
Dua Minggu berlalu.
Saat ini Annisa dan Nara sedang berada di pesantren tempat dimana ia menuntut ilmu. Nara di pesantren yang lain karena iaasihlah SMP. Ketika SMA nanti ingin sekolah umum. Seperti yang lainnya.
''Kak...''
''Hem..'' sahut Annisa yang masih sibuk dengan tombol keyboard nya.
''Gimana kabarnya Bang Tama ya? Adek khawatir loh.. Abang masuk rumah sakit kak.. kita pulang yuk??'' ajak Nara pada Annisa.
Annisa menghentikan jarinya yang sedang bergerak lincah di papan keyboard. Ia menghela nafasnya. ''Kalau adek mau pulang, silahkan! Tapi Kakak tetap disini. Lagipun, kemarin Rayyan udah datang untuk menyusul mu? Kenapa tidak mau pulang? Hem?''
Nara menatap Annisa dengan sendu. ''Adek nggak mau ninggalin Kakak.. adek sayang Kakak.. kakak pasti terluka kam karena masalah itu??''
Annisa tersenyum walau sendu, Nara tau itu. ''Tak apa Dek.. Kakak bisa kok. Besok, kamu pulang aja ya? Eh, tapi siapa yang bakal nyusul kamu Dek?? Rayyan kan sedang di Aceh saat ini?? hemmhh.. ngeyel sih!'' cebik Annisa pura-pura kesal pada Nara.
Nara terkekeh, ''Adek bisa pulang di jemput supir kita, Kak! Hehehe.. besok deh adek pulang. Kakak tak apa kan kalau adek tinggal sendiri??''
Annisa tersenyum tapi mencebik, Nara terkekeh lagi. ''Kakak udah dewasa adek! Ishhh.. emang kamu pikir kakak ini masih sekecil kamu apa?!'' sungut Annisa pura-pura kesal.
Nara tertawa. ''Iya, iya, adek percaya kok. Ya sudah, adek istirahat dulu deh. Udah malam juga. Kakak juga. Jangan terlalu larut dengan tulisan mu Kak! Penulis pun butuh istirahat loh..''
Annisa berdecak kesal. ''Ck! Iya, iya, Nyonya Kinara yang terhormat! Puas?!'' kata Annisa sambil pura-pura kesal pada Nara.
Nara tertawa lepas. Ia masuk dalam gelungan selimut dan mulai memejamkan matanya. ''Kak.. adek tau kakak sakit karena hal kemarin. Itu hanya pengalihan mu saja agar aku tidak khawatir padamu. Aku tau kamu Kak.. aku sangat mengenalmu. Luar dan dalam dirimu, aku begitu mengenalmu. Semoga bang Tama bisa cepat sembuh dan kembali ke Medan untuk menuntaskan masalah kalian berdua. Semoga Abang bisa membujuk Kakak nanti. Semoga saja. Adek hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Semoga kalian bersatu untuk selamanya. Amiiinnn...'' bisik Nara dalam hati.
__ADS_1
Ia memejamkan kedua matanya saat melihat Annisa sudah kembali sibuk dengan papan keyboard di laptop miliknya. Saat ini, Annisa sedang menulis tentang sebuah perjalanan hidup sepasang suami istri yang menikah muda dan dengan lelaki beda usia.
Jari itu begitu lincah bermain di tombol keyboard untuk menuliskan kisah yang ada di pikirannya. Sedikit tidaknya, kisah itu merupakan kisahnya sendiri dengan sang suami.
Mengingat suami, Annisa melamun.
Melainkan sang suami yang entah seperti apa kabar nya. Hatinya begitu sakit kala mengetahui jika Tama pun ikut menerima wanita yang di jodohkan oleh sang Papi untuknya.
Untuk Papi. Cinta pertama nya itu begitu tega padanya. Padahal beliau sangat tau dan dulunya sangat mendukung ketika Annisa menikah dengan Tama.
Tapi apa yang terjadi sekarang??
Cinta pertama nya itu begitu tega menjodohkan suaminya langsung di hadapannya secara terang terangan. Annisa terisak. Bahu itu berguncang.
Mereka berdua minta maaf atas kejadian kemarin. Beliau mengatakan jika semua itu cuma sandiwara. Tama sendiri pun tidak menyetujuinya. Ia lebih memilih diam, dari pada melukai hati Papi Gilang. Begitu kata Rayyan satu minggu yang lalu saat mengunjungi nya dan Nara.
Tubuh Annisa berguncang hebat. Nara yang baru saja terlelap kini terbangun lagi saat mendengar suara isakan Annisa yang begitu menyayat hati.
Nara pun ikut menangis di dalam balutan selimut, ia ikut merasakan rasa sakit yang Annisa rasakan.
''Hiks.. Abang.. tega kamu! Hiks.. aku begitu mencintaimu, tapi apa balasannya? Kamu tega mengkhianati cinta kita! Kamu jahat Bang! Kamu jahat! Rasa sakit saat Azura mengklaim dirimu, mengejar mu hingga kerumah kita, tidak sebanding dengan ini. Kamu diam saat Papi menjodohkan mu di depanku! hiks.. sakit! Sakit sekali! Aku harus apa huh?! Aku harus apa?? haaaaa... aaaaaaaaaa..'' Annisa tersedu di tempat tidurnya.
Begitu juga dengan Nara. Ia pun ikut tersedu di dalam gelungan selimut nya. Sakit sekali melihat Annisa tersedu seperti itu. Ia pun ikut menyalahkan sang Papi yang telah tega mengatur sandiwara itu hingga menyebabkan perpisahan untuk Annisa dan Tama.
''Hiks.. rasa sakit yang selalu aku dapatkan darimu selalu sama. Pastilah tentang seorang wanita saja. Kenapa takdirku harus mengikuti dan membawa wanita ke dalam nya? Apakah ini salah satu ujian di dalam pernikahan ku?? aku harus apa sekarang ini? Apakah aku harus menerima keputusan mu yang akan berpisah dariku?? Hiks.. Tidak! Aku tidak akan membiarkan nya! Sebelum kamu meminta pisah dariku, lebih baik aku yang lebih dulu berpisah darimu!''
__ADS_1
''Sakit sekali jika kamu yang mengatakan pisah dariku. Baik, aku akan berpisah darimu Bang Tama. Aku akan mengajukan gugatan setelah satu tahun lagi. Tapi untuk sekarang, Akai lebih baik menetap di pesantren. aku tidak ingin bertemu dan melihat siapa pun! Aku ingin sendiri! Hiks.. Abang.. hiks.. tega kamu! Haaaaa...'' lagi, Annisa tersedu.
Ia menelungkup kan wajahnya di kedua lututnya. Begitu sakit' yang ia rasa saat ini. Begitu juga dengan Nara. Gadis kecil itupun terisak dan tersedu di dalam gelungan selimutnya.
Sakit sekali. Tak terlihat tapi bisa dirasakan. Cinta sejatinya terpaksa harus ia lepas demi keinginan sang Papi. Sang Papiyang dulunya begitu mendukung dirinya saat menikah dengan Tama.
Tapi semua itu sirna karena perjodohan sang suami oleh sang Papi langsung tepat didepan matanya. Ia terpaksa menahan gejolak dihati saat sang Papi menjodohkan sang suami tercintanya.
Di depan matanya, sang suami pun masih bisa berbicara dengan wanita lain sementara dirinya tidak dihiraukan oleh Tama. Sakit sekali.
Luka yang begitu terasa namun tidak terlihat. Inilah yang dinamakan sakit tak berdarah. Annisa terluka. Walaupun kejadian itu sudah lewat dua Minggu, tapi rasa sakit dihati nya masihlah basah.
Masih terasa hingga saat ini.
Lalu, bagaimana dengan Tama??
Pemuda tampan itu pun merasakan sakit yang sama saat melihat jika di ponselnya tidak ada satu pun pesan dari Annisa istri kecilnya.
Saat ini ia sedang dalam perjalanan untuk tiba di kota Medan. Dua Minggu sudah ia berada di Aceh dan dirawat oleh Mak Alisa, Mama Linda dan Papa Fabian dirumah Nenek Alina.
Ia terus berusaha sembuh, walau hatinya terluka begitu dalam akibat perbuatan sang Papi.
Sekarang, ia hanya bisa pasrah akan takdir. Ia hanya bisa berusaha. Selebihnya, biarlah Allah yang menentukan nya.
💕💕💕💕
__ADS_1