
''Enak saja mengambil keputusan tanpa bertanya dulu kepadaku?! Aku ini suaminya! Aku berhak atas kehidupan nya! Apakah aku tidak boleh mendapatkan kebahagiaan sebentar saja? Kenapa aku harus selalu mengalah?!''
Deg!
Deg!
''A-abang...'' panggil Annisa begitu lirih.
Ia tidak mau mendekati Tama saat ini. Ia masih belum terima karena penolakan Tama untuk sekolah masa depannya.
''Hiks.. Abang tega! Kenapa aku tidak di izinkan olehnya?! Kita kan bisa saling bertemu walau aku kuliah di tempat jauh?! Hiks.. Abang jahat!'' serunya begitu lirih di balik tembok yang baru saja di lewati oleh Tama.
Saking kesalnya Tama pada Annisa, ia tidak melihat jika istri kecilnya sedang berada disana. Tama melewati Annisa dengan mulut terus menggerutu tidak jelas.
Sementara di ruangan ustdazah Hanim, Mitha sedang berusaha menenangkan Ustdzah Hanim agar tidak terpancing dengan relasi Tama.
''Nak .. tolong katakan pada suami kamu. Annisa itu murid yang berprestasi. Sangat layak untuk ia sekolah. Dan ini pun berkat kerja kerasnya selama hampir tiga tahun di pesantren ini. Saya mohon.. katakan pada Tama jika Annisa tetap harus ke Bandung. Karena Dekan disana sudah menghubungi saya. Bahwa Annisa akan mendapatkan undangan khusus dari kampus di Bandung itu.'' Ucapnya membujuk Mitha
Mitha terkekeh kecil. ''Maaf sebelumnya Ustadzah. Saya bukan istri bang Tama. Saya adik kandungnya.''
''Loh? Tapi... nak Tama bilang ia tidak memiliki adik seusia kamu. Ia hanya memiliki adik seusia Annisa?''
Lagi, Mitha terkekeh. ''Saya adik dari istri Papayang lain Ustadzah.. Mama saya istri kedua Papa Fabian. Mereka menikah karena dipaksa eh kakek dan nenek kami dulu. Padahal beliau tau, jika saat itu Papa Fabian sudah menikah dengan Mama Linda. Demi menyelamatkan Abang dari Mama saya, Papa rela meninggalkan istri yang dicintainya demi kedua orang tuanya. Dan sekarang, Papa dan Mama sudah bercerai. Tapi hubungan saya dengan Abang tetap baik kok Ustadzah. Bahkan saya begitu senang memiliki Abang kandung seperti Abang,'' jelas Mitha semakin membuat ustadzah Hanim terkejut.
''Ya Allah.. maafkan saya nak. Saya pikir kamu istrinya Tama.'' Ucapnya merasa tidak enak pada Mitha.
Mitha tersenyum, ''Tak apa ustdazah.. anda tenang aja ya? Saya akan membujuk Abang untuk bisa mengizinkan Kakak ip-ehm maksud saya Annisa. Hehehe...''
Ustadzah Hanim pun ikut terkekeh. ''Baiklah kalau begitu. Apakah kamu sudah tamat kuliah Nak? Jurusan apa?? Kalau sudah mau kah kamu menjadi guru di pesantren ini??''
__ADS_1
''Eh?''
Ustdazah Hanim mengangguk sambil terkekeh kecil melihat kelakuan Mitha. ''Saya melihat kamu jadi teringat dengan putra saya yang bekerja sebagai dokter di rumah sakit sebelah. Kamu mau jika saya jodohkan dengan nya? Kayaknya kalian cocok deh!'' celutuknya membuat Mitha terkejut.
Mitha panik. ''Ehehehe... maaf ustdazah. Bukan saya tidak mau menjadi guru disini. Tetapi jurusan saya tidak tentang guru. Tapi manajemen bisnis. Seperti keinginan Papa dan Mama dulu. Dan... untuk perjodohan itu, saya tidak bisa menerimanya karena saya sudah memiliki calon suami yang bahkan saya sudah mengenalnya dari saya kecil dulu. Maaf Ustadzah..'' ucap Mitha dengan menunduk.
''Hadeeuuuhh.. aku datang kesini untuk menemui Kakak iparku! Tapi apa ini? Malah aku yang terjebak disini! Ck. ck. ck. Kasihan sekali kamu Kamitha! Keluar dari lubang ular masuk lubang belut! Hadeuuhh..'' gerutu Mitha dalam hati.
Ustdazah Hanim merasa malu. ''Hehehe .. maafkan saya nak Mitha. Ehm, lupakan masalah tadi! Baiklah nak Mitha. Saya mohon bujuk nak Tama agar mau menerima permintaan saya. Ini untuk masa depan Annisa kelak.'' Lirihnya tidak berdaya mengingat penolakan Tama baru saja.
''Baiklah Ustdazah. Saya harus permisi. Saya punya dya tugas sekarang ini. Ck. Abang merajuk! Dan kakak ip-ehm Annisa? Hadeuuhh.. saya permisi dulu ustdzah. Pastilah kedua orang itu sedang berdebat sekarang ini! Ck! Saya permisi Ustdazah. Assalamualaikum..''
''Waalaikum salam..'' sahut ustdazah Hanim.
Ia menatap nanar pada Mitha yang keluar dengan sesekali menggerutu tak jelas. Ustdazah Hanim terkekeh kecil.
Annisa tak kuasa melihat wajah Tama memelas seperti itu. ''Tapi ini demi masa depan adek, Bang.. biarkan adek pergi ya? Kalaupun adek berhasil nanti, 'kan Abang juga yang senang? Adek bisa membantu Abang di bengkel dengan ilmu yang adek punya?''
Tama menggeleng kan kepala nya dengan air mata yang masih bercucuran di wajah tampan nya. Mitha tertegun Melihat nya. Kakinya yang dari tadi ia ayunkan untuk menuju Abang dan kakak iparnya ini mendadak berhenti melihat sepasang anak manusia ini saling terluka karena keputusan demi masa depan Annisa.
Jika Tama terluka karena tidak ingin jauh dari Annisa, Annisa malah menangis karena merasa Tama menahan langkahnya untuk pergi demi menuntut ilmu di seberang sana.
''Abang.. hiks..''
''Nggak sayang! Abang nggak ngijinin kamu! Abang sudah cukup bersabar selama ini! Tidakkah kamu kasihan pada pria tua ini, hem? Abang nggak bisa jauh dari kamu sayang! Nggak bisa!'' lirih Tama dengan bahu berguncang begitu juga dengan Annisa.
Mitha lagi dan lagi tertegun Melihat nya. ''Ya Allah.. kuat sekali hubungan mereka.. beruntung sekali Kakak ipar kecilku itu mendapat kan Abang tampan ku! Hiks.. aku harus kesana demi menyelamatkan hubungan mereka berdua. Ya, harus!'' tegasnya pada diri sendiri. dengan sedikit Melo drama.
Ia mengayunkan tungkai jenjangnya menuju Annisa dan Tama yang sedang berdebat. Perdebatan yang tiada usai nya hingga membuat Tama semakin kesal.
__ADS_1
Mitha ingin tertawa melihat wajah Tama mendadak masam dan tidak bersahabat dengan Annisa. Ia ingin tertawa. Tapi takut jika mereka berdua akan tersinggung nantinya.
''Abang! Kakak ipar!''
Deg!
Deg!
Deg!
''Mitha! Tolong Abang Dek!'' serunya pada Mitha meminta tolong untuk membujuk istri kecil keras kepala nya ini.
Mitha Terkekeh dan mendekat, ia melihat wajah Annisa yang begitu terkejut karena panggilan Mitha untuknya. ''Ka-kakak I-ipar?! Maksudnya?! Ka-kamu..!'' ucap Annisa tergagap sambil mendekati Mitha.
Mitha mengangguk, ''Ya. Aku adik Bang Tama! Kakak ipar!''
Annisa semakin terkejut, ''Ta-tapi.. ta-tadi..'' Annisa menunjuk Tama dan Azura bersamaan.
Karena Azura saat ini yang sedang duduk di pos jaga. Ia menatap tajam pada Mitha. Mitha tertawa. ''Lihatlah matanya kakak ipar! Lama-lama matanya itu akan keluar karena keasikan melototi aku sedari tadi!'' kata Mitha pada Annisa yang membuat Annisa menoleh pada Ustadzah Azura.
Lalu kembali melihat Mitha dan Tama bergantian. ''Abang!'' panggil Annisa.
Tama melengos. Ia memalingkan wajahnya dari menatap Annisa. Annisa mengerucutkan bibirnya. Mitha tertawa keras. Tak payah ia membuat Annisa cemburu. Tapi karena pernyataan dari ustdazah Hanim tadi malah membuat hubungan kedua orang itu dilanda perang dingin.
''Abang...'' rengek Annisa. Ia mendekati Tama dan ingin memegang tangan nya tapi Tama menolak.
Ia melengos. Menjauh dan pergi dari Annisa. Annisa semakin kesal karena kelakuan Tama ini. ''Ck! Dasar pria tua!! Nggak tau apa! Aku juga butuh waktu untuk memikirkan hal ini! dasar pria tua egois!!'' umpat Annisa dibelakang Tama.
Ia semakin bersungut-sungut tidak jelas hingga membuat Mitha tertawa terbahak melihat kelakuan pasangan beda usia itu.
__ADS_1