
Azura kembali bertugas setelah melihat mobil Tama hilang dibalik tikungan jalan perempatan antara jalan raya dan pesantren mereka.
Kini Azura sudah berniat dalam hati jika ia akan merebut kembali hati Tama seperti dulu. Tapi sebelum itu, ia harus mengurus satu penghalang baru. Yaitu adik angkat Tama. Gadis kecil yang begitu ia sayangi.
Azura semakin bertekad dalam hati untuk bisa menyingkirkan Annisa dari Tama.
Tunggu saja tanggal mainnya!
Azura menarik sedikit bibirnya saat melihat Annisa yang sedang tertawa lepas bersama temannya.
Pukul dua belas tiga puluh, semua santri berhamburan keluar untuk menunaikan panggilan alam yang sudah berdengung sedari tadi.
Annisa dan Sarah berjalan berdua sambil beriringan. Mereka kadang tertawa, kadang juga terkikik geli.
Tiba di dalam mushola, ia berpapasan dengan ustadzah Azura. ''Kamu di titipkan apa sama Mama, bang Tama?'' tak ada angin tak ada hujan, ustadzah Azura berbicara begitu ketus kepada Annisa.
Annisa menatapnya dengan wajah datar. ''Kenapa? Apa urusannya dengan ustadzah?'' jawab Annisa begitu datar.
Ustadzah Azura tersenyum sinis. ''Percaya diri sekali kamu, jika kamu itu akan menjadi istri bang Tama? Yang akan menjadi istri bang Tama itu, aku! Cinta pertama nya! Kami sudah lebih dulu saling mengenal sebelum kamu hadir di kehidupan kami berdua! Aku peringatkan padamu Annisa, jangan dekati bang Tama lagi! Karena mulai hari ini dan seterusnya, Tama adalah calon suamiku! Bang Tama sudah setuju untuk melamar ku bulan depan!''
Deg!
Jantung Annisa seperti ingin melompat keluar. Begitu juga dengan Sarah. Wajah Sarah begitu terkejut melihat ustadzah Azura berbicara seperti itu.
''Nis...'' panggil Sarah.
Annisa tak menyahut. Wajah nya datar tanpa ekspresi. Ustadzah Azura tersenyum sinis melihat tingkah Annisa yang menurutnya sedang marah padanya.
''Ingat kamu Annisa! Bang Tama itu calon suamiku! Kamu bukan siapa-siapa nya! Jangan coba-coba untuk mendekati nya lagi, jika kamu masih ingin tetap sekolah di pesantren ini! Cam kan itu!'' tegasnya, setelah nya ia berlalu pergi meninggalkan Annisa dan Sarah yang sedang menatap nya dengan pikiran yang entah seperti apa.
Sarah menoleh pada Annisa. ''Nis .. wudhu yuk? Biar hati kamu tenang? Jangan dengarkan ucapan ustadzah Azura. Seenaknya saja dia sudah mengklaim jika bang Tama miliknya! Emangnya, dia pikir itu dia siapa? Ayo, Nis! Jangan dipikirkan!'' kata Sarah, dengan segera ia menarik Annisa untuk berwudhu.
Setelah berwudhu, mereka berdua mengikuti sholat dhuhur berjamaah. Lima belas menit kemudian mereka mulai menjalankan aktivitas lagi.
Sore harinya.
Sore ini Annisa mendapat telepon dari Mak Alisa, yang katanya Rayyan ingin kesana dan menitipkan sesuatu.
__ADS_1
Rayyan saat ini sedang berada di depan gerbang. Ia tidak di izinkan masuk karena tidak memiliki KTP.
Annisa berlari saat mendengar jika adiknya sudah berada diluar pagar. Tiba disana, wajah Rayyan kusut Mansut. Masam sekali. Annisa tertawa melihatnya.
''Assalamu'alaikum sayang ku?''
Deg!
Seseorang dibalik pos satpam itu sedang menguping mendengar kan apa yang diperbuat oleh Annisa dan seorang pemuda tampan yang masih muda.
"Waalaikum salam!" ketus Rayyan.
Annisa semakin tertawa terbahak. "Kamu kenapa Bang?"
Deg!
Lagi, jantung seseorang itu semakin berdegup tak beraturan.
"Ini di izinkan masuk nggak nih?! Capek aja Abang kemari, tapi kayak orang yang nggak diterima kedatangan nya!" ketus Rayyan lagi dengan bibir mencebik.
Rayyan mendelik tak suka. Pak satpam terkekeh melihat nya. "Kalau sudah ketemu Annisa, baru bapak ijinin, Tong! Mari masuk!" titah Pak satpam.
Rayyan masih merengut masam. Dengan segera motor besar Rayyan masuk ke kawasan pesantren milik Ira.
Ia memarkirkan motornya di tempat parkir kemudian berlalu meninggalkan pos satpam dan seseorang yang sedang menatapnya dengan tersenyum sinis.
Ia melihat Rayyan dan Annisa berjalan dengan berangkulan mesra. Rayyan memiliki postur tubuh tinggi seperti Papi Gilang.
Saat ini saja tinggi tubuhnya sudah 167 cm. Tubuh Annisa yang kecil membuatnya tenggelam dalam rangkulan Rayyan.
Mereka bersenda gurau saat berjalan, dengan Annisa selalu meledek Rayyan. "Ishhh.. udah ah! Kenapa sih harus bawa-bawa Zahra coba?! Abang kan belum nikah sama dia? Wong dianya masih di pesantren saat ini. Ya, kali Abang bisa nikahin dia, kemarin baru aja jengukin dia sama Mama Rani. Kakak sendiri, bang Tama ada kesini nggak?'' tanya Rayyan sambil mendudukkan dirinya di pondok untuk para tamu yang ingin berkunjung.
Annisa tersenyum dan mengangguk. ''Ada. Tadi pagi Abang kemari. Kamu ngapain kesini? Ada yang perlu kamu sampaikan kah sama kakak?'' tanya Annisa masih menyunggingkan senyum di bibirnya.
Rayyan menghela nafasnya. ''Abang hanya lagi kangen saja sama Kakak. Cuma kakak tempat Abang bisa berbagi setelah Mami dan Papi. Tapi kami dan Papi sedang tidak di tempat. Mereka lagi honeymoon!'' ketus Rayyan.
Annisa tergelak keras hingga kepalanya mendongak ke atas. ''Bagus dong kalau begitu, berarti kita bakalan punya adik lagi kan?'' goda Annisa pada Rayyan.
__ADS_1
Rayyan melototkan matanya. Wajahnya semakin masam saja. Annisa bertambah tertawa.
''Diem ih! Dikira apa aku, Kak! Lihat tuh, ada yang lagi ngintipin kita!'' celutuk Rayyan merasa jengah dengan kelakuan Annisa yang terus saja menertawai nya.
Annisa menoleh sedikit ke sebelah kirinya, ''Hemm.. ustadzah Azura! Udah beralih profesi ternyata. Malah ingin jadi tukang kuntit sekarang ini. Ck!''
Rayyan tertawa. Ustadzah Azura tertegun melihat Rayyan tertawa. Annisa pun ikut tertawa.
''Sebenarnya.. siapa pemuda itu? Kenapa sangat mirip dengan Annisa jika dilihat dari samping? Apakah adiknya? Kalau adik kenapa panggilan nya jadi sayangku? Dan tadi, kenapa Annisa memanggilnya dengan Abang? Wuuaahh.. ini tidak bisa dibiarkan! Aku harus mengambil foto mereka berdua dan ku kirimkan kepada bang Tama. Aku tau, bang Tama masih memakai nomor yang lama,'' ucapnya.
Dengan segera tangannya merogoh ponsel disaku gamisnya dan membidik kamera pada dua orang yang sedang berpelukan itu.
Annisa sangat jahil, begitu juga dengan Rayyan. Jika Anisa mengecup kening Rayyan, Rayyan membalasnya dengan kecupan di pipi.
Para ustdzah di pesantren itu sudah tau, jika Rayyan adik tiri Annisa. Namun, Annisa dan Rayyan bisa bersentuhan seperti dengan Bang Lana Karena Rayyan pernah menyusui pada Mak Alisa. ( Baca Pelabuhan terakhir ku, biar pada tau )
Selesai dengan drama mereka yang selalu seperti itu setiap kali bertemu, Rayyan pamit pulang.
Ia menitipkan sesuatu untuk Annisa. Entah apa, Annisa pun tak tau. Yang jelas seperti sebuah kado.
Ada-ada saja Rayyan ini, pikir Annisa. Setelah nya ia berlalu pergi meninggalkan ustdzah Azura yang sedang tertawa jahat karena telah berhasil mengirimkan foto itu pada Tama.
Sementara Tama disana, wajahnya merah padam melihat Annisa sedang berpelukan bahkan saling membalas cium. Di pipi dan di kening.
Tangannya mengepal erat. ''Beraninya kamu, sayang! Besok, Abang akan mengunjungimu dan menanyakan siapa pemuda itu!'' geram Tama.
Ustdzah Azura tertawa jahat melihat foto yang baru saja ia kirimkan pada Tama, sudah centang biru.
''Tunggu besok pagi, aku akan lihat. Sampai dimana bang Tama akan menyayangimu? hahaha.. Azura dilawan!''
Ustadzah Azura tertawa sendirian di dalam kamar mandi miliknya. Sedangkan Annisa tertegun melihat isi kado dari Rayyan.
''Tega kamu Bang!''
💕💕💕💕💕
Weleh? pada kenapa itu? Apa yang dilihat bang Tama dan Annisa?
__ADS_1