Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Cinta sampai mati


__ADS_3

''Bukannya bertambah berkurang, malah bertambah parah. Jika boleh adek memilih.. lebih baik adek mati daripada harus melihat Abang bersanding dengan wanita lain!''


Deg!


Deg!


Jantung Tama berdegup kencang dan begitu sakit rasanya mendengar kan ucapan Annisa yang begitu membuatnya takut. Takut, akan hal yang belum pasti terjadi.


''Jangan bicara seperti itu! Abang nggak suka! Abang mau kita bersama-sama sampai tua! Ya.. walaupun kamu lebih muda dari Abang, tapi Abang tetap menginginkan mu hidup bersama Abang sampai ajal menjemput kita. Kamu segalanya untuk Abang, sayang.. jangan katakan itu lagi. Abang tidak sanggup jika harus kehilangan mu. Kamu tau kan, seperti Abang saat tau kamu jatuh ke jurang demi menyelamatkan Pak Bram??''


Annisa mengangguk dan tersenyum, ia memeluk kembali leher Tama. Begitu pun dengan Tama. Ia membalas pelukan itu tak kalah erat lagi.


''Jika saat itu Abang terlambat sedikit saja.. kamu pasti sudah tiada sayang. Abang akan ikut bersama mu saat itu. Sungguh, Abang tidak main-main waktu itu. Antara hidup dan mati Abang denganmu. Abang rela meninggalkan Azura demi dirimu. Kamu segalanya untuk Abang, sayang. Kamu hidup Abang. Jika kamu pergi.. maka tubuh ini hanya tinggal Raga saja. Sedang seluruh kehidupan ini akan ikut pergi bersama mu.. Abang sangat mencintai mu sayangku. Sangat!'' lirih Tama semakin erat memeluk tubuh berisi Annisa yang sudah bergetar karena menangis.


''Adek juga sangat cinta sama Abang. Nggak salah kan ya? Kalau adek mencintai Abang angkat sendiri??'' tanya Annisa sembari mengurai pelukannya dari tubuh Tama.


Annisa menatapnya dengan dalam, Tama tersenyum dan menggeleng. ''Cinta tidak pernah salah dalam menemukan pasangan nya. Kita memang ditakdirkan untuk bersama sayang. Masih ingat nggak kamu, apa yang kamu katakan saat kamu akan terjatuh ke dalam jurang waktu itu??'' Annisa mengangguk.


''Inilah yang sekarang terjadi kepada kita berdua sayang. Kamu memang di ciptakan untuk Abang. Kamu terbuat dari tulang rusuk Abang. Sebanyak apapun wanita, yang akan mendekati Abang mereka semua pasti akan tersingkir karena dirimu. Dirimu yang begitu kuat berdiri di samping Abang, tidak bisa meluluhkan mereka semua.'' Annisa tersenyum haru. Ia menangis lagi di depan Tama.


Masih teringat jelas empat tahun yang lalu saat Annisa ikut kemah bersama seluruh murid dan para guru.


Waktu itu Annisa tidak ingin pergi. Karena Tama melarang nya dengan alasan firasat buruk. Tapi Annisa tidak percaya. Dengan nekad, Annisa akhirnya pergi juga.


Hingga ke esokan harinya, di saat Tama sedang berbicara penting dengan Azura perihal hubungan mereka, Tama di kagetkan dengan berita kehilangan Annisa yang jatuh ke jurang.


Flashback


''Ada apa kamu menginginkan bertemu disini? Disini sepi loh.. nggak baik berduaan disini!'' kata Tama pada Azura yang waktu itu masih sama- sama satu fakultas tapi beda jurusan.


Azura mengajak bertemu Tama di belakang fakultas yang begitu sepi. Tapi pemandangan di belakang fakultas itu begitu indah dan sedap di pandang mata.


Di belakang fakultas itu adalah sawah para petani sekitar dan juga taman bunga yang sengaja di tanam oleh pemilik fakultas tempat mereka menuntut ilmu.

__ADS_1


Azura terkekeh, ''Abang itu kok mikirnya kejauhan sih?? Aku tuh ya ngundang Abang kemari ingin mengatakan sesuatu sama Abang! Hal yang selama ini selalu ku pendam sendiri. Tapi tidak lagi dengan hari ini.'' imbuhnya masih dengan tersenyum menatap Tama.


Tama mengernyitkan dahinya, ''Maksudmu??''


''Maksudnya adalah aku ingin mengatakan kalau aku menyukai Abang sejak kita masih kelas dua SMP dulu. Mau nggak Abang jadi pacar aku? Kalau Abang nggak mau kita langsung nikah aja gimana??''


Tama mengerjab mendengar ucapan Azura yang tanpa rem itu. ''Kamu... melamar ku begitu??''


Azura tertawa. ''Ya.. lebih tepatnya begitu. Tidak salah kan??'' tanya Azura masih dengan kekehan di bibirnya.


Tama menghela nafasnya. ''Maaf Azura. Tapi Abang tidak bisa, Azura. Sekali lagi, maaf!'' ucap Tama dengan segera berdiri dan ingin meninggalkan Azura seorang diri disana.


Azura tertegun dengan ucapan Tama. Melihat Tama yang beranjak pergi, Azura mencekal satu tangan Tama.


''Tunggu Bang! Tapi kenapa?? Kenapa Abang menolakkku? Bukankah selama ini Abang juga menyukai ku??''


Lagi dan lagi Tama menghela nafasnya. Lelah rasanya menghadapi Azura yang begitu keras kepala. ''Tidak ada apa-apa Azura. Abang memang belum siap untuk menikah sekarang. Kuliah Abang belum selesai! Dan.. untuk hal Abang menyukai mu, kamu salah paham Azura. Abang tidak pernah menyukaimu. Abang memang seperti inilah orang nya. Selalu perhatian kepada siapa saja. Maafkan Abang, Azura.. tapi Abang tidak bisa menerima lamaran mu!''


Deg!


''Maafkan Abang Azura.. Abang-,''


Triing..


Triing...


Triing...


Suara ponsel Tama berbunyi. Disana tertera nama wali kelas Annisa yang sedang menghubungi nya. Tama mengernyitkan dahinya.


Ia menggeser warna hijau itu dan berbicara pada wali kelas Annisa. ''Maaf Azura, Abang harus berbicara dulu dengan wali kelas Annisa. lepaskan tangan Abang!'' titahnya dengan suara lembut namun tegas.


Azura mengangguk. Dengan segera ia melepaskan cekalan tangannya dari tangan kekar Tama.

__ADS_1


''Halo, assalamualaikum- apa?!'' pekik Tama begitu terkejut.


Wajahnya mendadak pucat saat ini. Azura menatap Tama dengan bingung. ''Siapa Bang??'' tanya Azura pada Tama.


Tama tak menyahut, wajahnya pucat pasi seperti tak ada darah sama sekali. ''Tolong Pak Adrian! Anda harus segera datang ke perkemahan! Annisa dalam bahaya! Kami sudah menemukan nya, tapi Annisa saat ini terjebak di dalam jurang bersama seorang pria paruh baya yang juga ikut terjatuh karena menolongnya-,''


''Abaaaaaaaannnggggg.... tolongin adeeeeeeekkkk...'''


Ddduuaaarrrrrr..


Bagai disambar petir disiang bolong, luruh dan runtuh Tama mendengar teriakan Annisa yang begitu nyaring terdengar ke dalam sambungan ponsel miliknya.


Tubuh Tama bergetar hebat, tanpa sadar ia menyentak tangan Azura yang sudah memegang nya sedari tadi saat Tama terkejut mendengar ucapan dari wali kelas Annisa.


Plaakk..


Deg!


''Maaf Azura! Abang harus pergi! Annisa membutuhkan Abang saat ini, adikku dalam bahaya! Maaf Azura! Abang tidak bisa menerima lamaran darimu! Karena Abang belum siap untuk menikah!"


Deg!


Deg!


Tubuh Azura luruh ke tanah saat mendengar penolakan Tama untuk yang kedua kalinya. Tama berlari menuju garasi untuk mengambil motor nya.


Sadar jika Tama sudah menghilang, Azura bangkit untuk mengejar nya. Tiba di pintu gerbang kampus, Azura berteriak memanggil namanya lagi.


Tama berhenti lagi, ia juga tidak tega meninggalkan Azura begitu saja. ''Tunggu Bang! Hiks.. tega Abang ninggalin aku hanya demi adik Abang??''


''Maaf Azura, sekali lagi Abang mohon maaf..''


Brruuummm...

__ADS_1


__ADS_2