Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Saldo ATM Annisa


__ADS_3

''Baiklah. Tapi saya cek dulu ya berapa saldo kamu?'' katanya masih tidak percaya pada Annisa. Wajah setengah tua itu begitu kentara terlihat jika ia kurang yakin dengan gadis sebaya putrinya itu.


Annisa terkekeh, ''Silahkan!'' sahutnya masih berusaha ramah.


Dengan segera suster itu menggesek kartu itu di papan gesek kartu khusus ATM. Ia menyuruh Annisa untuk menekan kode pin nya. Kemudian ia menunggu sebentar.


Setelah terdengar seperti suara,


Klik.


Pada mesin kecil itu, suster rumah sakit Kasih ibu itu segera melihat nominal yang ada di ATM Annisa. Matanya membelalak sempurna saat melihat jumlah nol yang begitu banyak disana.


Deg!


Deg!


Annisa terkekeh kecil, ia merasa lucu melihat suster itu kini berwajah pias. ''Ada apa Suster?? Nominal uang pembayarannya kurang kah??'' tanya Annisa masih dengan terkekeh kecil.


''I-ini.. me-melebihi yang seharusnya! Darimana kamu mendapatkan uang sebanyak ini? Nggak mungkin kan gadis kecil seperti mu sudah memiliki uang sebanyak ini di ATM?? Berapa umur mu??'' selidik Suster itu pada Annisa.


Annisa tersenyum, ''Umur saya belum genap delapan belas tahun. Uang itu murni hasil keringat saya. Belum lagi uang yang saudara saya kasih ke saya sering saya tabung. Nggak banyak sih. Sekali kasih uang jajan satu juta untuk sebulan. Belum lagi Abang saya yang tentara. Beliau sering mengirimi untuk saya sebanyak lima juta perbulan untuk biaya sekolah saya selama di pesantren. Walau Mak kami sudah melunasi nya semua. Tetapi Abang saya itu tetap mengirim kan nya. Jumlah uang dalam saldo ini sesuai dengan perhitungan saya suster!''


''Pertama dari Abang saya yang tentara 5 juta perbulan dikalikan 24+8 bulan sama dengan 16 juta dan tidak pernah saya sentuh sama sekali. Belum lagi kakak saya yang punya rumah sakit IRA SARASVATI sering mengirimi saya uang jajan sepuluh juta setahunnya dikali kan 32 bulan sama dengan 32 juta. Lain lagi dari Papi saya. Beliau sering mengirimi saya uang walau Mak saya sudah memberikan nya. 15 juta setahun dikalikan 32 bulan sama dengan 38 juta. Dan ya satu lagi. Abang saya. Abang tercinta saya. Bang Adrian Pratama. Setiap kali ia datang selalu memberikan saya uang cash lima juta setiap kali berkunjung. Jika dalam sebulan ia mengunjungi says ada empat kali berarti 20 juta dalam sebulan. Dikalikan 32 bulan sama dengan 64 juta untuk uang itu saja. Belum lagi dari hasil saya menulis itu bisa menghasilkan 5 sampai 8 juta perbulan. Jadi ya.. segitu jumlah semuanya mulai dari umur saya 17 hingga hampir memasuki 18 tahun usia saya kurang tiga bulan lagi. Berapa jumlahnya suster? Kalau tidak salah.. dari penghasilan menulis saya saja sekitar 160 juta selama setahun lebih delapan bulan ini. Kalau digabung semua berarti menjadi.. 160+16+32+38+64\=312 juta sekian. Benar tidak suster???'' tanya Annisa ada suster yang bername tage Karisma.


''Apa?!'' serunya dengan suara meninggi. Annisa tertawa. Wajah suster Karisma begitu pucat saat ini.


''Kenapa Suster? Salah ya kiraan saya? Disitu banyak rupanya jumlah uang saya? Saya nggak pernah ngecek sih. Tiap kali dapat uang saya langsung setor ke bank melalui agen Brilink. Jadi saya tidak pernah tau berapa jumlahnya. Berapa suster?'' tanya Annisa masih dengan senyum ramahnya.


Suster Karisma menatap Annisa dengan raut wajah yang begitu yang begitu terkejut. ''Di-disini.. ju-jumlah sa-saldonya itu... em-4ratus 96 juta 543ribu rupiahhhh....'' sahutnya sambil melemas dan jatuh terduduk di kursi tunggu di bagian resepsionis itu.


''Hooo .. berarti udah nambah lagi ya? Emm .. kayaknya bang Tama sama bang Lana deh, eh nggak Ding! Pasti kakak Ira atau mungkin dari hasil menulis saya ini.. hehehe.. rejeki nomplok euuyy.. Alhamdulillah bisa bayar biaya pengobatan ayah dari usaha menulis ku!''


''Astaghfirullah.. ya Allah ..''

__ADS_1


''Eh? Kenapa suster? Ada yang salah dengan ucapan saya??'' tanya Annisa memastikan ucapan Suster Karisma yang mengucapkan istighfar berulang kali. Annisa pura-pura polos di depan Suster itu.


Padahal Annisa tidak sepolos yang ia kira. Annisa tertawa jahat dalam hati.


Astaghfirullah!


Annisa menggelengkan kepalanya mengingat pemikiran jahatnya baru saja. ''Suster??'' ulang Annisa lagi


Suster Karisma sekuat tenaga bangkit dan berdiri tegak lagi dihadapan Annisa yang sok berlagak polos. ''Ba-baik. Saya kirimkan ke rekening rumah sakit dulu. Kalau nanti ada masalah lagi dengan Pak Milham, saya akan menghubungi kamu. Kira-kira siapa yang bisa saya hubungi?'' tanya suster Karisma setelah beberapa saat bisa menormalkan rasa terkejut nya itu terhadap nominal saldo di rekening miliknya.


''Nomor Abang saya saja. Adrian Pratama. 08226543xxxx. Dan saya mohon pada suster, tolong jangan beritahukan kepada kepada Bunda saya bahwa saya yang membayar nya. Katakan padanya, kalau bang Tama lah yang melunasinya. Bisa kan suster?'' pinta Annisa begitu serius


Suster Karisma sampai tertegun melihat nya. ''Kenapa??'' tanyanya


Annisa menghela nafasnya. ''Saya tidak mau beliau mengganti uang itu. Saya ikhlas memberikan untuk Ayah saya. Walau sedari kecil saya hidup terpisah dengan nya, tapi saya tetaplah darah dagingnya. Biarlah menjadi rahasia siapa yang melunasi semua biaya beliau dirumah sakit ini. Saya memberikan nama bang Tama, jika beliau bertanya. Tapi lebih baik di tutupi saja suster. Saya yakin, beliau pun akan mengganti kan yang itu kepada Abang saya.'' Jelas Annisa yang membuat Suster Karisma lagi dan lagi tertegun dengan ucapan Annisa.


''Mulia sekali hatimu nak .. sungguh beruntung lelaki yang mendapatkan mu nanti. Sangat beruntung! '' gumam suster Karisma di dalam hati


''Kakak!!''


''Ya sayang? Kenapa adek kemari?? Bunda mana??'' tanya Annisa sambil berjongkok menyamakan dirinya dengan Bella.


Bella tersenyum meringis. ''Bunda lagi ngomel-ngomel sama Abang disana. Katanya Abang buat masalah di sekolah dan berakhir di skor selama dua Minggu. Adek datang kemari untuk menyusul Kakak yang tadi kata kakak cantik itu, kalau kakak sedang kencing. Iyakah?? Terus, kenapa kakak bisa disini??'' tanya Bella dengan bingung.


Wajah polos Bella begitu menggemaskan bagi Annisa.


Cup!


Annisa mengecup pipi Bella Karena gemas. Bella tersenyum karena geli. ''Kakak ada urusan disini sebentar. Tunggu dulu ya?''


''Oke!'' sahut bocah kecil penurut itu. Annisa bangkit dan melihat suster Karisma menyodorkan kartu tipis itu kepada nya.


''Terimakasih Suster!''

__ADS_1


''Sama-sama Nak. Semoga ayahmu cepat sembuh ya?''


''Amiiin...'' jawab Annisa dan ingin segera berlalu dari bagian resepsionis itu.


''Ayo Dek!'' ajaknya pada Bella. ''Ayo!'' sahut Bella begitu senang.


Mereka berdua berjalan sambil tertawa bersama karena Bella mengadu padanya kalau Abang Syakir anak ayah Emil dari bunda Zizi sedang di Omelin oleh Bunda Zizi.


Sementara Tama yang baru saja tiba dirumah sakit itu langsung berlari saat sekilas melihat Annisa disana. ''Tunggu Sayang!!'' Seru Tama pada Annisa sambil berlari kecil mengejar Annisa.


Annisa berbalik. Ia tersenyum. ''Abang??''


''Ya, ayo kita masuk. Loh, ini siapa??''


Annisa tertawa. ''Ini Bella bang. Putri bungsu ayah bersama bunda Zizi.


''Hoo .. gimana kabar ayah??''


Mereka bertiga berjalan beriringan dengan Tama merangkul mesra bahu Annisa. Tidak terlihat seperti Adik Abang, tapi seperti pasangan.


💕💕💕💕


Like dan komen nya jangan lupa! 😘😘


Sbilsn nunggu cerita Bang Tama update, mampir kesini dulu yuk. Rekomendasi cerita yang sangat bagus untuk kamu baca. Ceritanya seru loh..


karya nya Author Goresan Pena



Cus kepoin!


Othor tunggu ye?? 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2