
Dua hari sudah berlalu sejak kejadian itu. Sore ini Annisa harus balik ke pesantren. Saat ini ia sedang bersiap-siap untuk pulang kembali.
''Sudah siap semua??'' tanya ayah Emil pada Annisa.
Annisa mengangguk. ''Sudah Yah. Ini tinggal tas ransel ini aja. Kayaknya kancingnya rusak deh. Nggak bisa ke tutup ini. Mana baju kakak banyak lagi!'' gerutu Annisa pada ransel yang pernah Tama belikan untuknya saat ingin masuk ke pesantren dulu.
''Udah, tak apa. Nanti di jalan kita beli yang baru lagi. Ayo, ustdzah Hanim udah hubungin Abang sedari tadi. Kamu harus segera kembali ke pesantren. Ayo! Yah, Bunda. Kami pamit ya? Kapan pun ayah ingin pulang, hubungi Abang. Abang akan kesini. Jangan kayak kemarin lagi. Datang kesini naik angkot. Bunda sama ayah itu punya anak dan mantu yang punya mobil!'' sungut Tama tak terima pada kedua orang tua Annisa itu.
Bunda Zizi terkekeh. ''Tak apa nak. Kami sudah terbiasa seperti ini. Bunda masih bisa menanganinya sendiri. Pergilah. Nanti, kalau bunda butuh bantuan bunda akan hubungi kalian berdua terutama kamu bang Tama.'' Bunda Zizi sengaja mengatakan hal seperti itu untuk menyenangi hati menantunya itu.
Tama akhirnya pasrah. ''Baiklah. Kami pulang ya bunda, Yah. Assalamualaikum...''
''Waalaikum salam.. hati-hati di jalan. Kamu harus selalu jaga Annisa. Ayah titip Annisa padamu.'' Ucap ayah Emil sembari menerima uluran tangan Annisa dan Tama untuk disalimi.
''Ya, ayah tenang saja. Fokus aja pada kesembuhan ayah ya? Abang pamit!''
''Ya, hati-hati di jalan!''
__ADS_1
''Ya,'' sahut Tama dan Annisa bersamaan.
Setelahnya mereka berdua menghilang dari pandangan dua paruh baya itu. Bunda Zizi menangkap aura kesedihan di pelupuk mata ayah Emil. Namun, ia tidak bisa berbuat apapun.
''Sudah. Abang harus fokus pada kesembuhan Abang dulu. Jangan jadikan pengorbanan Annisa dan Tama sia sia belaka. Hem?'' Ayah Emil tersenyum. ''Tentu sayang. Abang mau tiduran dulu ya? pegal ekor Abang sedari duduk aja. Mana ini badan udah tepos lagi. Hadeeeuuhh...'' gerutu ayah Emil sengaja untuk memancing gelak tawa dari bunda Zizi.
Bunda Zizi tertawa terbahak mendengar ucapan sang suami padanya.
Sementara di dalam perjalanan Annisa terus diam, membuat Tama menjadi keheranan. Tidak seperti biasanya. Tama menepikan mobilnya di tempat yang tidak terlalu banyak mobil lalu lalang.
Mereka berhenti di bawah pepohonan rindang. Annisa terkejut. Ia yang tadinya melamun kini menoleh pada Tama yang sudah menghadap miring padanya.
Mata Annisa mengembun. Dengan cepat Tama mengambil tubuh chubby itu untuk di peluknya. ''Katakan!'' titah Tama pada Annisa.
Annisa tidak menyahut ia malah semakin tersedu didalam pelukan hangat Tama. ''Katakan! Jangan sembunyi kan apapun dari Abang. Abang harus tau semuanya. Ada apa??'' tanya nya lagi pada Annisa.
Annisa tidak mengurai pelukannya. Ia malah semakin erat memeluk tubuh Tama. ''Sayangku?''
__ADS_1
''Hiks.. ayah Bang! Ayah di vonis kena radang paru-paru akut. Dan itu harus di operasi. Tapi Ayah tidak mau. Beliau lebih suka hidup seperti itu. Dibandingkan harus berobat bang. Hiks. Katanya kalau sudah operasi ada dua kemungkinan. Pertama hidup dalam keadaan cacat dan kedua.. lebih buruk dari itu. Ayah akan tiada Bang. hiks. hiks. hiks..'' cerita Annisa pada Tama
Tama menghela nafasnya. ''Sudah, sabar. Kita tidak bisa melakukan apapun jika itu sudah menjadi keputusan nya. Kita hanya bisa berdoa untuk kesembuhan nya. Sudah, jangan menangis lagi. Kamu harus sabar. Doa kan saja kesembuhan ayah. Kita tidak bisa memaksakan kehendak kita pada kedua orang tua kita itu. Mungkin beliau punya alasan kenapa beliau tidak ingin di operasi.'' Ujar Tama yang semakin membuat Annisa tersedu.
Tama mengurai pelukannya dan mengusap air mata Annisa yang terus mengalir di pipi halusnya. ''Sudah. Kita harus segera balik ke pesantren. Abang takut, kamu di hukum nanti karena terlalu lama. Sudah ya?''
Annisa mengangguk ia menatap lurus ke depan Tama tersenyum melihat nya. Sebelum sampai di pesantren, Tama sempat mencuri kecupan singkat di putik ranum Annisa. Sedang Annisa hanya bisa pasrah saat Tama mengecup putik ranum miliknya.
''Vitamin penyemangat!'' begitu katanya.
Tama mengantar Annisa hingga masuk kedalam pesantren. Tidak terlihat ustadzah Azura disana. Hanya ustadzah Hanim yang menunggu kedatangan Annisa.
Setelah berpamitan, Tama kembali masuk ke mobilnya. Ia memutar alih kemudi ke arah jalan pulang. Kembali seperti biasanya. Hidup sendiri dan menepi. Jauh dari Annisa sering membuat Tama kesepian. Tapi inilah yang harus ia lakukan. Semua ini demi sang pujaan hati.
Tama harus lebih banyak bersabar dalam menunggu waktu yang tersisa sebentar lagi untuk Annisa lulus dari sekolah nya.
💕💕💕💕
__ADS_1
Empat!