Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Bukti


__ADS_3

''Ini kak. Cuma ini yang tersisa. Semuanya sudah di musnahkan oleh Arta berdua sama Mak?!''


Deg!


Deg!


''Apa?!?'' seru Ayah Emil mendadak duduk ketika mendengar ucapan Syakir pada Annisa.


''Tak apa. Yang penting satu bukti akurat ini cukup membuka mata hati kedua orang tua kita tentang putra tersayang nya selama ini. Sudah cukup kamu di tuduh oleh mereka berdua! Kamu tenang saja. Kalau mereka membuang mu, kami berdua yang akan mengurusmu! Kakak menyayangimu Syakir! Sangat menyayangi mu! Cup.'' Ucap Annisa pada Syakir, ia mengecup lembut dahi adik tirinya itu.


Syakir terisak lagi. ''Sudah. Kita selesaikan ini dulu. Waktu kakak disini hanya dua hari. Jadi selama kakak disini, kamu aman bersama kakak. Jangan pulang kerumah. Kamu pulang ke rumah untuk mengambil baju mu saja. Paham??''


''Nak??'' panggil Ayah Emil dengan dada begitu sesak.


Ia mendekati Annisa yang sedang memeluk Syakir dengan erat. Ada air mata yang mengalir di pelupuk mata indahnya. Bunda Zizi masih mematung karena perkataan Syakir tadi.


''Nak??'' ulang ayah Emil lagi.


Tubuh lemah dan renta itu mendekati putri bungsunya bersama Mak Alisa. Annisa tidak menyahuti. Ia berlalu menuju Mitha yang sedang mematung karena melihat kakak ipar kecilnya marah kepada kedua orang tuanya.


''Kamu kenapa Mitha? Jangan terkejut. Aku bahkan sudah melewati lebih berat dari ini lagi!''


Mitha menoleh pada Annisa. ''Kak...''


''Tak apa Mitha. Ini resikonya ikut campur dengan keluarga mereka!'' katanya pada Mitha yang kini sedang menatap Annisa mengeluarkan laptop miliknya dari tas ransel yang berisi baju dan perlengkapan selama ia menginap di rumah sakit selama dua hari.

__ADS_1


''Bawa kesini Dek. Kita lihat sama-sama apa isi dari flashdisk ini. Duduk di dekat bang Tama. Agar kedua orang tua kita bisa melihat jelas kelakuan PUTRA KEDUA TERSAYANG nya!'' ketus Annisa begitu kesal


Syakir mengangguk. Ia pun segera berlalu menuju Tama yang sudah menunggu nya sedari tadi. ''Sabar. Kamu harus kuat, hem?'' bisik Tama di telinga Syakir


''Iya Bang,'' jawabnya sambil menunduk. Tidak berani melihat Bunda Zizi yang kini menatap nya dengan tatapan yang sulit di artikan.


Annisa menoleh pada Mitha, Mitha mengangguk. ''Ayo, Bella? Kita keluar beli es krim!'' ucapnya pada Bella yang sedang ketakutan melihat Bunda dan kakak nya bertengkar di hadapan nya.


Annisa sampai lupa pada Bella. Gadis kecil itu tubuhnya bergetar karena takut. Mitha segera membawa Bella keluar langsung menuju market yang ada di sebelah rumah sakit itu.


Setelah Mitha keluar, Annisa segera membuka video rekaman tentang kejahatan Arta selama ini. Banyak bukti yang ia kumpulkan melalui temannya yang punya ponsel untuk merekam kejahatan Arta karena saran dari Annisa.


Klik.


Deg!


Bunda Zizi terkejut mendengar suara Arta di video itu. ''Jangan Bang! ponsel itu punya Abang ku yang tentara. Aku sengaja meminjam nya untuk tugas sekolah. Abang kan tau kalau kita punya tugas sekolah??''


''Aku tak peduli dengan tugas sekolah! yang aku minta, ponsel mu!'' katanya, ia merampas ponsel itu dan berlari pergi meninggalkan pemuda seumuran dirinya itu menangis tersedu dan menjerit-jerit memanggil namanya meminta supaya ponsel itu di kembalikan.


''Hahaha... puas aku bisa mengambil ponselnya!''


''Arta!''


Deg!

__ADS_1


''Apa!'' ketusnya tak bersahabat pada Syakir.


''Kembalikan ponsel itu, Dek. Itu bukan hak mu. Itu punya orang. Mak sama ayah selalu memberikan apa yang kamu mau, tapi kenapa kamu selalu mengambil yang bukan hak mu? Cukup Dek. Cukup Abang saja yang kamu ambil paksa hak ku yang Abang dapat dari bekerja serabutan selama ini! Kembalikan!'' ucap Syakir dengan merampas ponsel dari tangan Arta.


Arta melawan, ia mendorong Syakir hingga kepalanya terbentur batu. Syakir pingsan seketika. Arta tertawa puas. ''Enak aja kau mau mengambil benda ini! Asal kau tau Bang Syakir! Aku sengaja menghasut Mak dan ayah agar membencimu dan lebih menyayangi ku! Bahkan semua perbuatan ku aku tuduh kamu lah pelaku nya! Heh! Aku tidak Sudi memiliki saudara sok alim seperti mu! Enak saja ngatur-ngatur aku! Emangnya kamu itu bisa apa? heh?! Bahkan untuk beli sepatu saja kamu tidak mampu! Beruntung sekali kamu Kak Annisa selalu memberikan yang terbaik untukmu! Tapi aku?? Aku selalu tidak dilihat olehnya! Jadi.. jangan salah kan aku jika aku mengambil semua barang pemberian nya! Karena itu adalah hakku! Bukan hak mu bang Syakir! Dasar anak angkat tidak tau diri!!''


Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...


Bbrrrrruuuukkkk...


''Azizah!!!'' seru Ayah Emil saat melihat Bunda Zizi jatuh pingsan dan terkapar di lantai.


Sementara Tama, Uwak Udin, dan Syakir mereka bertiga memejamkan kedua matanya. Sungguh, video itu begitu membuktikan watak Arta yang begitu jahat dan keras kepala kepada orang lain. Termasuk Abangnya sendiri.


''Dek, bangun dek! Bangun!'' Seru Ayah Emil pada Bunda Zizi.


Wanita paruh baya itu terlelap dengan mata terpejam. Annisa mendekati Arta yang sedang duduk di pinggir dinding dengan membelakangi mereka semua.


''Arta!!''


''Kakak!!''


Grep!


Annisa terkejut. Hampir saja ia jatuh terjungkal ke belakang jika tidak di tahan oleh Syakir. ''Hiks.. maaf Kak. Maaf ..'' lirihnya sambil terisak di pelukan Annisa.

__ADS_1


__ADS_2