
''Sudahlah Bang. Aku mau pulang ke pesantren! Aku ingin menenangkan diri dari rasa kecewa ku pada Abang. Dan ya, seharusnya aku yang bertanya kepada Abang. Siapa gadis yang Abang temui di mall Mak Alisa dua hari yang lalu sampai kalian bergandengan tangan dan berpelukan di parkiran?! Apakah itu kekasih barumu? Atau .. selingkuhan mu?!''
Deg!
''Apa maksudmu?!'' Tama terkejut mendengar ucapan Annisa yang menuduhnya.
Annisa terkekeh sumbang, namun air mata itu terus mengalir membasahi pipinya. Ia menatap sendu padanya.
''Kenapa? Abang terkejut? Ya! Begitu juga denganku! Aku sangat terkejut mengetahui fakta yang Abang sembunyikan dariku. Aku tau semua tentang mu bang Tama! Semuanya.'' Ucap Annisa dengan lelehan bening terus mengalir dengan deras di pipinya.
Tama masih menatap lekat pada Annisa. Ia masih menerka, darimana Annisa mendapatkan foto itu.
''Tapi belum lagi aku bertanya kepada Abang, siapa wanita yang bersama mu, kau datang langsung saja menuduhku yang tidak-tidak. Aku berpelukan dengan adikku sendiri! Rayyan putra Bhaskara! Bukan lelaki lain seperti pikiran mu! Kalau kamu iya, bahkan kalian berani bergandengan tangan di depan umum seperti sepasang kekasih! Tidak ingat status sudah menikah dan memiliki istri! Walaupun aku masih kecil, tapi aku tetap istrimu, bang Tama! Tapi apa?'' ujar Annisa lagi.
Ia mengusap kasar lagi buliran bening yang terus mengalir di pipinya. ''Kalian berdua bahkan berani berpelukan di tempat umum. Tertawa bersama, berpegangan hingga pulang kerumah. Apa itu namanya jika bukan selingkuh?!''
Deg!
Tama mengepalkan kedua tangannya. ''Siapa yang mengirimkan foto tentang Abang padamu? Itu tidak seperti yang kamu pikirkan sayang! Kamu salah paham sama Abang!'' tegas Tama tapi dengan wajah datar.
Annisa tersenyum kecut. ''Bagaimana aku tidak salah paham sama seperti Abang, jika yang kalian lakukan itu seperti sepasang suami istri?? Apakah aku salah menebak nya? Melihat gelagat kalian berdua itu sungguh kesal aku melihat nya! Berpegangan tangan, cium pipi kiri dan kanan dan terakhir! Kalian berpelukan bersama di tempat umum! Apa itu namanya?! Jangan sekali-kali Abang mencoba untuk mengelak jika Abang bilang padanya kalau kamu itu belum menikah Adrian Pratama! Kamu sudah menikah dengan ku! Ijab qobul atas namaku! Apakah aku salah jika tidak suka melihatmu berjalan dengan wanita lain?! Kamu pikir hati aku ini batu?? Heh! Menuduh orang lain, tapi diri sendiri lebih parah! Aku kecewa. Aku kecewa padamu Bang Tama! Sangat kecewa! Mulai sekarang...'' Annisa mengusap lagi buliran bening itu di pipinya dengan kasar.
Sementara Tama masih menatapnya dengan datar. ''Jauhi aku! Tunggu sampai aku tamat sekolah! Setelah itu baru kita putuskan! Akan dibawa kemana rumah tangga nikah paksa ini! Aku tau, kamu masih ingin bebas bang Tama! Pergilah. Semua teman wanita mu sedang menunggu mu saat ini. Aku memang anak kecil, buat apa kamu menikah denganku, Jika hanya akan menghambat hubungan mu dengan para kekasihmu. Pergilah. Aku akan pulang ke pesantren sendiri! Tanpa mu pun, aku bisa hidup! Aku akan belajar untuk melupakan seseorang yang telah merebut hatiku sedari dulu. Hah! Cukup! Cukup sampai disini. Assalamualaikum.. cup.''
Annisa mendekati Tama dan mengecup tangan Tama dengan linangan air mata. Sementara Tama membeku di tempat saat menyadari jika Annisa ingin pisah darinya sementara waktu.
__ADS_1
Annisa berbalik, tapi Tama menahannya.
Grep.
Tama memeluk erat tubuh Annisa. ''Jangan pergi.. Abang mohon.. Abang akan jelaskan semuanya. Sekarang! Agar kamu tidak salah paham lagi. Duduk dulu. Ayo,'' ajaknya pada Annisa.
Annisa tetap kekeuh pada pendiriannya. Tama menghela nafas panjang. ''Sayang.. wanita itu bernama Selly. Dia teman Abang saat kami masih SMP dulu. Gadis itu baru saja pulang dari Jakarta karena ada tugas kantor menyuruh nya kesana. Pertemuan kami tanpa disengaja sayang. Abang bertemu dengannya setelah makan siang meeting dengan klien.''
Tama melihat reaksi Annisa yang masih datar terhadap nya. Kemudian ia lanjutkan lagi ucapannya.
''Kami bertemu karena tidak sengaja bertabrakan saat akan keluar dari mall Mak Alisa. Abang yang terlalu kuat menabraknya Karena terburu-buru ingin menjenguk mu setelah meeting. Tapi.. karena bertabrakan dengan Selly, Abang undur untuk bertemu dengan mu. Abang terkejut saat tau, jika itu adalah Selly. Seorang gadis yang pernah mengejar Abang dulu. Tapi tidak Abang hiraukan!''
''Karena bagi Abang, kalau memang sudah niat langsung nikahin aja. Tidak perlu untuk pacaran segala.'' Annisa menoleh pada Tama.
Cup.
Annisa tidak menolak. Ia masih lemah. Tapi karena rasa kecewa begitu bercokol dihati, Annisa mengeraskan hatinya agar tidak tersentuh dengan ucapan Tama.
Tadi ia sudah menjelaskan siapa pemuda yang di peluknya. Dan sekarang, ia ingin mendengar siapa gadis yang bersama Tama pada foto yang diberikan oleh Rayyan kemarin hingga menimbulkan kesalahpahaman pada mereka berdua.
Sama-sama salah paham.
''Kami bercerita masa-masa sekolah dulu. Hal yang dulu begitu lucu kami buka kembali. Selly sempat mengajukan permintaan lagi sama Abang, untuk Abang jadikan dia sebagai kekasih Abang. Tapi Abang bilang, Abang sudah memilki calon. Nggak mungkin dong, Abang bilang jika Abang udah nikah? Nanti ketika ia ingin ketemu sama istri Abang bagiamana? Sedang kamu aja masih sekolahkan?'' Annisa menoleh lagi pada Tama.
Tama mengangguk, ''Makanya kemarin Selly begitu senang dan memeluk Abang saat diparkiran karena ia pikir, Abang masih memilki calon. Bukan istri. Tapi, Abang sudah menegaskan padanya. Bahwa Abang mencintai calon Abang ini sepenuh hati. Kalaupun ia memaksa Abang untuk menikahinya, Abang bilang dia tetap akan kecewa. Selly terdiam. Tanpa pemberitahuan terlebih dahulu ia mencium pipi Abang, sayang. Beneran! Demi Allah, Abang tidak melakukan hal sejauh itu.''
__ADS_1
''Abang tau batasan sayang.. buat apa selama ini Mak Alisa selalu mengajari Abang tentang halal dan haram untuk Abang sentuh, jika akhirnya Abang tetap melakukan nya? Abang tau, Abang dosa Dek. Telah menyentuh wanita yang bukan mahram Abang. Tapi Abang terpaksa.. daripada nanti gadis itu ribut, lebih baik Abang mengalah. Abang tau itu dosa. Maaf.. jika karena pertemuan kami membuatmu kecewa..'' jelas Tama Annisa.
Ia memeluk erat tubuh kecil yang selalu membuatnya nyaman itu. ''Aku mau pulang..'' lirih Annisa begitu pelan.
Tubuh, hati dan pikirannya begitu lelah saat ini. Tama mengurai pelukannya. ''Pulang kerumah kita, ya?'' Annisa menoleh.
Tama tersenyum.
Cup.
Tama mengecup sekilas bibir yang membuatnya semakin candu sejak pertama kali merasakan nya.
''Rumah kita??'' ulang Annisa.
Tama mengangguk, ''Ya, rumah kita. Rumah kita berdua yang sudah Abang beli sejak lama. Bersebelahan dengan showroom mobil Abang yang ada di jalan komplek indah permai. Berdekatan dengan rumah Mak kita. Mau ya? Nanti Abang hubungi pihak pesantren. Kamu harus istirahat selama seminggu dulu dirumah, baru setelahnya kembali lagi ke pesantren. Ya?'' pinta Tama dengan sangat lembut.
Annisa mengangguk, tapi tidak tersenyum. Tak apa. Yang penting sudah mau pulang saja sudah cukup. Pikir Tama.
💕💕💕💕
Kok sepi ya? Komennya mana woyy??
Like juga? Apa yang mampir ini orang gaib??? 🤔🤔
🤣🤣🤣🤣
__ADS_1