
Setelah perdebatan itu, kini semua keluarga bersiap untuk berlibur ke Aceh. Mereka satu rombongan untuk kesana.
Tapi sayangnya, Ira dan Lana tidak bisa ikut. Mereka sibuk dengan tugas masing-masing. Jika Lana dengan tugasnya sebagai abdi negara, Ira juga sama.
Ibu lima orang anak itu, kini sedang merawat si kecil yang baru saja ia lahirkan. Terkadang Papi Gilang sempat marah pada Ragata, karena terlalu memforsir Ira untuk melahirkan penerusnya.
"Kakak bukan mesin pencetak anak! Disumbat emangnya nggak bisa?! Atau nggak kayu laut kamu saja yang di ikat!'' ketus Papi Gilang beberapa saat yang lalu.
Ragata melotot mendengar ucapan Papi Gilang. Sedangkan Ira tertawa. Mak Alisa menepuk lengan sang suami begitu kuat.
''Apa sih?! 'Kan beneran yang Papi bilang, sayang! Masa' dua tahun sekali brojol lagi tuh cebong?! Kesel Papi! Ingin ajak kakak jalan-jalan aja udah nggak bisa! Asik sibuk ngurusin anak aja!'' ketus Papi Gilang lagi.
Annisa yang berada disana saat itu hanya bisa tertawa saja melihat kejutekan sang Papi kepada menantu pertama nya.
Mengingat itu Tama jadi tersenyum-senyum sendiri. Annisa pun begitu. Mereka berdua membawa mobil sendiri. Bersama mereka ada adek Nara dan kedua keponakan kecilnya.
__ADS_1
Yaitu kedua anak Ira dan Ragata. Ya, karena Ira dan Ragata tidak bisa ikut, maka kedua anak Ira yang ikut bersama mereka.
Untuk Rayyan, ia bersama Papi Gilang dan Algi. Tama sanggup membawa mobil sendiri. Palingan kalau capek, nanti mereka mampir dan cari tempat penginapan.
Sepanjang perjalanan mobil Tama riuh karena suara dua bocah kecil itu. "Aunti! Kita mau kemana cih??" tanya si cantik Ziara
Nara tersenyum. ''Kita mau ke tempat nenek yang ada di Aceh. Adek harus anteng ya? Jangan membuat rusuh kalau kalian mau tetap bersama Aunti, hem?"
"Siap Bos!'' sahut kedua nya.
Hingga waktu menunjukkan pukul tujuh dan sudah memasuki waktu Maghrib, mereka semua singgah di rumah makan yang tersedia mushola nya disana.
Mereka sholat secara bergantian. Annisa dan Nara yang mendapat tugas untuk menjaga bocah rusuh itu. Karena mereka berdua yang tidak bisa sholat.
Selesai dengan sholat nya, mereka makan. Makan di bumbui dengan celotehan cadel putra dan putri Ragata dan Ira.
__ADS_1
Rayyan terkekeh melihat keponakannya itu begitu rusuh saat makan. ''Pantas saja kakak sering ngomel sama nih bocah! Ternyata begini ya cara makan mereka berdua??'' kata Rayyan pada Annisa.
Annisa terkekeh begitu juga dengan yang lainnya. ''Maklum dek, si biang rusuh ya seperti ini! Tapi tanpa ada mereka berdua rumah kita terasa sunyi. Lihatlah Mak dan Papi. Mereka sudah tua. Sudah cocok untuk menimang cucu dari kita!''
''Nggak mau ah! Kakak aja dulu sama Bang Tama. Abang belakangan! Wong Zahra masih kecil juga? Kakak lah sama bang Lana yang ngasi cucu buat Mami dan Papi! Abang mah ogah, sekarang!'' sahut Rayyan.
Annisa tertawa. ''Belum lagi dek.. sebentar lagi. Takutnya Kakak yang duluan nikah, tapi kamunya yang duluan punya momongan!''
''Huss! Kakak ngomong apaan sih?! Nggak baik ngomong kayak gitu! Jangan mendoakan yang tidak-tidak kakak! Gimana sih?!'' gerutu Rayyan dengan wajah di tekuk.
Annisa dan Tama tertawa. Mereka masih saja tertawa saat makan. Dirasa cukup puas dan kenyang, mereka melanjutkan lagi perjalanan mereka untuk sampai di Aceh.
Tanah kelahiran Mak Alisa dan juga kedua orang tua nya masih ada disana sampai sekarang walaupun sudah lanjut usia.
💕💕💕
__ADS_1
Hehehe.. othor nggak janji! Tapi ada kan??