
''Ayo dong Sarah bantuin..'' rengek Annisa lagi untuk yang kesekian kalinya.
Sarah menghela nafasnya. ''Tidak bisa Nis! Sudah tau itu Henna asli, pakai di ukir-ukir lagi! Sekarang mau apa? Ck! Kamu ada ada saja sih?!'' tolak Sarah dengan menggerutu sebal.
Annisa terkekeh, namun air mata itu bercucuran. Dengan segera ia berlalu meninggalkan Sarah yang kebingungan akibat perbuatannya.
Annisa masuk kekamar dan mengambil handuk. Untung nya, teman sekamar Annisa sudah ke Mushola duluan.
Jadi aman untuk kondisi nya. Entahlah nanti, ia pun tak tau. Jalani dulu saja yang sekarang ini. Pikir nya.
Annisa kembali lagi ke kamar mandi dimana ada Sarah disana. Dengan segera ia menutup pintu dan mulai melepas kan pakaiannya.
Tiba di kaos kaki, Annisa tertegun sebentar. Namun setelah itu ia bersikap biasa. Karena dia sudah punya ide untuk masalah Henna yang ada di kakinya.
Annisa membuka kaos kaki dan juga celana panjangnya. Sarah semakin melotot melihat kaki Annisa yang berhiaskan Henna.
''Astaghfirullah Annisaaa... kenapa kamu ukir juga sih di kaki Kamu?! Aduhh... bisa gawat ini..'' keluh Sarah semakin panik.
Annisa terkekeh, padahal dalam hati ia semakin terluka melihat ukiran cantik itu di kakinya.
''Kenapa hem? 'Kan cantik??''
Sarah mendongak menatap nya yang sudah berjongkok melihat kedua kaki Annisa. ''Kamu jujur sama aku! Kamu udah nikah kan Annisa?!''
Deg!
__ADS_1
''Makanya kamu pulang kemarin kan? Untuk cuti pernikahan mu selama tiga hari?! Ngaku Annisa?!'' seru Sarah dengan lirih
Agar semua yang ada di luar kamar mandi tidak mendengar nya. Annisa memutar kran air agar menyamarkan suara Iirih mereka berdua.
''Cukup kamu yang tau, Sarah! Jangan orang lain lagi! Aku percaya padamu. Jadi ku mohon.. jangan katakan kepada siapapun!'' tukas Annisa dengan tatapan seriusnya.
''Astaghfirullah Annisa.. dengan siapa?!'' lirih Sarah Lagi.
''Kamu mengenalnya! Palingan besok juga akan datang kesini untuk menemui ku! tapi aku tidak ingin bertemu dengan nya! Pernikahan kami tidak seperti pernikahan lain nya, Sarah. Dia terpaksa menikahiku, karena Mamanya. Sementara dia.. sangat mencintai tunangan nya!''
Deg!
Sarah terkejut. ''Maksudmu, pernikahan ini terpaksa terjadi karena permintaan Mama nya? Jangan bilang jika ini...''
''Ya, seperti yang kamu pikirkan Sarah. Aku harap kamu bisa menjaga rahasia ini dengan baik. Karena jika semua ini terbuka, maka aku tidak bisa melanjutkan sekolah ku lagi. Ayo kita mandi. Aku sudah mengambil baju ganti mu. Aku mohon Sarah. Jaga rahasia ini. Cukup kita berdua aja yang tau.'' ucap Annisa begitu serius pada Sarah.
''Tapi... jika Bang Tama terpaksa menikahimu, kenapa warna Henna ini begitu cantik di kulit kaki mu? begitu juga dengan tangan mu? Apa mungkin???''
''Jangan menerka-nerka yang belum tentu benar Sarah. Buang pikiran mu itu. Dia tidak akan pernah mencintai adik angkat sepertiku! Kamu pikir, ini cerita dalam novel apa? Menikah karena terpaksa kemudian saling jatuh cinta begitu?! Itu tidak akan pernah terjadi!''
Sarah mangap ingin bicara lagi, tapi terhenti karena ucapan Annisa yang membuatnya terdiam.
''Ini dunia nyata Sarah! Bukan dunia novel. Aku memang penyuka novel. Saking seriusnya aku menyukai novel, aku sudah banyak menulis cerita di platform gratis. Agar semua kisahku selama aku bayi, sampai saat ini sudah ku tulis disana. Hanya saja.. apa yang tertulis disana tidak sesuai dengan kenyataan hidupku, Sarah. Aku memang mencintainya sejak aku kecil. Namun, dia tidak mencintai ku seperti aku mencintai nya. Kami berbeda jalur Sarah... jika dia dengan dunia nya. Maka aku dengan duniaku. Tidak akan pernah bersatu. Walau sekuat apapun aku memaksanya, itu tidak akan mungkin Sarah.. aku tau siapa dirinya..'' lirih Annisa dengan air mata yang sudah bercucuran.
__ADS_1
Sarah ikut menangis mendengar curhatan hati Annisa. Gadis cantik yang selalu memendam segala masalahnya sendiri, hari ini terbuka padanya.
Annisa memejamkan kedua matanya. Sarah mendekati nya dan memeluknya dengan erat. ''Aku tidak bisa membantu mu dalam masalahmu Nis.. tapi aku bisa jadi sahabat untukmu berbagi dalam setiap keluh kesahmu. Aku akan menjaga Rahasia ini sampai nanti kamu benar-benar resmi menjadi seorang istri dari Adrian Pratama. Seorang pengusaha sukses di bidang otomotif. Terkadang aku heran. Kenapa kisahmu itu seakan-akan jika salah satu cerita yang kau tuliskan di platform itu sekarang terjadi padamu? Apakah ini hanya kebetulan belaka? Atau kutukan penulis?"
Annisa terkejut dengan ucapan Sarah. "Astagfirullah... Sarah! Mana ada yang seperti itu! Semua yang kutulis disana berdasarkan pengalaman hidupku selama ini. Begitu juga dengan masalah-masalah yang timbul dalam pernikahan. Itu aku dapatkan dari kisah nyata. Kisah kakak ku sendiri. Yang saat ini sudah berbahagia dengan suaminya. Begitu juga dengan Abang ku! Mak dan Papi! Semua cerita itu aku angkat dari pengalaman hidup mereka. Ya.. walau sebagian nya aku tulis berdasar pemikiran ku sendiri! Nggak ada jiplakan karya orang lain! Orisinil! Punya ku sendiri! Kamu paham Sarah?!'' ketus Annisa di akhir pembicaraan nya.
Sarah terkekeh, ''Hehehe.. jangan marah atuh.. aku kan cuma menebak saja. Tapi.. firasat ku ini tidak pernah salah. Bang Tama juga menyayangimu Nis.. sangat terlihat di matanya.''
''Yang terlihat tidak sesuai dengan yang tersembunyi, Sarah. Mencintai berbeda dengan menyayangi. Jika mencintai, kita akan sangat bergantung pada orang tersebut. Selalu membutuhkannya saat suka dan duka. Kehilangan nya seperti kehilangan separuh hidup kita. Itu terjadi hanya pada satu orang saja. Bukan pada semua orang. Contohnya saat ini. Kamu menyayangi ku tidak sebagai teman mu?''
Sarah mengangguk. ''Ya,''
''Itu disebut dengan menyayangi. Berbeda dengan mencintai, Sarah. Dia hanya menyayangiku, bukan mencintaiku..'' lirih Annisa dengan bibir bergetar.
Sarah terdiam. ''Sabar Annisa.. semua ini pasti sudah di atur oleh Nya. Kita hanya bisa mengikuti takdir. Ikhlas kan! Karena dengan mengikhlaskan, hatimu akan kembali lega, hem??''
Annisa tersenyum, ia mengusap wajahnya ayunya yang semakin sembab. ''Ya.. aku mengikhlaskan pernikahan ini terjadi padaku. Karena ku tau.. semua ini memang sudah menjadi ketetapan Nya. Biarlah berjalan seperti air mengalir. Aku akan mengikuti arus, kemana pun arus itu membawa ku. Aku akan sabar dengan semua takdir hidup ini. Hidup sudah sulit, buat apa mempersulit nya dengan menolak pernikahan ini?''
''Jika suatu saat kami berjodoh, pasti kami akan dipersatukan. Namun jika tidak, maka cukup sampai disini. Sedari perjalanan kesini aku sudah memikirkan hal ini. Aku sudah mengikhlaskan nya Sarah...'' ucap Annisa dengan tersenyum manis padanya.
Sarah pun ikut tersenyum. ''Alhamdulillah kalau begitu. Ayo mandi! Sebentar lagi waktu ashar habis. Aku akan lihat, apakah bang Tama akan datang kesini untuk menemui mu? Atau dia lebih memilih tidak memikirkan mu? Aku bisa menebaknya Annisa. Suami tampan mu itu, pasti akan datang untuk mencari mu besok pagi. Lihat saja!'' ucap Sarah begitu yakin.
Annisa tertawa. ''Kita lihat saja besok. Kalau pun dia datang, aku tidak Akan menemuinya. Aku akan pulang sendiri saat Mama sudah pulang dari umroh nanti.''
''Dih, sadis amat Neng! Tunggu Mak nya dulu baru mau pulang? Ingin ngadu nih ceritanya?'' ledek Sarah.
__ADS_1
Annisa hanya tertawa saja. Ia sudah memikirkan ini sejak dalam perjalanan tadi. Apa dan kapan, hanya dia yang tau waktunya.
Untuk sekarang, ia hanya bisa menunggu. Menunggu di dalam ketidak pastian yang terasa semu.