
Cukup lama mereka berdiaman karena mengingat masa lalu itu. Terutama Annisa yang pada saat itu salah paham pada Tama dan pergi meninggalknan nya.
"Seperti yang Abang katakan padamu saat di Bandung dulu Dek. Kamu salah paham sama Bang Tama. Itu Abang, bukan suamimu. Maafkan kesalahanku yang terpaksa membawa Azura ke dalam kamar pribadi kalian berdua. Sebenarnya tidak ingin, tetapi karena melihat Azura yang waktu itu sangat membutuhkan pelepasan jadi Abang terpaksa membawanya ke kamar kalian berdua.." lirih Tian melenyapka kesunyin diantara mereka semua.
Taam menoleh pada Tian dan Annisa. Annisa yang di tatap Tam pun menghela nafasnya. "Benar, Bang Tian datang ke Bandung untuk mnemui adek dan menjelaskan semua masalah ini setelah satu tahun berlalu. Tepat pada empat puluh hari anak kita lahir." Ucap Annisa mmebuat Tama menoleh pada Tian
"Benar Bang. Aku tidak ingin masalah ini terus berkepanjangan. Jadi, empat tahun yang lalu aku datang ke Bandung untuk menemui istri Abang dan menyampaikan permintaan maaf Azura waktu itu," tambah Tian
"Awalnya adek nggak percaya sama omongan Bang Tian. Karena menurut adek, bang Tian itu mengada-ngada. Bagaimana mungkin jika itu bukan Abang? Sementara baju yang dilantai itu merupakan baju Abang?" lanjut Annisa sambil berdir dan mendekatio Tama yang saat ini dudukl di sofa
Tama menghela nafasnya. "itu memang bukan Abang sayang, Abang tidak melakukan apapun dengan Azura. Abang melakukannya dengan solo karir! Walau tidak puas, paling tidak bisa terlepas. Sakit banget menahan hasrat yang tidak bisa terlampiaskan! Untuk kamu Azura! Jangan ulangi hal yang sama. Bahaya! Beruntungnya aku bisa mengendalikan diri walau aku harus tersiksa karena waktu kejadian Annisa tidak ada."
__ADS_1
"Apa yang kamu rasakan saat kamu yang mengalaminya? Sanggup tidak kamu menahan hasrat yang sudah di ubun-ubun tetapi tempat pelampiasannya tidak ada? Kamu tersiksa kan saat merasakannya dulu?"
Azura tertegun mendengar ucapan Tama. "Kamu beruntung saat itu ada Tian yang bisa membebaskan mu. Tetapi aku?? Aku bahkan hingga berhari-hari menahan hasrat yang selalu muncul itu. Ketika aku tidak sadarkan diri iya, reaksi itu tidak ada. Tetapi jika aku normal. Hasrat itu tiba-tiba datang sendiri dan menginginkannya. Apakah kamu seperti itu Azura??" lagi dan lagi Azura tertegun.
Benar, kata Tama. Reaksi obat itu sangat kuat. Sering kali ia meminta lagi pada Tian sementara baru saja mereka selesai melakukannya. Ternyata itulah efek dari obat itu.
Azura menunduk, "Maafkan aku Bang.. Aku salah.. Maafkan aku Annisa.. Aku salah.." lirihnya begitu pelan.
"Terimakasih bang Tian. Mungkin jika bukan karena bukti cctv itu, aku tidak akan percaya lagi pada siapapun! Untuk masalah ini cukup sampai disini. Aku tidak ingin membahasnya lagi. Aku sudah memaafkan kalian berdua kok. Tetapi untuk kamar itu.." Annisa melirik Tama.
Tama tersenyum, ia mengerti apa maksud dari ucapan Annisa tentang kamar yang pernah mereka tempati dulu. "Kamu tenang saja. Abang sudah memberikan ranjang panas itu kepada si pemakainya. Mana mau Abang memakai bekas percintaan mereka? Lebih baik Abang beli baru dan berikan itu kepada mereka. Tidak itu saja. Cabang kita yang berada di Bnadung pun Tian yang memegangnya. Walau ia harus sering bolak balik, Abang nggak peduli! Siapa suruh main masuk kamar orang aja! Itu belum seberapa jika dibandingkan dengan penderitaanku yang selama lima tahun tidak bisa bertemu dan memelukmu seperti ini. Tian masih bisa kembali walau sebulan sekali. Lah Abang? Jangankan bolak balik, ingin menemui mu saja takut melanggar janji?'' Annisa tersenyum.
__ADS_1
"Terimakasih karena sudah mau menerima saran dariku. Sebenarnya tujuan ku menulis surat itu untuk hal ini. Aku ingin mencari tau dulu tentang apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi setelah si kembar besar dan bisa di tinggal. Tetapi takdir seakan berpihak padaku, Bang Tian datang dengan buktinya. Jadilah selama empat tahun itu aku cukup memendam rindu saja untuk Abang. Ingin bertemu seperti kata Abang tadi. Udah janji. Nggak mungkin dong, adek ingkar? Sementara janji itu adek sendiri yang membuatnya?" balas Annisa membuat Tama mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh chubby Annisa
Azura dan Tian tersenyum, "Terimakasih karena kalian sudah memaafkan kami. Untuk menebus kesalahan kami, bolehkah salah satu dari anak kalian berjodoh dengan anak kami??" tanya Tian pada Annisa dan Tama
Membuat Annisa melotot horor padanya. Tian tertawa, "Enak aja Abang! Nggak ada perjodohan! Biarkan berjalan semestinya seperti kami berdua dan kalian! Kalau memang mereka berjodoh, pasti tidak akan kemana!" ketus Annisa mendadak kesal kepada Tian.
Entah kenapa, jika bertemu Tian bawaan Annisa itu pastilah kesal. Mngkin teringat kejadian saat pertama kali bertemu? Bisa jadi.
Tama dan Anto tertawa saat melihat Annisa Dan Tian yang tidak pernah Akur dari pertama kali berjumpa dulunya.
Kini masalah telah selesai dan berdamai. Sudah tidak ada lagi maslahh. Semuanya sudah clear!
__ADS_1