Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Tama menemui Annisa


__ADS_3

Pukul tujuh pagi, Tama, Rayyan, Mak Alisa, Mama Linda dan Papa Fabian, mereka sudah tiba di kediaman Papi Gilang.


Papi Gilang menyambut hangat istri, anan dan menantu nya itu. Tama tidak ingin turun dari mobilnya. Ia ingin segera menemui Annisa di pesantren yang berjarak satu jam dari Tempat Mak Alisa.


''Turun dulu, nak. Kita makan dulu ya? Kami sedari tadi kami mampir untuk anaknya belum sama sekali loh.. mau ya? Kamu masih harus minum obat nak.'' Ucap Maka Lisa pada Tama.


Tapi Tama menggelengkan kepalanya. ''Maaf Mak.. Abang tetap harus kesana dulu. Setelah bertemu dengan Annisa, baru Abang bisa makan Mak.. Abang pergi dulu ya?'' katanya dengan raut wajah sendu


Mak Alisa pasrah. Ia terpaksa mengizinkan Tama untuk menemui Annisa saat itu juga. ''Baiklah.. Rayyan akan ikut bersama mu. Jika terjadi sesuatu dengan mu, maka akan ada yang melihatmu nanti. Pergilah! Restu Mak menyertaimu. Semoga kamu bisa mengembalikan kepercayaan Annisa lagi padamu. Mak yakin, jika kamu pasti bisa. Kuncinya hanya satu. Sabar. Annisa masih labil. Tapi Mak yakin, ia pasti akan menerima mu. Walau harus butuh perjuangan sih untuk meluluhkan nya.'' Kata Mak Alisa sambil terkekeh.


Tama tersenyum tipis. Namun hatinya tetap gelisah saat ini. Ia sudah bisa menebak, jika Annisa pastilah menolaknya saat ini gara-gara kejadian dua Minggu yang lalu.


''Tunggu Abang, sayang.. Abang akan jelaskan padamu apa dan bagaimana yang sebenarnya. Sekiranya pun kamu menolak, Abang akan tetap berusaha untuk meluluhkan hatimu.


Abang akan menjemput kembali kepercayaan mu yang telah hilang gara-gara kejadian dua Minggu yang lalu. Hari ini, Abang ke tempatmu dan akan menemui mu, sayang..


Tunggu Abang!'' lirih Tama dalam hati nya.


''Ayo, Dek. Kita berangkat sekarang,'' kata Tama pada Rayyan.


''Ya,'' sahut Rayyan.


Dengan segera pemuda tampan mirip Poin Gilang itu memutar kemudi mobil keluar dari permhan megah komplek perumahan Indah permai.


Mereka menuju pesantren Annisa yang berjarak satu jam lamanya.


*


*


*


Satu jam kemudian, kini mereka berdua sudah tiba di pesantren Annisa. Tama turun dengan perlahan, di pegangin oleh Rayyan.


''Pelan-pelan Bang, masih pusing??'' tanya Rayyan pada Tama.


Sangat terlihat dari gestur tubuh nya, jika Tama masihlah lemah. Akan tetapi, demi cinta, hidup dan matinya, ia rela menahan rasa pusing itu.


Rayyan menuntun Tama menuju pondok disana dekat dengan pintu masuk pesantren. ''Agak pusing sih. Tapi tak apa. Abang disini saja. Pergi panggilkan kakakmu. Abang butuh bicara berdua dengan nya.. sssttt..'' lirih Tama sbik mendesis menahan sakit di kepalanya yang tiba-tiba saja berdenyut nyeri.

__ADS_1


Luka akibat hantaman yang begitu keras itu masihlah belum sembuh. Seharusnya Tama istirahat selama sebulan. Tapi karena ia sangat ingin bertemu dengan Annisa, ia rela berangkat ke Medan, walau dokter melarang nya.


''Baik, Abang panggilkan dulu ya? Abang Tak apa kan??'' tanya Rayyan dengan sedikit khawatir.


Tama menggeleng, ''Pergilah. Abang hanya butuh memejamkan mata saja..'' lirihnya dengan mata terpejam.


''Ya sudah, Abang susul kakak bentar ya?''


''Hem,'' sahut Tama.


Rayyan berlari memasuki area pesantren yang hanya dihuni oleh satpam dan guru saja disana. Salah satunya pemilik pesantren yaitu ustadzah Hanim.


''Assalamu'alaikum ustdzah..'' dapat Rayyan pada ustdzah Hanim yang sedang menyiram bunga di pagi ini.


''Waalaikum salam.. loh? Nak Rayyan? mau ketemu Annisa??'' sahut ustadzah Hanim, biaya berbalik menghadap Rayyan dan segera pergi masuk untuk menyusul Annisa.


''Ya, ustdazah. Abang sangat ingin bertemu kakak. Beliau sedang sakit. itu sedang duduk sendirian di luar.''


Ustdazah Hanim berbalik menghadap Rayyan. ''Siapa? Tama? Sakit apa?''


Rayyan tersenyum, ''Ada kejadian sedikit saat kami berlibur ke Aceh. Makanya kakak buru-buru pulang. Dan saat ingin menyusul kakak kesini, Abang kecelakaan.'' Bohong Rayyan pada ustdzah Annisa.


Mami... Abang berbohong.. maaf ustdzah.. ini semua demi Kakak..


Rayyan Terkekeh. Begitu juga dengan ustadzah Hanim. ''Masuklah. Mereka pasti sedang membersihkan dapur saat ini. Sangat kompak!'' celutuk Ustdzah Hanim.


Rayyan tertawa. ''Tentu ustadzah, terimakasih. Kalau begitu saya masuk dulu. Saya akan bawa mereka keluar. Karena Abang menunggunya disana.''


''Tentu. Silahkan!''


Rayyan mengangguk. ''Assalamu'alaikum Kak..''


Deg!


Deg!


Annisa dan Nara saling pandang. Mereka menoleh bersamaan ke belakang. Terlihat Rayyan datang dengan tersenyum manis padanya.


Annisa pun ikut tersenyum. ''Waalaikum salam, mau jemput adek kah??'' tanya Annisa sembari mendekati Rayyan dan mengulur kan tangannya untuk disalimi Rayyan.

__ADS_1


''Ya, sekalian nyusul adek. Abang baru aja pagi ini sampai kerumah. Keluar yuk! Abang nunggu kakak diluar sana. Ayo, kasihan. Orangnya masih sakit tapi bela-belain ingin ketemu kakak disini.''


Annisa menatap Rayyan dengan wajah datarnya saat mendengar nama Tama. ''Kakak duluan. Kamu pulanglah bersama adek. Kakak mau lanjut beberes lagi.'' Katanya pada Rayyan.


Ia berbalik dan pergi meninggalkan mereka berdua. Tapi belum lagi Annisa bergerak jauh, tangannya sudah di cekal oleh Rayyan.


''Kak.. please... sebentar... saja. Kasian Abang Kak. Saat ini ia sedang sakit. Tidak inginkah kakak bertemu dengan nya? Kasian Abang Kak.. Abang mohon..'' pinta Rayyan dengan sangat.


Nara sudah memegangi tangan Rayyan yang sangat dingin dan gemetar karena melihat wajah Annisa begitu dingin.


''Kak.. adek mohon.. temui dulu, ya? Kalau nanti kakak tidak ingin lama-lama sama Abang, kakak masuk lagi. Ayo, adek sekalian pulang. Besok adek ada tugas kelompok di pesantren dan harus balik sore ini. Ayo!'' bujuk Nara begitu lembut.


Nara menarik lembut tangan Annisa. Annisa Tidak bisa menolak jika Nara yang memintanya. Rayyan tersenyum melihat kedekatan kakak dan adiknya itu.


''Pantas saja Papi bilang, jika mereka bagai pinang di belah dua. Dan ya, itu benar adanya. Adek Nara ternyata copian kak Annisa.'' katanya sambil terkekeh kecil.


Ia mengikuti kedua bersaudara itu hingga kelautan dari pesantren. Toan di ujung pintu, Annisa berdiri mematung melihat keadaan Tama.


''Kak...'' panggil Nara


''Ya, ayo.'' Jawabnya.


Annisa menyusut bulir bening yang mengalir deras di pipinya. Tiba di depan pondok, Tama membuka Kedua matanya.


Deg, deg, deg..


''Abang..''


''Sayang..'' sapa mereka berdua bersamaan.


Nara dan Rayyan tersenyum. Mereka berdua melipir ke arah lain. Memberi ruang pada sepasang suami istri beda usia itu.


''Sayang...''


''Abang Kenapa?? Sakit gara-gara aku tinggal, atau gara-gara wanita calon istri Abang? Gimana sama perjodohan itu? Lancarkah? Kapan kalian menikah? Jangan lupa undang adek ya? Dan ya, jangan lupa jatuhkan talak padaku, sebelum Abang menikahinya!''


Deg!


Deg!

__ADS_1


💕💕💕💕💕


Nah loh?


__ADS_2