Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Penyelamat Annisa di masa lalu


__ADS_3

''Jadikan pengalaman hidupmu itu menjadi pedoman untuk darah daging mu kelak! Pergilah. Seseorang telah menunggumu! Aku, si gadis labil, memaafkan segala kesalahan mu! Apalah aku yang hanya seorang anak kecil. Tapi berbeda dengan mu yang sudah dewasa. Aku hanya mencoba mempertahankan apa yang menjadi milikku! Pergilah, Nona Selly! Paman Bram sudah menunggu, mu! Selamat siang Paman...''


''Selamat siang Nak.. bagaimana kabar Mami dan Papi mu? sehat??''


Annisa tersenyum, ia turun dan mendekati seorang paruh baya yang duduk di kursi roda. Annisa menyalami tangan keriput itu dengan takzim.


Selly tertegun melihat nya. Begitu juga dengan Tama. Ia sampai mematung melihat Ayah Selly.


Bramantyo Hermawan.


Seseorang yang dulu pernah Annisa selamat kan sampai ia jatuh ke tebing yang curam saat kemah dulu.


''Hehehe.. Alhamdulillah baik. Paman sendiri?? Kak Dante mana? Tidak ikut kah??'' tanya Annisa pada Pak Bram.


Pak Bram tersenyum, ''Dia ada di mobil sedang menghubungi seseorang. Kami kesini karena panggilan mu tadi. Maaf nak.. jika putri Paman membuat rumah tangga mu menjadi rusak... maaf.. Paman sudah mencarikan seseorang yang bisa menutupi aibnya ini. Paman akan mengirimkan nya ke Tapsel. Tapanuli Selatan. Disana ada saudara dekat ibunya yang sedang butuh bantuan. Jadi... hari ini juga Paman akan mengirimkan nya kesana bersama Dante. Terimakasih nak.. sekali lagi terimakasih...'' lirih pria tua yang duduk di kursi roda itu.


Annisa duduk bertumpu dengan lutut. ''Sudah menjadi kewajiban ku untuk menolong sesama kita kan Paman?? Anda adalah orang yang dulu pernah menyelematkan saya ketika saya jatuh ke jurang. Sebagai gantinya, kedua kaki Paman lah yang menanggung nya. Saya tidak akan pernah melupakan ini semua Paman.''


''Budi baik Paman akan terus terkenang sampai saya tua nanti. Maaf.. jika tadi saya menghubungi Paman.. tapi saya terpaksa Paman..'' lirih Annisa dengan wajah menunduk.

__ADS_1


Pak Bram mengangkat tangannya dan mengusap kepala Annisa dengan lembut. ''Berbahagialah nak.. Paman sangat menyukai mu sedari pertama kita bertemu. Paman ingin sekali menjodohkan mu dengan putra Paman, yaitu Dante. Tapi apa boleh buat, jodohmu tidak dengan putra Paman. Tapi dengan putra Fabian. Teman akrab Paman. Paman hanya bisa berdoa.. jika kelak masih diberikan kesempatan untuk melihat cucu, Paman akan meminta sama Allah, agar keturunanmu lah yang akan menjadi mantu cucu Paman nanti.''


Annisa tertawa. Tama dan Selly tertegun. Tama turun dan mendekati Annisa. Ia tersenyum saat melihat Pak Bram.


Pak Bram pun ikut tersenyum. ''Apa kabar Nak Adrian...'' sapa Paman Bram.


Tama mengulurkan tangannya, ''Alhamdulillah baik, Pak! Kita masuk aja dulu ya? Tidak enak dilihat tetangga. Mari, Pak?'' ajak Tama pada Pak Bram.


Tapi Pak Bram menggeleng. ''Tidak usah Adrian, Saya harus segera bawa pulang Selly. Karena hari ini juga Selly akan ke Tapsel bersama Dante. Dante ada di mobil sedang menghubungi seseorang disana. Maaf Nak.. kehadiran putri sulung saya menjadi mengganggu hubungan mu dan istrimu..'' lirih Paman Bram sambil menunduk.


Tama memegang tangan keriput Pak Bram, ''Itu hanya salah paham saja Pak. Tidak perlu di pikirkan! Kami tidak tersinggung kok dengan ucapan Selly, iyakan sayang??''


''Tak apa nak.. Paman tidak apa-apa. Paman pamit ya? Sepertinya.. Dante telah selesai berbicara! Ayo nak, kita pulang. Papa harus istirahat lagi setelah ini. Punggung Papa sakit.'' Keluhnya pada Selly.


Selly mengangguk patuh. ''Paman pulang ya? Assalamualaikum..''


''Waalaikum salam...'' sahut Tama dan Annisa bersamaan.


Setelahnya, mereka berdua berlalu meninggalkan Annisa dan Tama yang berdiri menatap kepergian penyelamat Annisa di masa lalu itu.

__ADS_1


Melihat keluarga itu sudah pergi, Tama berbalik pada Annisa. ''Sayang-,''


Triing..


Triing..


Ucapan Tama terhenti karena sering ponselnya. Annisa tak menggubris Tama. Dengan segera ia pergi meninggalkan Tama yang sedang berbicara melalui sambungan telepon.


Tama celingukan mencari Tama, ketika sudah selesai berbicara dengan sambungan ponselnya. Tama melihat Annisa masuk kedalam rumah, Tama pun mengikuti nya dari belakang seperti anak bebek.


''Sayang, Abang mau ke showroom dulu ya? Kamu tak apa kan kalau sendiri?'' tanya Tama sambil terus berjalan mengikuti Annisa.


''Hem, sedari tadi pun aku sendiri?! Aku tak butuh teman! Aku butuh waktu sendirian!''


Deg.


Hadeeeuuhh.. balik kali dah..


💕💕💕💕

__ADS_1


Ngambek lagi kan?? 😁😁


__ADS_2