Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Keluarga kaya vs Keluarga miskin


__ADS_3

''Lepas Zi! Sialan!! Selama akkhh.. kau menikah dengan pria tua bangkotan itu akkhh.. sakiiiiiittt!!! aarrgghhtt... kau jadi seperti Monster! Zizi! Monster!!''


Deg!


Deg!


Rahang Bunda Zizi mengetat begitu juga Kedua anaknya. Apalagi Annisa dan Tama, mereka berdua maju ingin melawan sepupu jauh bunda Zizi yang akan menghajar bunda Zizi.


Melihat pergerakan dari seseorang sepupu bunda Zizi yang lain ingin memukul Bunda Zizi, Annisa datang untuk menghadang nya.


''Berani?? Sini! Kamu lawan aku!!'' tukas Annisa menatap tajam pada sepupu yang lain Bunda Zizi itu.


Masing-masing satu lawan satu. Ayah Emil hanya menatap diam pada mereka semua. Sementara Bunda Zizi, masih mencekik sepupu bermulut pedas yang telah mengatainya tadi.


''Aaaarrrgghhtt.. sialan kau Zi! Kau ingin uhuk.. uhuk.. ingin membunuhku?!?! heh?! uhuukk...!!''


''Ya! Aku ingin membunuhmu! Bukankah tadi kau mengatai aku monster?! Maka hadapilah monster ini!!''

__ADS_1


''Uhuuuukkk... aaarrrggtt .. maaaaakkk.. tolongiiiinn... uhuukk.. uhuukk...'' jeritnya saat merasa kan tangan bunda Zizi semakin kuat mencekik lehernya.


''Sayang... hentikan! Kamu bisa membunuhnya!'' cegah Ayah Emil dengan suara begitu lembut saat berbicara pada bunda Zizi.


Bunda Zizi tidak peduli. Ia semakin kuat mencekik leher sepupu jauhnya itu. Annisa ingin mendekat, tapi kalah cepat dengan Mak dari sepupu bunda Zizi yang saat ini sedang di cekiknya.


''Zi! Lepaskan! Kamu bisa membunuh adikmu!'' cegahnya ingin memukul tengkuk bunda Zizi.


Annisa ingin memegang tangan nya tapi kalah cepat dengan ucapan Bunda Zizi yang tidak berbalik sedikitpun melihat orang yang ada di belakang nya.


Deg!


Deg!


Mak Sasmita terkejut. Tangan yang sudah mengatung ingin memukul tengkuk Bunda Zizi berhenti di udara.


''Jangan menyentuhku dari belakang! Jika berani sini! Lawan aku! Hadapi aku!'' ucap bunda Zizi dengan tangan masih mencekik leher sepupunya itu.

__ADS_1


Mak Sasmita berhenti, ia mundur selangkah ke belakang. ''Ingat Sania binti Jaya Prayoga Sinaga! Jangan sekali-kali mulut pedas mu ini mencibir suami tuaku! Kamu tau apa tentang nya? Heh?! Kamu itu cuman tau setiap kali datang ingin mengeruk Keluarga ku! Saya heran sama kalian semua! Kaya kok bisa ngetuk orang sih?! Apa jangan-jangan... kalau kaya kalian itu hasil merampok setiap keluarga?! Kalian kaya karena mengeruk harta keluarga kalian yang lain??? heh?! Heran aku! Mak kok bisa sih punya keluarga kayak gini?? Bapak juga! Apa lebihnya keluarga kaya tapi kaya dengan harta orang! Apa gunanya kaya, kalau mulut tidak melebihi seperti sampah yang bertebaran dimana-mana! Main jeplak asal ngomong aja! Tidak tau sakit hati orang! Jangan mentang-mentang kalian kaya bisa menindas kami orang miskin!''


''Buat apa kaya tapi tidak berpendidikan! Buat apa Kaya tapi tidak bermanfaat bagi orang lain! Kalian sekeluarga hanya bisa mengeruk harta orang! Malu saya punya keluarga seperti Kalian! Saya pikir, saya mendiamkan kalian seperti ini kalian tidak ngelunjak! Dimana kalian saat dulu kami tidak makan?! Dimana dulu kalian disaat Bapak masuk rumah sakit, hingga abang Andi pun masuk rumah sakit demi mencari uang itu untuk mengobati bapak yang saat itu sedang sakit usus buntu?! Apakah kalian membantu Kami?! Apakah kalian ada yang menjenguk kami walau hanya untuk memberi semangat saja?! Nggak ada? Kalian itu nggak ada sedikitpun untuk datang menjenguk kami!''


''Mau makan kau, mau mati kau, kalian semua bahkan tidak peduli! Dan sekarang disaat kami berhasil kalian ingin mengeruk harta kami begitu?! Kalian punya hak apa sama kami?! Heh?! Apa yang sudah kalian berikan pada kami hingga kalian berniat ingin mengambil nya Kembali dari kami semua?! Apa yang kalian sudah berikan padaku, hingga kalian ingin mengambil nya?! jawab!!!!'' sentak Bunda Zizi pada mereka semua.


Syakir dan Arta mengepalkan kedua tangannya saat bunda Zizi mengingatkan tentang masa lalu mereka dulu sebelum akhirnya Uwak Andi bertemu dengan Papi Gilang Bhaskara.


''Kalian tau apa tentang kehidupan kami?! Bahkan ketika Abang ku hampir mati pun kalian tidak ingin membantu Kami! Itu yang namanya saudara??! Itu yang namanya saudara sepupu???????'' tukas Bunda Zizi semakin kuat mencekik leher sepupu jauhnya itu. Dengan gigi menggelutuk ngilu.


''Assrrghhh ttt.. uhuuuukkk... uhuuuukkk...''


''Balasan ini tidak setimpal dengan rasa sakit hatiku pada kalian semua saat Mak ku meminta belas kasihan kalian untuk meminjam uang sebanyak dua puluh lima juta untuk pengobatan Bapak, kalian tidak memberikannya hingga Mak ku mengemis seperti pengemis dijalanan! saat meminta tolong kepada kalian! Itu yang namanya keluarga Minta Sasmita ???'' ucapnya sembari tanya itu semakin erat mencekik leher sepupunya itu.


Mak Sasmita ketakutan saat melihat putri semata wayangnya hampir mati gara-gara di cekik oleh Bunda Zizi. Sementara Annisa dan Tama tertegun dengan serentetan ucapan yang keluar dari mulut Bunda Zizi.


Ternyata ada luka di masa lalu hingga membuat bunda Zizi kalap pada mereka semua. ''Keluarga kaya! Tapi miskin! Kaya harta tapi miskin hati dan etika! Apa gunanya kaya kalau kalian tidak bisa menolong orang miskin seperti kami! Lebih baik kalian mati! Daripada membuat mataku semak saat melihat kalian semua diruangan ini!!''

__ADS_1


__ADS_2