Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Harus kuat


__ADS_3

Mama Linda begitu shock mendapati kenyataan pahit yang harus dilalui Tama dan Annisa.


''Hiks.. ya Allah.. anak-anak ku... hiks .. Pa? Tama, Pa. Tama!'' serunya pada Papa Fabian.


Pria paruh baya itu mendekati Mama Linda dan memeluknya dengan erat. ''Sabar.. ini semua ujian untuk mereka berdua. Doakan saja anak-anak kita sanggup melewati ujian ini, hem?'' katanya pada Mama Linda yang kini menangis sesegukan di dada bidangnya.


Papa Fabian tidak menyangka, jika nasib putranya sama sepertinya dulu. Ia pun di jebak oleh Mama Karin. Mama kandung Mitha dengan cara yang sama seperti Tama. Hingga terlahir lah Kedua saudara Mitha dan Mitha.


Sungguh, nasibnya terulang kembali sekarang kepada Tama. Putra sulungnya. Papa Fabian menghela nafas sesak.


''Ayo, kita temui putra kita. Saat ini, Adrian lebih membutuhkan kita. Ayo!'' ajak Papa Fabian pada Mama Linda.


Wanita paruh baya itu mengangguk walau masih terus terisak. ''Ya, hiks.. putraku... hiks.. malang sekali nasibmu, Nak..'' lirihnya dengan dada semakin sesak.


Mereka berempat masuk ke dalam ruangan Tama. Terlihat jelas jika Tama saat ini sedang menangis tetapi tidak terdengar suara isakan lirih dari mulut nya.


Sakit. Sakit sekali melihat anak kandung sendiri dalam keadaan lemah tidak berdaya seperti itu.


Mama Linda memeluk erat tubuh kaku Tama yang berbaring di bangkar pasien. Ia menangis tersedu, begitu pun dengan Mitha.


Keduanya memeluk erat tubuh Tama. Air mata dari sudut mata Tama terus bercucuran tanpa berhenti. Sakit sekali. Tapi apa yang harus mereka perbuat jika seperti itulah jalan takdir mereka berdua?


Inilah ujian rumah tangga mereka berdua. Mereka berdua harus kuat saat badai datang menghantam biduk rumah tangga mereka. Mereka berdua harus saling menyemangati. Bukan pergi ataupun lari. Bukan juga menyalahkan pasangan.

__ADS_1


Tetapi perbaikilah diri sendiri selama ujian itu terjadi. Tama dan Annisa harus terpisah jarak dan waktu. Agar kedua nya bisa bersatu kembali.


Begitu juga dengan Annisa di Bandung sana. Ia pun sama seperti Tama. Tidak sadar kan diri mulai dari dalam pesawat hingga saat ini.


Sudah satu harian ia belum juga bangun. Ada yang aneh, bibir itu terus memanggil nama Tama. Mata terpejam, tetapi air mata beruraian.


Dadanya terasa sesak dengan tangan mengepal erat. Semuanya dibuat panik karena keadaan Annisa ini.


Annisa harus dirawat terlebih dahulu. Ia tidak di izinkan pulang sebelum kondisi psikis dan batinnya sembuh. Annisa harus ditangani oleh seorang psikolog.


Sarah dan Mutia begitu terkejut mendengar nya. Tetapi mereka bisa apa? Selain harus melakukan hal itu.


Beruntung nya Annisa, uang di dalam ATM itu lebih dari cukup untuk biaya pengobatan nya selama di rumah sakit nanti. Mereka ingin menghubungi Tama, suaminya.


Apa yang harus mereka perbuat saat ini selain hanya berdoa untuk kesembuhan sepasang anak Adam yang saling membutuhkan tapi tidak bisa bersatu. Saling cinta tetapi terhalang jarak dan waktu.


Saling merindu hingga terbawa ke dalam mimpi. Sungguh, ini masa yang sulit dan sangat kelam bagi kehidupan Tama dan Annisa.


*


*


*

__ADS_1


Dua Minggu berlalu dari masa kelam itu. Kini, Annisa sudah di perbolehkan pulang. Ia membawa satu rahasia besar dari Tama. Dan juga seluruh keluarga nya.


Mak Alisa membujuknya untuk pulang. Begitupun Papi Gilang, Tetapi Annisa tidak mau. Karena masa-masa untuk tes masuk fakultas disana akan segera dimulai.


Tapi Papi Gilang tidak lepas tangan begitu saja. Ia tetap meletakkan satu orang disana untuk mengawasi keadaan Annisa.


Sudah dua Minggu juga Tama tidak sadarkan diri. Ia tidak ingin bangun. Apalagi Annisa tidak ada disana bersama nya.


Yang ia inginkan saat ia membuka matanya, ada Annisa disana. Tetapi itu tidak terjadi, karena ia masih ingat dengan isi surat Annisa yang mengatakan, jika ia boleh ke Bandung saat sudah empat tahun berlalu.


Tama akan menuruti itu karena cinta nya kepada Annisa. Ia tidak ingin bangun. Entah kapan ia akan bangun, semua orang tidak ada yang tau.


Seluruh keluarga besar sudah menjenguk nya. Bunda zizi pun ikut hadir. Syakir termenung melihat Abang iparnya seperti itu. Ia tidak tau harus dengan cara apa membuat Tama bangun, tetapi ia tetap harus mencoba.


Masih teringat olehnya ucapan Annisa kemarin yang harus ia sampaikan kepada Tama. Syakir mendekati Tama dan duduk di sisinya.


Semuanya melihat Syakir dan Tama dengan raut iba. Terutama Tama. Hampir dua Minggu lebih Tama tidak sadarkan diri. Wajah itu begitu pucat saat ini.


Sekuat tenaga Syakir menahan air matanya. Ia duduk dan menatap Tama.


''Assalamu'alaikum Abang.. adek datang. Apakah Abang tidak ingin melihat adek disini? Adek sudah datang sesuai dengan keinginan Kak Annisa!''


Deg!

__ADS_1


Deg!


__ADS_2