Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Seleb dadakan


__ADS_3

''Iya sih. Tapi coba Abang lihat bapak-bapak yang ada di tengah laut sana. Nggak Samapi hati aja liatin nya. Dulu, adik pernihan ngebayangin kalau seandainya ayah Emil seperti itu, apa Yanga akan terjadi kepada ketiga adik kami?? Mereka butuh biaya banyak, belum lagi butuh biaya hidup yang lumayan tinggi. Tapi itulah yang dinamakan rejeki tidak ada yang pernah tau. Apa yang adek pikir kan tidak sesuai dengan apa yang terlihat. Alhamdulillah nya Ayah tidak sampai jadi nelayan. Tidak seperti salah satu sahabat adek. Sampai saat ini ayahnya mencari rezeki dengan menjadi seorang nelayan. Kadang pulang tanpa membawa pulang ikan jika sedang pasang di laut..'' lirih Annisa dengan akar mata bercucuran.


Taman semakin mengeratkan pelukannya. ''Sudah.. jangan menangis. Dua Minggu lagi, datanglah kerumahnya. Berikan uang yang cukup untuk mereka buka usaha. Abang akan berikan uangnya padamu nanti. Jangan biarkan ayahnya ke laut lagi. Apakah beliau sudah sebuah ayah Emil??''


Annisa mengangguk. ''Ya. sebaya ayah. Dan lagi masih memiliki tanggungan sebanyak tiga orang. Yang paling besarnya sebaya adek. Ia suka pesantren pun dengan modal nekat. Karena usahanya sendiri. Setiap malam ia selalu bekerja di depan komputer untuk bisa membiayai hidupnya selama di pesantren. Abang tau Mutia bukan? Gadis yang mendapat peringkat kedua setelah adek kemarin??''


''Ya,''


''Dia lah orang nya.'' tunjuk Annisa pada Mutia yang saat ini sedang berjualan udang dan ikan di tepi laut dengan memegang tampah berisikan ikan dan udang basah.


Annisa melepas paksa pelukan Tama dan berlari mendekati Mutia. ''Mutia!!''


''Annisa!! Kamu disini?? Masyaallah... akhirnya aku bisa bertemu denganmu. Tolong aku Nis!'' pinta Mitha dengan wajah sendunya.


''Aku bisa bantu tolong apa untuk kamu? Kalau bisa aku bantu? Tunggu dulu? Jamu kesini sana siapa??'' selidik Annisa sembari melihat sekeliling tidak ada siapapun bersama Mutia saat ini.


''Aku datang kesini sendiri. Berharap bisa bertemu dengan mu. Aku butuh bantuan mu Nis. Kamu bisa pinjamin aku uang nggak?? Aku lagi butuh banget!'' pinta Mutia dengan sangat.


Annisa terkejut. ''Berapa yang kamu butuhkan? Ayo kita keluar dari pantai ini. Tapi! Astaghfirullah Abang!'' serunya mencari Tama.


Tama mendekat sembari terkekeh di belakang Annisa. ''Apa sayang? Abang disini loh..'' jawab Tama sesekali cekikikan di belakang Annisa.


Mutia tertegun saat melihat lelaki dewasa sedang merangkul pinggang Annisa. ''Nah kebetulan. Ini yang tadi adek ceritakan! Abang bawa uang cash nggak?'' tanya Annisa sambil merogoh saku celana Lee milik Tama.


Tama melototkan matanya. ''Sayang ih! ada teman kamu itu!'' tegur Tama sambil terkekeh geli merasa kan tangan Annisa menyentuh sesuatu di dalam sana.


Annisa berdecak sebal. ''Diem ih! Kalau gerak terus, jangan salahkan adek itu nya Abang ke jepit!'' seru Annisa sibuk dengan merogoh dompet Tama.

__ADS_1


''Hahaha... geli sayang!''


''Abang! Diem dulu ih!'' Tama masih saja tertawa sedang Annisa masih sibuk dengan tugasnya mengambil dompet Tama. Mutia melongo Melihat nya.


''Nis??''


''Bentar Tia! Aku masih ngambil ini dompet laki kok dalem banget sih?! Abang apain ini saku celana nya kok bisa dalem kayak gini??'' sungut Annisa tidak terima.


Mutia terkekeh melihat Tama tergelak hingga kepalanya mendongak keatas. Sementara seseorang disana masih saja membidik Annisa dan Tama yang sedang tertawa.


''Nis, dengar dulu! kalian berdua itu sedang jadi seleb dadakan ya? Di ujung sana aku melihat seorang fotografer sedang membidik kameranya kearah kalian terus menerus?'' Mutia terkekeh.


Annisa berhenti membuka dompet Tama. ''Iyakah??''


''Hooh. Tuh!'' tunjuk Mutia pada sang fotografer.


''Izin sayang...'' Tama tertawa karena ucapan Annisa


''Hah, itulah pokoknya! Ishh.. kok cuma satu jutaan?? Kamu perlu berapa Tia?'' tanya Annisa pada Mutia.


Mutia menunduk, ia memilin ujung bajunya takut jika Annisa tidak punya uang sebanyak yang ia butuhkan. ''Tia???''


''Anu Nis.. aku butuh uang banyak buat bayar hutang bapak sama rentenir..''


''Iya, tapi berapa?? Biar aku transfer sekarang!'' kata Annisa pada Mutia yang ketakutan tidak berani menatap Annisa.


''Tia?? Perlu aku bertanya langsung pada rentenir nya??'' geram Annisa pada Mutia

__ADS_1


Mutia diam. ''A-anu.. I-itu.. ba-bapak hu-hutang banyak sama rentenir itu hingga pu-puluhan juta Nis..'' lirihnya dengan dada begitu sesak.


''Berapa Tia????'' Annisa gemas sendiri dengan temannya ini.


Annisa mencak-mencak tidak jelas di atas pasir putih di pinggir pantai itu. Mutia tetap diam. Tidak berani berbicara karena ada Tama di sisi Annisa. Tama tertawa.


Annisa menghela nafasnya. ''Mutia! Kita ini sama loh.. setiap malam selalu mencari rezeki dengan mengandalkan laptop. Aku tau pekerjaan mu dan kamu tau pekerjaan ku. Apa yang kamu takutkan? Sebutkan berapa jumlahnya. Aku tidak minta uangnya sama Abang ku. Akan ku berikan uangku sendiri. Sebutkan berapa jumlahnya agar bisa aku transfer segera ke nomor rekening kamu?'' ucap Annisa lagi pada Mutia.


Mutia menoleh pada Tama. Tama tersenyum dan mengangguk. ''Sebutkan! Abang tidak akan ikut campur! Tapi ya .. Abang harus tau berapa jumlah tabungan adek Abang yang satu ini? Kayaknya udah jadi milyarder ya sekarang??'' goda Tama sambil mencubit lembut pipi Annisa.


Cekrek!


Cekrek!


''Heh kamu! Aku minta pesangon ku ya dari kamu??? Tunggu sebentar! Urusanku belum selesai dengan Mutia! Baru setelahnya dengan kamu!'' tunjuknya pada sang fotografer yang membuat Annisa jadi seleb dadakan dalam sekejab.


💕💕💕💕


Hehehe... adek Annisa jadi seleb dadakan eeuuuyyy!! 🤣🤣🤣


Baiklah, sambilan nunggu cerita ini update, mampir dulu yuk di karya temen aku yang satu ini.



Noh.. cus kepoin!


Like dan komen othor tunggu ye ? 😘😘

__ADS_1


__ADS_2