
''Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh..'' ucap Annisa sambil tersenyum.
''Waalaikum salam warahmatullahi wabarokatuh!'' sahut semuanya.
''Pertama-tsma saya ucapkan terimakasih banyak kepada ustadzah Hanim yang telah Sudi menerima saya menjadi murid disini hingga tiga tahun lamanya.
Saya tidak bisa berkata apa-apa saat ini. Saya sangat terkejut dengan berita ini. Sungguh! Saya tidak menyangka jika usaha saya selama ini membuahkan hasil yang memuaskan! Bukan memuaskan, tetapi sangat memuaskan!'' ucap Annisa hingga mengundang tawa para orang tua dan juga murid lainnya.
''Awal mula saya masuk kesini itu sama seperti kalian dulunya. Rada-rada bandel gimana gitu. Tetapi ustadzah Hanim dengan setia mengajari saya hingga saya bisa menjadi diri saya sendiri.
Boleh berekspresi tetapi ingatlah diri sendiri. Jangan karena ingin berprestasi, kita yang perempuan ini melupakan adab kita sebagai sebagai seorang muslim yang beriman.
Percuma punya ilmu, tetapi tidak di terapkan dengan baik. Percuma peringkat kelas jika kita sombong kepada yang dibawah kita. Mak saya pernah bilang.
Kamu boleh jadi diri sendiri. Tapi ingat tentang fitrah mu sebagai seorang perempuan. Perempuan itu tidak seperti laki-laki yang memiliki aurat sebatas pusar dan lutut saja. Tetapi kita. Kita seluruh tubuh harus tertutup.
Dan kita juga harus bisa memahami ilmu yang kita dapat dipesantren selama kurang lebih tiga tahun lamanya. Jangan hanya memakai gamis terus bisa bersenang-senang diluar sana bukan dengan mahram kita!''
Deg!
__ADS_1
Deg!
Seseorang mengepalkan tangannya. Ia merasa tersindir dengan ucapan Annisa.
''Kita sebagai perempuan harus menjaga Marwah kita dengan baik. Adab dalam bertamu, menutup aurat, dan juga segala hukum fiqih sudah kita pelajari. Alangkah baiknya kalau ilmu yang kita dapatkan itu kita pergunakan dengan baik. Jangan hanya dipajang di dinding saja untuk dipamerkan kepada orang lain. Bahwa kita ini seseorang lulusan pesantren!
Buat apa lulusan pesantren jika akhlaknya tidak ada. Ilmunya tidak di gunakan? Pesan saya kepada adik-adik yang akan terus belajar disini.
Pergunakan ilmu yang kamu dapatkan di pesantren ini untuk dirimu dan juga orang lain. Itu akan bermanfaat bila kita berbagi. Ilmu akan terbuang sia-sia jika tidak kita terapkan dengan baik.
Ingin pintar? Belajar yang rajin! pingin sukses usaha yang giat? Tetapi jika kamu ingin bodoh? Lebih baik tidak usah sekolah. Boleh tidur sajalah dirumah!'' seloroh Annisa hingga membuat semua nya tertawa karena Kelakar nya itu.
''Waalaikum salam warahmatullahi wabarokatuh... Yeeeee.. Kak Annisa aaa!!!'' Seru mereka semua.
Tama tertawa. Semua yang ada disana pun ikut tertawa. Annisa turun ke samping kiri Tama.
''Alhamdulillah, Annisa sudah menyampaikan sepatah dua kata untuk motivasi adik-adiknya disini. Terimakasih untuk para wali murid yang sudah hadis di acara ini. Dan untuk nak Tama. Saya tunggu kamu di kantor ya? Untuk mengambil surat undangan dari kampus di Bandung. Yang lain juga. Bukan hanya wali Annisa saja! Cukup sekian, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh..''
''Waalaikum salam warahmatullahi wabarokatuh!'' Sahut semuanya sambil bertepuk tangan ria.
__ADS_1
''Ayo, Abang pegangin! Kok merengut gini sih jalannya?'' tanya Tama pada Annisa.
''Kakinya kram Abang!'' sahut Annisa hingga membuat Mutia dan Sarah terkekeh. Mereka semua turun dari podium dan segera menuju meja tempat mereka duduk.
Tama duduk bersama Annisa, Sarah dan Mutia. Sedang kedua orang tua itu duduk di samping mereka. Pada meja di sebelahnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas lebih empat puluh lima menit. Waktunya untuk makan siang.
Para pelayan yang di utus Tama untuk membantu sekolah Annisa dengan sigap melayani seluruh tamu mereka.
''Selamat menikmati Tuan Adrian! Terimakasih karena sudah merekomendasikan restoran sederhana saya ini. Terimakasih banyak!'' ucapnya pada Tama.
Tama dan Annisa tersenyum, ''Sama-sama Buk. Semua itu karena Annisa. Dialah yang memilih restoran ibuk dan merekomendasikan nya kepada saya. Karena kebetulan sekali pemilik sekolah ini bertanya kepada saya.''
Ibuk Fatma tersenyum. ''Tentu, semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada rumah tangga kalian berdua! Dan segera dihadiahi momongan.''
''Amiin..'' sahut semua yang ada di meja itu.
Sedangkan seseorang dimeja seberang sana mengepalkan tangannya hingga kuku-kuku nya memutih.
__ADS_1
Tunggu kau Annisa!Aku akan merebut Adrian darimu! Cih!