
Sementara kedua orang yang pingsan itu dibawa ke kamar hotel, acara resepsi pernikahan mereka berdua segera dilanjutkan.
Tama dengan segera membawa Annisa ke kamar mereka tempat dimana tadi mereka berdua dihias.
Ia baringkan Annisa disana. Setelah nya ia ambilkan minyak telon kesukaan Annisa ia oleskan pada hidung dan juga pelipisnya yang tertutup hijab baju adat Aceh.
Kedua orang tua mereka pun panik bukan main. Tetapi Tama tidak mengizinkan mereka masuk. Ia ingin berbicara berdua setelah Annisa sadar nanti.
Dan ya, baru saja Tama mencoba menggosok kedua tangan Annisa dengan wajah khawatir, Annisa mengerjabkan matanya.
''Abang...''
Tama menoleh, ia saat ini sedang mengoleskan minyak telon di kaki Annisa yang tertutup kaos kaki. Tama beralih mendekati Annisa dan duduk disampingnya.
Ia tersenyum melihat Annisa. ''Sudah mendingan?''
Annisa mengangguk walau masih dengan raut wajah sendu. ''Bantuin.. adek mau bangun. Kita kembali ke depan ya? Nggak enak sama tamunya..'' lirih Annisa seperti tidak berdaya.
Tama memeluk tubuh Annisa. ''Tak apa jika kamu tidak sanggup. Lebih baik kamu istirahat saja. akan Abang panggilkan penata rias kamu tadi. Tunggu sebentar!'' ucapnya sambil berdiri menuju pintu.
Belum lagi Tama bangkit tangan Annisa yang berbalut henna cantik mencekal lengannya. ''Kenapa? Kamu butuh sesuatu? Biar sekalian Abang ambilkan?''
Annisa menggeleng. ''Kita keluar sekarang. Nggak enak sama tamu. Maaf.. gara-gara adek nangis, Abang sampai bawa adek kemari..'' lirihnya masih dengan dada yang begitu sesak.
Tama menghela nafasnya. ''Sayang! Dengerin Abang.'' Ia menagkup wajah Annisa yang sangat cantik dengan polesan make up water proof itu.
Tama tersenyum. Cup!
Ia labuhkan kecupan hangat di kening Annisa. Annisa memejamkan kedua matanya. Ia memeluk erat pinggang Tama.
''Dengar sayang. Semua yang ayah katakan pasti ada maksudnya. Tapi kita tidak tau apa. Walau kita bisa menebak ucapan nya itu berujung Kemana, tapi percayalah. Jika memang sudah menjadi takdir ayah, beliau tidak bisa menolak lagi. Pesan Abang. Penuhi keinginan nya untuk yang terakhir kali, hem?''
__ADS_1
Annisa menatap Tama dengan mata berkaca-kaca. Tama mengecup kedua mata indah yang selalu membuatnya jatuh cinta setiap hari.
''Penuhi keinginan ayah. Maka pernikahan kita akan berkah nantinya. Setelah dari sini, kita langsung saja kerumah ayah dan bunda. Ajak saudara kita yang lainnya agar ayah senang. Mana tau, apa yang ayah katakan itu benar paling tidak sudah memberikan kenangan terakhir untuknya. Ya?''
Annisa mengangguk dan tersenyum melihat Tama walau air mata menetes di pipi halusnya. Tama mengusap air mata itu dengan sayang.
''Terimakasih. Karena Abang, adek masih bisa kuat. Jika tidak, pastilah...''
''Sssssttt.. sudah. Ayo kita keluar. Katanya mau dilanjut lagi kan?'' Annisa mengangguk dan tersenyum.
''Sebentar, Abang panggilkan penata riasnya dulu untuk membenahi makeup kamu.'' Annisa mengangguk lagi.
Tama turun dari ranjang dan berlalu mendekati pintu dan membukanya. Terlihat kedua orang tua mereka sedang berbicara dengan bunda zizi yang sudah sadar.
Tidak terlihat ayah Emil disana. Ketiga wanita itu menoleh bersamaan. ''Bagaimana Annisa? Sudah sadar??'' tanya Mama Linda.
Tama Terkekeh. ''Sudah Ma. Mbak!'' panggil Tama pada penata rias Annisa.
''Sudah. Masuklah. Annisa baru saja sadar. Mari!''
Penata rias itu mengangguk. Mereka berlima masuk ke dalam kamar menuju Annisa yang saat ini sedang duduk termenung dengan air mata beruraian di pipinya.
''Sayang?'' Tama memanggil Annisa yang melamun, ia terkejut dan menoleh pada Tama.
Annisa tersenyum, ''Mama, Mak, Bunda..'' lirih Annisa tidak berdaya.
Ketiga paruh baya itu mendekati Annisa dan duduk disamping Annisa kiri dan kanan. Bunda Zizi berjongkok dihadapan nya.
''Maafkan Bunda, nak.. gara-gara Bunda acara kamu sempat terhenti..'' lirih Bunda Zizi menatap sendu pada Annisa.
Annisa tersenyum dan menggeleng. ''Enggak.. Bunda nggak salah kok. Ini semua memang aku aja yang terlalu lemah. Tidak sanggup menerima kenyataan Yang akan terjadi. Baik, Kakak akan memenuhi keinginan ayah.''
__ADS_1
''Kamu mendengar nya?'' tanya Bunda Zizi dengan mata terus menatap anak tirinya itu.
Annisa tersenyum, ''Dengar lah Bunda. Kami bertiga mendengar bisikan ayah. Tanpa ayah berbicara pun Kakak tau apa Yang Ayah bicarakan dengan Papi Gilang tadi.. makanya kakak menangis..'' lirihnya dengan menunduk. Bibir itu bergetar kembali.
Bunda Zizi tersenyum, ''Ikatan kalian itu memang sangat kuat ya? Baik, jika kamu ingin memenuhi keinginan ayah mu, tanya dulu pada suami mu. Apakah ia lebih menginginkan untuk memenuhi keinginan ayahmu atau... keinginan nya sendiri??'' tanya bunda Zizi sembari melirik Tama sekilas.
Deg, deg, deg..
Jantung Tama berdetak tidak karuan mendengar ucapan Bunda Zizi yang memang benar adanya. Tapi ia rela mengalah asal Annisa tidak bersedih lagi.
Wajah tampan Tama mendadak merona karena terus di lirik oleh Bunda Zizi. Sadar jika is terus di tatap seperti itu, ia melengos. Mak Alisa dan Mama Linda Terkekeh. Bunda Zizi pun ikut terkekeh.
''Tuh, lihat aja wajah suami kamu! Ia menginginkan kamu sayang. Penuhi dulu keinginan nya baru setelah nya keinginan ayah mu, hem?''
Annisa menatap Tama dengan serius. ''Sudah nak.. benar kata Bunda kamu. Turuti dulu keinginan Tama baru setelahnya ayah kamu. Ingat? Kamu sudah di nikahkan dengan Tama. Tanggung jawab dan surga kamu sudah berada bersama suami kamu. Ya?'' timpal Mak Alisa.
Annisa masih menatap Tama. Tama tersenyum, ''Terserah kamu saja Sayang. Jika kamu ingin begitu, ya.. akan Abang ikuti. Asalkan kamu tidak menangis lagi, hem?'' ucap Tama sembari mendekati Annisa yang saat ini terus menatap nya.
''Apapun keputusan kamu Abang akan ikut. Kalau kamu ingin kita ke tempat ayah dulu, maka kita akan ke tempat ayah. Baru nanti kita pulang kerumah kita. Toh, rumah kita kan tidak lari??'' seloroh Tama membuat semua orang disana terkekeh.
Annisa masih saja menatapnya dengan dalam. ''Adek ikut apa mau Abang. Kalau Abang bilang pergi, maka adek akan ikut. Apapun perintah Abang..'' lirih Annisa dengan tulus pada Tama.
''Alhamdulillah...'' ucap ke empat orang wanita itu.
''Baiklah. Ayo kita bersihkan sedikit dulu makeup kamu. Baru setelahnya akan kita lanjut lagi acara resepsi kalian berdua.''
''Ya,'' sahut Annisa.
Annisa dirias kembali oleh penata rias nya. Cukup lima menit saja. Setelahnya mereka kembali menuju ballroom dimana tamu mereka semakin banyak sedang menunggu kehadiran sepasang pengantin itu.
💕💕💕💕💕
__ADS_1
Otw pecah tanggul! 🤣🤣