Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Syakir Abbas Syahputra


__ADS_3

''Cih! Giliran anak yang lain datang, di Sayang! Giliran aku? Aku sering kali di marahi! Selalu saja! Adek Arta yang buat masalah tapi selalu aku yang kena batunya! Sebenarnya aku ini anak Mak sama ayah bukan sih?!''


Deg!


''Syakir!!!'' seru Bunda Zizi meradang mendengar ucapan putra sulungnya itu.


''Apa?!'' sahut Syakir dengan suara ikut meninggi juga. Annisa menghela nafasnya.


''Dek...'' panggilnya. Syakir menoleh pada Annisa yang menggelengkan kepalanya pertanda tidak boleh.


Syakir menunduk. Ia mengepal kan kedua tangannya dan memilih bangkit menuju keluar tanpa sepatah katapun. Ia berlalu menuju taman rumah sakit. Sampai disana, ia duduk seorang diri dengan air mata berlinangan.


Suara Isak tangisnya Sampai terdengar pada orang di sekitar nya. Sementara Annisa di dalam kamar sana menatap sendu kedua orang tuanya itu.


''Ayah.. Bunda.. jangan terlalu keras kepada Syakir. Syakir tidaklah salah dalam hal ini. Jangan sekali menuduhnya dan merindingnya sekali saja membuat masalah. Ada hal yang kalian tidak tau tapi kakak tau.''


Deg!


''Apa maksudmu?'' tanya Bunda Zizi masih kesal dengan putra sulungnya hingga terbawa kepada Annisa.


Annisa tersenyum lembut menatap Bunda Zizi. ''Biarkan kakak yang bicara padanya. Ingat Yah, Bunda. Terkadang yang terlihat itu selalu salah. Dan terkadang pun yang tertutup bisa jadi membuat salah. Lebih jeli lah dalam memperhatikan sikap Syakir dan Arta. Kakak tau seperti apa sifat keduanya. Arta. Sekali kalian banggakan. Sedangkan Syakir?? Sekali kalian tuduh tanpa bukti. Kakak ingatkan sekali lagi. Sebelum menuduhnya hingga membuatnya terluka hanya karena mendengar pembelaan dari anak yang lain yang sangat pandai bersilat lidah, kalian berdua tega menghukum orang yang tidak bersalah. Kakak ke taman dulu. Ingin menemui Syakir. Ingat ayah, Bunda. Semua ini karena dufuksn kalian berdua. Sebelum menyesal, lebih kembali lsh kedua putra kalian itu.''


Deg!


Deg!


''Kak...''


''Sayang...''


''Nak??''


Ceklek.


Pintu tertutup rapat dari luar. Menyisakan ke empat orang yang berdiri mematung karena ucapan Annisa baru saja.

__ADS_1


''Dek,'' Bunda Zizi menoleh.


''Aku nggak tau bang. Demi Allah. I i aja taunya dari Annisa. Sebenarnya siapa yang salah disini. Aku harus bicara sekali lagi pada Arta. Jika sampai anak kamu itu berbohong kepada ku, maka jangan salahkan aku. Kalau aku bakalan jadi Mak kejam untuknya. Akan ku giling cabe sekilo dan kulumuri di mulut pedasnya itu! Biar bertambah pedas mulut lancip dan pedasnya itu!'' ketus Bunda Zizi begitu geram terhadap putra keduanya itu.


Ayah Emil melototkan matanya melihat Bunda Zizi. Tama dan Mitha terkekeh.


Sedangkan Annisa, ia masih berjalan mengikuti lorong luas rumah sakit untuk menuju taman belakang rumah sakit itu. Ia terus menyusuri nya hingga tiba di ujung lorong, ia melihat Syakir sedang tersedu dengan kepala ia sembunyikan di kedua lututnya.


Annisa kasihan melihatnya. Ia berjalan perlahan menuju Syakir yang sedang terisak. Semua pasang mata melihatnya dengan tatapan menyelidik. Namun, Annisa tidak peduli. Ia tetap melangkah kan kaki nya menuju Syakir yang sedang tersedu.


Ia duduk di depan Syakir. Tangan kiri memegang bahu Syakir dan tangan kanannya mengusap kepala Syakir dengan sayang. Merasa kepalanya sedang diusap dengan lembut, Syakir mendongak.


Grep!


Annisa terhuyung ke belakang karena tubrukan dari Syakir. Annisa terkekeh. ''Kamu ih. Hampir saja kakak jatuh. Sudah.. jangan menangis. Laki kok nangis! Malu euuyy sama nyamuk!'' celutuk Annisa membuat Syakir terkekeh walau sedang menangis.


Annisa pun ikut Terkekeh. Tama yang berdiri tidak jauh dari mereka pun ikut terkekeh. Syakir mengurai pelukannya dari tubuh Annisa dan menatap Annisa dengan tatapan sendunya.


Annisa tersenyum. Ia mengusap wajah basah sang adik dengan menggunakan tisu yang ia bawa. Lagi, mata bulat mirip bunda Zizi itu berkaca-kaca.


''Sudah.. jangan menangis. Kamu ingin punya uang tidak??''


''Mau lah Kak. hiks. Agar Abang nggak minta lagi sama Mak dan ayah..'' lirihnya dengan menunduk.


Annisa tersenyum. ''Kamu jago melukiskan??''


Syakir mengangguk lagi. ''Iya kak. Emangnya kenapa??''


Annisa masih saja mengulas senyum nya. ''Abang!!''


Deg!


Tama terjingkat kaget. Padahal ia sedang khusyuk sekali mendengar ucapan Annisa untuk adik kandung se ayah dengan nya ini. Tama gelagapan. Annisa terkikik geli.


Syakir kebingungan. ''Kaksk manggil Abang yang mana?? Abang kan disini??'' ucapnya dengan kebingungan.

__ADS_1


Annisa tertawa terbahak. ''Hahaha.. kakak tuh lagi bang Tama. Bang Tama!!! keluar!! perlu adek yang datang kesitu untuk batik kuping Abang kayak Mama Linda menariknya??'' seru Annisa dengan suara sedikit keras.


Tama melotot kan matanya. Ia berdehem untuk mengurangi rasa malu dan terkejut di hadapan Syakir. Ia tersenyum meringis melihat Syakir menatapnya dengan terkejut.


''Sejsk Kapan Abang disitu?'' tanya Syakir dengan tatapan mengintimidasinya.


Annisa terkekeh lagi. ''Sejak kakak datang kesini. Sini Bang. Adek butuh bantuan Abang dalam hal ini.'' katanya pada Tama.


Tama mengangguk dan berdehem. Pria dewasa Annisa itu melengos ke arah lain saat Syakir mengintimidasi nya dengan tatapan tajamnya.


Annisa terkikik geli. ''Udah ih. Kita pergi sekarang aja ya?''


''Mau kemana kak? Jajak kan baru saja tiba? Kok malah pergi lagi??'' ucap Syakir mendadak sendu.


Annisa lagi dan lagi terkekeh. ''Ayo Bang. Bawa kita keluar menuju toko ponsel dekat sini. Kalau nggak salah tadi, di ujung jalan ini ada toko ponsel deh.''


Tama mengangguk, ''Oke. Ayo! Lebih cepat lebih baik!''


Annisa tertawa. ''Emsng nya Abang tau untuk siapa ponsel ini??''


''Nggak. Yang penting, iya in aja dulu.'' sahut Tama yang akhirnya membuat Annisa tidak tahan untuk tidak tertawa melihat Tama melengos lagi ke arah lain karena malu dengan saudara ipar kecilnya ini.


Syakir masih menatap tidak bersahabat dengan Tama. Tama pura-pura cuek. Padahal ia udah kadung malu pada Syakir karena ketahuan menguping tadi.


''Udah ih, Syakir Abbas Syahputra! Turunkan pandangan matamu dari Abang ipar mu! Ingat, jika bang Tama ini suami kakak loh..'' peringat Annisa pada Syakir yang membuat adik nya melotot tak percaya.


''Apa?! Bagaimana bisa?!'' pekik Syakir dengan suara naik satu oktaf.


Tama terkekeh. ''Ya bisa atuh, Dek! Kakak punya buktinya kok. Nih!'' tunjuk Annisa pada ponsel pintar milik Tama yang ia ambil paksa dari saku celana Tama.


Hingga membuat Tama melototkan matanya pada Annisa. Istri kecilnya itu tertawa. Tama menggelengkan kepalanya.


Annisa menunjukkan foto pernikahan mereka beberapa bulan yang lalu pada Syakir, membuat mulut Syakir menganga. Gemas, Annisa meraup wajah adiknya itu hingga sang empu terkejut bukan main dari menatap Tama.


Annisa tertawa. ''Ih, kakak apaan sih?!'' protesnya pada Annisa.

__ADS_1


Annisa dan Tama sama-sama tertawa. Syakir masih saja menatap Tama dan Annisa. ''Hemm.. mirip sih. Tapi kok bisa sama pria tua sih kak?''


Tama melototkan lagi matanya. Annisa tertawa puas melihat wajah masam Tama. Syakir mah, bodo amat!


__ADS_2