Kenapa kamu pergi waktu itu? Tanpa mendengarkan penjelasan Abang lebih dulu? Apakah... ada sesuatu yang kamu pikirkan saat itu? Ataukah ada sesuatu yang mengganjal dihatimu? Katakan! Abang ingin mendengar nya. Abang sudah menjelaskan nya padamu. Hem?''


Annisa tidak menyahut, tapi mata basah itu menatap tajam dengan sendu. Ada luka disana. Tapi entah apa? Tama pun tak tau. Annisa lebih memilih bungkam daripada harus jujur pada nya.


''Sayang...''


''Hiks.. nggak ada! Sebaiknya Abang pulang! Sudah bertemu dengan ku bukan?? Pulanglah. Istirahat dirumah. Aku mau masuk lagi dan harus bersiap. Rayyan! Nara!''


''Iya Kak.''


''Antarkan Abang pulang kerumah Mama Linda. Agar ia ada yang mengurusnya. Kakak mau masuk dulu. Assalamualaikum!''


''Waalaikum salam...''


Rayyan dan Nara terbengong melihat Annisa seperti itu. Sementara Tama? Pemuda dewasa itu menundukkan kepalanya dengan tubuh bergetar.


''Dia menolak Abang, Dek.. Dia menolak Abang! Abang harus apa?? Apakah Abang harus mati dulu, baru dia percaya sama Abang??''


Deg!


Deg!


''Astaghfirullah, Abang!''


💕💕💕💕


Hayo loh.. masa iya Abang Tama harus mati dulu sih? Ck!


Hehe.. mumpung nunggu cerita Bang Tama update, yuk mampir dulu di cerita temen othor yang satu ini.



Jangan lupa mampir ye?


Like dan komen selalu othor tunggu! Mumpung masih pagi, dan ini hari Senin, othor cuma mau ngingatkan. Vote nya jangan lupa ye?

__ADS_1


__ADS_2