Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Mengalah demi bisa membahagiakan nya


__ADS_3

Mitha duduk termenung seorang diri. Ia duduk menyender di tiang pondok tempat mereka akan makan siang bersama. Melihat Annisa pergi dan menemui Abang nya, Mitha terkekeh kecil.


Niat hati ingin membuatnya cemburu, malah tidak jadi. Masalah yang sedang menimpa keduanya saat ini sudah menyita perhatian kedua orang pasangan beda usia itu.


Mitha terkekeh lagi saat mengingat Annisa, kakak iparnya itu mengatai sang suami dengan Pria tua egois.


''Hahaha.. dasar kakak ipar kocak! Wajah ayu, tapi sifatnya begitu asik. Hihihi.. kayaknya hidup Abang akan berwarna ya dengan kehadiran istri kecil super ajaibnya ini? Hahaha...'' ia tertawa seorang diri di pondok itu.


Tanpa sadar jika ada seorang gadis juga sedang menatapnya kini dengan tatapan tajamnya. Ia menelisik seluruh wajah Mitha dengan tatapan tajamnya.


''Hihihi... hoaammm.. ngantuk banget ya? Hehehe... enak banget angin sepoi-sepoi disini. Hihihi.. sambilan nunggu kedua kakakku yang sedang saling berbagi air asin itu! hihi..." Ia terkikik geli sendiri memikirkan kedua saudaranya itu.


Ia memilih merebahkan dirinya di lantai papan yang dingin itu. Angin sepoi-sepoi berhembus mengibarkan hijabnya hingga ia terlelap sambil tersendiri di ruang pondok itu.


Persis seperti orang terbuang. Tama dan Annisa tiba disana setelah puas menangis bersama.


Tama dan Annisa saling pandang. Kemudian terkekeh bersama. "Lihatlah adik manja Abang, sayang. Bisa-bisa nya ia terlelap dengan tubuh tersender begitu? Belum lagi mulutnya itu menganga pula. Kalaulah ada lalat, pastilah akan penuh mulutnya itu!'' celutuk Tama membuat Annisa tertawa.


Mitha tersentak. ''Ssrruuupp.. apa! Siapa?! Siapa yang berani gangguin gue! Sini lu! biar gue pitek kepala elu sekalian! Ishh.. ganggu aja sih?!'' gerutunya setengah sadar.


Lagi, Tama dan Annisa saling pandang. Lagi, kedua orang itu tertawa. Mitha tersentak lagi dari tidurnya. Matanya menelisik sekitar sepeti orang bingung.


Matanya mengerjab. Kedua orang yang sedang melihat nya itu semakin tertawa. Seketika Mitha sadar. Ia pun ikut terkekeh.


''Hehehe... maafkan adek, bang. Kakak ipar! Hihihi.. enak banget tidur disini sampai lupa kalau ini bukan dirumah tapi di pesantren! Hehe..'' katanya membuat Annisa semakin terbahak.

__ADS_1


Ia mendekati Mitha dan duduk di pondok itu berhadapan dengannya. ''Hahaha ... kamu lucu! Hahaha.. lapar aku! Ayo Bang! Kita makan. Hahaha...'' Annisa masih saja tertawa melihat kelakuan Mitha yang tidur tersender dengan mulut menganga lebar.


''Iya sayang. Kamu baru tau kan kalau saudara ipar mu ini seperti ini kelakuan nya?''


''Hooh. Kaget aku melihat Mitha bisa tidur seperti itu! hahaha...'' sahut Annisa masih dengan tertawa.


Mitha terkekeh lagi. ''Hehehe... maaf atuh Kak! Ayo ih kita makan! Sudah tengah hari loh.. sebentar lagi adzan! Kelamaan nunggu orang yang saling berbagi air asin!'' celutuk Mitha menyindir kedua pasangan itu.


Mereka berdua terkekeh. Annisa dengan sigap membuka rantang dan mengambil piring yang tersedia di dalam tas bawaan Mitha.


Annisa mengambilkan nadi secukupnya dan ia suguhkan untuk Tama. Ia melihat jika tidak ada mangkuk cuci tangan ia berinisiatif ingin masuk kedalam pesantren. Tapi Tama menahannya.


''Mangkuk cuci tangan nggak ada ya? Bentar ya. Adek ambil dulu,'' imbuhnya dengan segera berlalu.


Annisa tersenyum manis pada Tama. ''Terimakasih pria tuaku!'' celutuknya membuat Tama yang sedang tersenyum menatap nya tiba-tiba saja melototkan matanya.


Buhahahaha..


Annisa dan Mitha tertawa terbahak melihat wajah Tama kesal seperti itu karena ucapan Annisa. Namun, bibir tipis itu menyungging senyum saat melihat Annisa tertawa seperti itu.


''Tak apa kamu bilang Abang pria tua sayang. Itu memang benar adanya. Abang memang sudah tua! Umur kita terpaut begitu jauh. Ketika kamu lahir saja Abang sudah berumur tiga belas tahun.


Itulah selisih umur kita! Abang tidak marah kok. Abang sayang sama kamu! Apapun akan Abang lakukan agar kamu bahagia. Abang rela mengalah asalkan kamu bisa tersenyum dan tertawa seperti ini. Abang sangat mencintai mu sayangku.''


Tama terkekeh melihat Annisa sakit perut gara-gara tertawa. Ia puas hati ini bisa membahagiakan Annisa. Mitha sekilas melihat Tama. Tama tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


Mitha pun ikut tersenyum. ''Ya Allah.. begitu sabar nya Abang menghadapi istri kecilnya ini. Ia rela mengalah demi bisa membahagiakan nya.. Jika masih di berikan kesempatan. Hamba pun ingin memiliki suami seperti Abang hamba ini. Bang Adrian Pratama. Abang tersayang ku. Abang sulung dari dinasti keluarga Fabian Pratama. Semoga kalian berdua bahagia selamanya. Dan hanya maut yang bisa memisahkan kalian berdua.. Amiiinnn...''


Mitha menatap pasangan beda usia itu dengan mata berkaca-kaca. Tak ingin tau, jika dirinya sedang terjadi karena pasangan itu. Mitha menoleh ke arah lain, untuk mengusap air mata yang berjatuhan di pipinya.


Kemudian beralih menatap Annisa dan Tama yang kini sedang makan sambil terkekeh kecil. Tama menceritakan kejadian tadi pagi saat Mitha menggoreng ikan.


Jika Mitha lengkap dengan pakaian pelindung nya, maka Annisa berlagak seperti seorang master kungfu di Cina.


Annisa tertawa terbahak mendengar cerita Tama. Ia tidak habis fitkir dengan adik iparnya itu. Annisa semakin tertawa saat Tama bilang, jika Mitha takut minyak panas terkena kulit halusnya itu.


Tama dan Mitha ikut tertawa melihat tingkah Annisa. Dari kejauhan Mitha melihat ustadzah Hanim sedang menatap mereka. Mitha mengangguk dan tersenyum. Ustadzah Hanim bernafas lega.


Tama akhirnya mengizinkan Annisa untuk kuliah di Bandung karena bersyarat. Dan ya, Tama rela mengalah asal istri kecilnya itu bahagia hidup bersama nya.


Agar Annisa tidak tertekan karena Tama terlalu mengekangnya. Tama menghela nafasnya saat merasakan dadanya begitu sesak mengingat ia akan jauh dari Annisa.


Jangan berjauhan hingga kian tahun. Seminggu saja Tama sudah uring-uringan. Entahlah. Tama pun tidak tau apa yang terjadi dengan dirinya. Ia sangat bergantung pada Annisa.


Selama ini, Annisa lah yang selalu berada disampingnya saat ini. Tama merasa kehilangan jika sampai Annisa pergi jauh darinya untuk menuntut ilmu. Walaupun mereka bisa bertemu tiap bulannya, tetapi tetap saja ada rasa yang tidak nyaman dihati nya saat mengingat, jika Annisa akan pergi jauh darinya.


''Semoga Abang bisa sabar menghadapi kakak ipar kecilku ini. Semoga Abang tidak salah dalam memberikan keputusan. Kuharap, keputusan ini tidak membuat Abang terluka nantinya. Semoga saja.'' Bisik hati Mitha.


Ia menatap dua saudaranya itu yang sedang tertawa bersama. Mitha pun ikut tertawa bersama mereka. Semoga saja mereka bisa menjalani semua ini.


Semoga saja.

__ADS_1


__ADS_2