
Tama menghela nafas sesak. Semua ini gara-gara kesalahannya yang bersedia mengantar azura hingga menimbulkan kesal;ah pahaman di dalam rumah tangga mereka berdua.
"Baiklah.. Terserah padamu saja. Yang jelas, apa yang kamu lihat dulu bukan itu yang sebenarnya. Abang tidak melakukan itu dengan guru sekolahmu. Kamu salah paham sama Abang. Baik, akan Abng jeklaskan nanti saat kita di medan. Ayo, kita ke kamar kita. Banyak yang ingin Abang tanyakan padamu," imbuh Tama dengan segera bangkit dari ranjang si kembar dan menarik lembut tangan Annisa untuk masuk ke kamar mereka berdua.
Anto dan Mitha pun sedang beristirahat menidurkan bocah kecilnya yang sama berusia empat tahun lebih sama seperti anak Tama. Beda sedikit saja.
Tama mengikuti langkah Annisa untuk menuju kamar utama di rumah itu. Tiba di kamar itu, Tama tertegun melihat figura besar pernikahan mereka berdua yang kedua dulu. Ia tersenyum dan memeluk Annisa dari belakang.
Tama mendorong pintu dengan satu kaki, Annisa tertawa saat menyadari kebiasaan Tama yang tidak pernah berubah walau sudah lima tahun berlalu.
__ADS_1
"Heemmm.. Kangen banget Abang sama kamu? Hari-hari yang Abang lewati begitu tersiksa. Hanya kenangan kita berdua yang membuat Abang terus bertahan hidup." Ucap Tama masih betah memeluk erat tubuh Annisa dari belakang. Wajah Tama sudah menyentuh pipi Annisa yang mai teertutup hijabnya.
Annisa pun semakin mengeratkan tangannya di tangan hangat Tama yang selalu membuatnya nyaman.
"Adek pun sama Bang.. Tiada hari tanpa memandangi wajahmu di figura besar itu dan juga di ponsel ku. Aku tak punya kekuatan apapun saat itu. Tapi satu keyakinanku pada waktu itu. Jika memang kamu jodohku, sejauh dan seberat apapaun halangan dan rintangannya. Kita berdua pasti bersatu kembali. Terlepas masalah itu besar atau kecil, pastilah kita berdua bisa menyelesaiaknnya. Hanya saja.. Waktu itu memang bentrok dengan keberangkatanku untuk ke Bandung. Maka dari itu, aku sengaja meninggalkan surat untuk Abang. Agar Abang paham, bahwa sebenarnya aku bukanlah lari dari masalah. Tetapi memang harus pergi, karena sekolahku sudah menungguku. Dan sekarang? Mari kita selesaikan!" ucap Annisa dengan segera mengurai pelukan Tama yang membelit tubuhnya dengan erat.
Tama tersenyum, "Tentu. Mari kita selesaikan. Di mulai dari mana?" tanya Tama sambil melangkah duduk di ranjang king size milik Annisa yang sama persis seperti di kamar mereka berdua di Medan sana. Tama terkekeh.
Annisa tertawa. Ia membuka hijabnya di hadapan Tama membuat Tama terkejut. "Masyaallah.. Istriku... Bidadari surgaku.. Berisi banget ya sekarang?? Ya Allah.. Makin enak ini kalau di kekepin tiap malam!" goda Tama pada Annisa membuat Annisa terkekeh tapi menunduk.
__ADS_1
Tama menyentuh pipi lembut itu dengan mata berkaca-kaca. Annisa tersenyum lembut padanya. Tama membuka ikatan rambut yang saat ini Annisa ikat hingga tergerai dengan indah. Lagi, mata pria dewasa itu semakin berkaca-kaca hingag sebulir bening menetes di pipinya.
Dengan cepat Annisa mengusapnya. "Jangan menangis.. Melihat Abang menangis seperti ini membuat rasa bersalahku kepada Abang semakin dalam.." bisik Annisa tepat di wajah Tama.
Hembusan nafas Annisa yang begitu Tama rindukan dulu, saat ia begitu ingin mencium bau harum ketiak Annisa dan juga bau nafasnya.
"Kamu tau sayang?" Annisa mentap Tama dengan penuh cinta. "Lima tahun yang lalu, Abang begitu tersiksa karena sangat ingin mencium bau nafas mu dan juga bau ketiakmu," Annisa menaikkan alisnya dan masih menatap Tama tetapi dengan raut wajah penasaran begitu terlihat jelas. Annisa tidak ingin bertanya.
Karena Annisa tidak ingin menyela ucapan Tama. Ini adalah obrolan mereka setelah berpisah tanpa berkabar hingga lima tahun lamanya. Keduanya bahkan bertahan tidak saling bertegur sapa walau melalui ponsel saja.
__ADS_1
"Saat itu Abang sangat ingin bau tubuhmu. Tetapi tidak Abang temukan dimana pun. Hingga Mak sama Mama pusing dibuatnya. Abang sempat di rawat lagi diruamah sakit karena sakit yang Abang sendiri pun tidak tau karena apa. Yang jelas, waktu itu Abang sangat ingin dirimu sayang.. Tetapi tidak ada. Abang muntah-muntah setiap pagi. Ingin makan kalau Mitha yang memasaknya. Karena masakan Mitha sedikit sama dengan masakan mu. Selebihnya Abang tidak mau.
"Dan juga saat dokter bilang, kalau Abang itu sedang mengalami couvade syndrom atau kehamilan simpatik. Dimana kalau istrinya hamil, maka suami yang memiliki ikatan batin dengan istrinya pun akan ikut merasakannya. Awalnya abang tidak percaya. Tetapi setelah melihat kedua anak kita, berarti kejadian lima tahun yang lalu itu memang karena kamu hamil. Ragata dan Papi juga mengatakn hal yang sama, sama Abang. Tetapi Abang menepisnya. Hingga pada akhirnya Abang bisa membuktikan apa yang Ragata katakan dan papi itu memang benar adanyapada hari ini. Ternyata benar, kamu hamil saat itu.." lirih tama dengan segera memeluk erat tubuh chubby Annisa yang semakin berisi setelah lima tahun berlalu.