Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Nara marah dan ingin pulang ke Medan


__ADS_3

Seseorang mengepalkan kedua tangannya saat melihat Annisa menangis meraung tidak karuan di tempat yang sunyi. Ia mengusap bulir bening yang mengalir di pipinya.


Ia berlari ke tempat dimana seluruh keluarga berkumpul. Disana sudah ada Tama dan juga Rayyan serta seorang gadis yang Katanya Sangat ingin menerima perjodohan itu di akibatkan karena Papinya.


Ia menatap benci pada semua orang yang ada disana yang telah tega melukai hati Kakaknya.


''Hoo.. jadi bang Tama ingin menikah dengan gadis ini? Begitu kan Pi?''


Deg!


''Nara!'' seru Mak Alisa karena terkejut.


Nara tidak peduli. Ia menatap nyalang pada kedua orang tuanya dan juga Tama sebagai iparnya. Suami dari Annisa.


''Kalian tega! ingin menikahkan bang Tama dengan gadis lain sementara kak Annisa masih ada!''


Deg!


''Nara!!'' seru Papi Gilang. Kini gantian dirinya yang memanggil Nara.


''Apa!! Tak suka? Mau kalian Kemana kan Kak Annisa yang sudah sah menjadi istri bang Tama? huh?! Aku benci kalian para orang tua yang tidak mengerti perasaan anaknya! Apa kalian tau? Kak Annisa menjerit, menangis, meraung di ujung sana karena kelakuan kalian semua! Kecewa adek sama kalian! Abang Juga! Bukan nya mengejar kakak! Malah sibuk dengan perempuan lain! Jijik aku melihat kalian semua! Kalian egois! lebih baik kami mati daripada kami harus tertekan karena permainan kalian para orang dewasa!AKU.. BENCI PAPI DAN MAMI! KALIAN JAHAT! KALIAN TEGAAAAA!!!!!''


Ddduuaaarrr...


Bagai disambar petir kedua orang tua nya. Mak Alisa dan Papi Gilang tersentak karena ucapan Nara. Tama mendekati Nara ingin bertanya.


''Dek-,''


''Buat apa? Buat apa Abang mencari kakak ketika Abang sudah berhasil menghancurkan hatinya! Kalian semua tega! Terutama Papi dan Mami! Kalian tega ingin menjodohkan menantu kalian sendiri sementara putri kalian sudah menikah dengannya!''


Deg!


''Apa?!'' seru gadis yang berdiri disamping Tama.

__ADS_1


''Kenapa? Terkejut? Kamu di bohongi oleh mereka! Pemuda yang berdiri disamping mu itu, merupakan suami kakakku Annisa! Dan gara-gara kalian semua, kakakku terluka! Mulai dari tadi malam sampai hari ini air mata itu tidak pernah surut! Tega kalian berdua! Cukup! Cukup sampai disini! Jika memang kalian sangat ingin menikahkan menantu kalian dengan orang lain, setidaknya jangan terang-terangan seperti ini. Bahkan kalian tega menunjukkan identitas CALON ISTRI BANG TAMA sementara dirinya sudah menikah dengan Kakakku! Aku kecewa! Sangat kecewa! Padahal Mami dan Papi tau, jika mereka berdua saling mencintai.. hiks.. Kakakku! Kami akan pulang! Selamat menikmati hari-hari bahagia kalian semua! Hari ini juga kami akan pulang ke Medan! Adek permisi. Assalamualaikum!''


Ddduuaaarrr...


Mami Alisa oleng ke belakang. Papi Gilang menahan nya. Dan ..


Brruukkk..


''Sayang!''


''Mami!!''


''Alisa!!'' semua orang memanggil Alisa yang sudah jatuh pingsan di tanah. Nara mengambil tas Annisa dan juga kedua keponakan nya.


Mereka bertiga berlari menyusuri jalan di mana Annisa berada. Tama mengikutinya dari belakang. Begitu juga dengan Rayyan. Termasuk gadis itu. Ia pun ikut mengejarnya.


Nara berlari terbirit-birit dengan menggendong kedua keponakan nya. Entah mendapatkan kekuatan dari mana, Nara pun tidak tau. Yang jelas ia berlari seperti angin saja. Hingga Tama dan Rayyan kehilangan jejaknya.


Sementara Nara dan Annisa sudah masuk ke mobil pesanan Annisa. Mereka pulang kerumah dan rencana nya sore ini mereka akan pulang ke Medan.


Tama berlari menuju keluarga mereka untuk melihat Mak Alisa sudah sadar atau belum. Dan ternyata Mak Alisa sudah bangun dan menatap dingin pada semua orang. Terutama Papi Gilang.


''Mak??''


''Duduk! Ada yang ingin aku luruskan disini! Terutama kamu Gilang Bhaskara!''


Deg!


Deg!


Papi Gilang memejamkan kedua matanya. Ia tau telah melakukan kesalahan. Padahal bukan seperti ini yang dia inginkan.


''Sayang, dengarkan dulu-,''

__ADS_1


''Apa yang aku ingin dengar darimu? heh?! Tidak kah kau lihat putri kecilku begitu marah kepada ku terutama kamu?! Belum cukup sandiwara ini? Hingga kamu tega menghancurkan hati kedua putriku! Dan kamu Tama! Tidakkah kamu punya pendirian?! Bisa-bisa nya kamu luluh dengan gadis ini dan kamu mengabaikan Annisa yang jelas-jelas adalah ISTRI SAH MU! Mak kecewa sama kamu! Sekarang lihat? Sandiwara kamu berhasil Gilang! Kamu berhasil menghancurkan hubungan kedua anak manusia yang sudah terikat takdir! Dan kamulah orang yang telah merusaknya! Kecewa aku sama Kamu! Aku mau pulang! Jangan ada yang mengikuti ku! Bersenang-senang lah kalian disini dengan CALON MENANTU kalian yang baru. Aku akan pulang untuk menemui kedua putriku!'' imbuhnya begitu dingin dan menusuk ke seluruh tulang.


Mak Alisa berlalu di ikuti Rayyan dan Algi. Tinggallah Papi Gilang, Tama dan Kakek Yoga. Sementara keluarga yang lain tidak tau harus berbicara apa.


''Pa..''


''Kita pulang! Bicarakan hal ini dirumah! Dan untuk kamu nak Husna. Maaf atas ketidak nyamanan ini. Kami permisi pulang. Ayo semuanya pulang! Kita bicarakan Masalah ini dirumah! Alisa sudah pulang untuk menyusul kedua anaknya yang kecewa karena perbuatan kita. Ayo!'' ajak Kakek Yoga.


Semuanya menggangguk setuju. Ia tidak menyangka jika semua ini terjadi. Padahal awalnya hanya mengikuti saran dari Papi Gilang untuk bersandiwara menggoda Annisa dan Tama.


Malah kacau seperti ini. Dan yang tidak mereka tau ialah gadis yang bernama Husna begitu ngebet ingin menikah dengan Tama.


Acara jalan-jalan ke pantai batu putih harus di undur karena Masalah ini. Mereka semua pulang dalam pemikiran yang entah seperti apa.


Satu jam kemudian, mereka semua tiba dirumah. Tapi rumah itu terlihat sunyi. Namun, pintu depan terbuka. Dari dalam sudah terdengar suara Isak tangis Mak Alisa.


Papi Gilang bergegas turun. Dan saat tiba di dalam rumah itu, Papi Gilang mematung mendapati Mak Alisa menangis sesegukan dengan memegang kertas selembar.


Ia mendekati Mak Alisa dan memeluknya. Rayan dan Algi pun ikut menangis. Mak Alisa tak menolak saat Papi Gilang memeluknya.


Ia mengambil kertas yang berada di tangan Mak Alisa dan membacanya.


Ddduuaaarrrrrr...


Papi Gilang jatuh terduduk dengan memeluk Mak Alisa. Matanya mengembun. Ia menatap Rayyan dan Algi bersamaan.


''Ini nggak benar kan Bang?? Kakak kalian nggak mungkin pulang ke Medan kan??''


Rayyan terisak. Ia tidak sanggup menyahuti ucapan Papi Gilang. Tama mendekat dan mengambil kertas putih itu.


''Selamat tinggal semuanya. Kami berempat pulang ke Medan sore ini. Jika masih di berikan umur panjang, maka kalian akan bertemu dengan kami lagi. Tapi jika tidak, inilah waktu terakhir kami bersama kalian semua.. kami pulang.. maaf .. sudah membuat kalian kesusahan selama mengurusi kami.. kami pamit. Assalamualaikum..''


''Selamat tinggal bang Tama.. semoga kita berjumpa lagi.. kalau kita bertemu nanti, jangan lupa jatuhkan talak padaku. Agar kamu bisa menikahi gadis pilihan kedua orangtuaku. Selamat tinggal Abang. Semoga kamu bahagia hidup bersama nya. Annisa.''

__ADS_1


Brrruukkk..


''Tama!!!''


__ADS_2