Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Kedatangan Bunda Azizah


__ADS_3

''Ayo ih. Hoaammm... ngantuk banget adek, Bang!'' ucap Mitha pada Tama.


Tama terkekeh, ''Baiklah. Abang pulang ya?? Udah siang juga. Abang sholat dirumah saja sebelum balik ke bengkel.''


Annisa mengangguk, ''Tentu. Adek pun mau masuk. Hati-hati Abang. Mitha. Aku masuk dulu. Assalamualaikum.. makasih makanan nya. Tapi terlalu terasa garamnya!'' ucap Annisa sambil berlalu


Ia menunjuk Mitha. Mitha melototkan matanya pada Annisa. Annisa tertawa terbahak. ''Kamu mau kawin sebentar lagi itu tandanya makanya masakan kamu kebanyakan garam alias asin!!''


''Kakak!!'' pekik Mitha begitu kesal pada Annisa.


Annisa tertawa sambil berlari. Ia mendahului ustdazah Azura yang baru saja tiba disana setelah selesai melakukan sholat dhuhur. Ia kebingungan melihat Annisa tertawa sedangkan gadis yang tadi mencekiknya merengut sebal sambil kaki ia hentak-hentakkan di lantai.


Buhahahaha...


Tama tertawa sarkas saat melihat kelakuan Annisa. ''Hahaha... dasar gadis kecil! Usil! sedari dulu tidak pernah berubah! Hahaha...'' ucap Tama masih dengan tertawa.


Mitha merengut sebal. ''Abang ih!'' kesalnya lagi pada Tama.


''Hahaha.. ayo kita pulang! hahaha.. dasar bocah nakal! Tapi emang iya sih Dek. Kebanyakan garam balado telur kamu! Hahaha...'' goda Tama lagi masih dengan tertawa sarkas.


Mitha semakin kesal dengan Abang nya itu. Begitu juga dengan Kakak iparnya. Annisa. ''Awas kamu kakak ipar kecil! Besok, aku balas kamu! Tunggu saja!'' gerutunya sambil bersungut-sungut dan terus berjalan menuju mobil Tama. Sedang Tama berjalan di belakang nya masih dengan tertawa terbahak melihat wajah Mitha merengut masam.


Sepanjang perjalanan Mitha masih saja merengut. Wajahnya di tekuk kayak kain kusut yang tidak disetrika. Tama terus saja tertawa hingga mereka tiba dirumah satu jam kemudian.


Setelah memasuki rumah dan menuju kamar masing-masing, baru lah Sura gelak tawa itu berhenti. Mitha bisa bernafas lega. Ia masuk ke kamar mandi untuk mandi dan mulai melaksanakan ibadahnya yang tertunda.


Keesokan harinya.


Pagi ini Mirah sudah bersiap untuk pergi ke bengkel bersama Tama untuk membicarakan tentang perihal rencana pernikahan mereka yang sebentar lagi.


''Udah Dek??''


''Udah Bang. Ini makanan kita dan untuk kakak ipar pun sudah siap. Awas aja kalau masakan aku di bilang asin! Aku pecat semakin jadi Kakak ipar aku!'' ketusnya masih merasa kesal dengan kejadian kemarin.


Tama terkekeh kecil. ''Mana bisa begitu. Main pecat aja! Emang kamu pikir, kakak ipar kamu itu karyawan Abang apa? Ya nggak bisa lah!'' ujar Tama masih dengan kekehan kecil di bibir nya.


Mitha melengos. Tama tidak lagi tertawa. Saat ini mereka sedang menuju perjalanan ke bengkel Tama. Tama ingin ke bengkel dimana Anto berada.

__ADS_1


Karena mereka bertiga ingin membicarakan. hal serius dengan nya. Lima belas menit kemudian mereka berdua tiba disana. Anto pun sudah menunggu.


''Assalamu'alaikum Abang!'' seru Mitha kegirangan.


Tama terkekeh kecil. Anto melototkan matanya saat melihat tingkah calon istrinya itu yang begitu nakal padanya. Bagaimana tidak, ia mendekati Anto dan mengedipkan mata nakal padanya.


Tama tertawa renyah melihat wajah Anto begitu terkejut. Mereka berdua masuk setelah dipanggil oleh Mitha untuk membicarakan hal serius pada Anto. Anto mengiyakan.


*


*


*


Siang harinya Annisa di kejutkan dengan kedatangan seseorang yang mengaku sebagai bundanya. ''Nis, kamu di cariin seorang ibu-ibu tuh diluar!'' ucap Sarah pada Annisa.


Annisa mengernyitkan dahinya. ''Ibu-ibu?? Siapa?'' sahut Annisa sembari bangkit dan berjalan keluar dari kelasnya.


Saat ini pukul sebelas tepat. Jadi waktunya untuk kelas mereka istirahat. ''Katanya sih, Bu.. Azizah. Ya, Bu Azizah!''


Deg!


Sarah jadi penasaran dengan Bunda yang di sebut oleh Annisa itu. Annisa berlari saat melihat seorang wanita kepala tiga duduk termenung dengan kepala menyender di tiang pondok. Pandangan mata nya kosong. Ada bekas buliran bening disana.


Ia datang bersama seorang anak kecil berusia delapan tahun. Wajah itu begitu mirip dengan ayah Emil tapi versi cewek. Annisa semakin berjalan cepat. Tiba disana, ia berdiri mematung saat melihat Bunda Azizah mengeluarkan air mata.


''Bunda...''


Deg!


Bunda Azizah menoleh. Ia tersenyum namun sendu. ''Assalamu'alaikum sayang? Apakah kabar Nak??'' tanya nya sembari memeluk erat tubuh chubby Annisa.


''Alhamdulillah baik Bunda.. Bunda sendiri??'' tanya Annisa balik pada Bunda Azizah yang sering di panggil Zizi oleh ayah Emil.


Bunda Zizi tidak mau tapi tubuh ringkih itu berguncang hebat. Annisa terkejut. ''Loh, Bunda! Kok nangis?? Adek??'' panggilnya pada Bella. Adik kandung se ayah dengan nya.


Bella pun sama. Iya pun ikut tersedu. ''Hiks.. hiks.. ayah. Kak. Ayah..'' lirihnya sambil terisak.

__ADS_1


Ia mendekati Annisa dan memeluk erat pinggang Annisa. Annisa semakin khawatir dan perasaan nya menjadi tidak tenang ketika Bella menyebut ayah mereka.


''Ke-kenapa?? Kenapa sama Ayah kita??'' tanya Annisa semakin tidak tenang. Tubuhnya bergetar kini mengikuti Isak tangis tubuh Bunda Zizi dan adiknya.


''Bunda! Kenapa sama Ayah!'' seru Annisa dengan suara naik satu oktaf.


Bunda Zizi terkejut begitu juga dengan semua orang yang ada di pondok itu. Bukan hanya mereka saja saat ini yang sedang berkunjung, tapi ada juga orang tua murid yang lain sedang berkunjung menjenguk anak mereka.


Bunda Zizi mengurai pelukannya dan menatap Annisa dengan tatapan sendu. Bella semakin erat memeluk tubuh chubby Annisa.


''Nak...''


''Bunda... ada apa? Katakan! Jangan buat Kakak semakin memikirkan hal-hal buruk terhadap kesehatan Ayah. Jangan bilang ayah...'' Annisa menutup mulut nya


Bunda Azizah menggeleng. ''Tidak Nak. Itu belum terjadi. Ayah mu.. saat ini... se-sedang di-di rumah sakit karena sakit Paru-paru.. dan.. dan.. Bunda kesini ingin meminta tolong pada mu. Bunda butuh biaya untuk pengobatan Ayahmu. Bunda Tidka tau lagi harus meminta pada siapa. Bunda bingung nak. Semua ini terjadi saat uang simpanan Bunda sudah Bunda bayarkan sekolah adikmu dan juga Bunda ikut Arisan di keluarga Bunda. Sekali dapat arisan dua ratus juta. Tapi itu masih dua bulan lagi. Sedang ayahmu butuh biaya sekarang. Hiks.. tolong bunda Nak.. bunda Tidak berani mendatangi Mak mu dan kakak mu. Ayah mu melarang Bunda. Katanya datang saja pada putri bungsunya. Yaitu kamu. Ayah Emil menginginkan kamu datang kesana.. Hiks.. Bunda mohon nak.. bantu Bunda. Bunda akan ganti kok uang kamu. Tapi dua bulan lagi saat arisan Bunda dapat. Tolong Bunda Nak.. Bunda mohon..'' pintanya sembari duduk berlutut di kaki Annisa.


Annisa terkejut. Ia tertegun mendengar serentetan ucapan Bunda nya ini. Istri ayah Emil sekarang yang merupakan adik kandung dari asisten Papi Gilang. Andi Prajaditya.


''Sayang.. Bunda mohon.. tolong Bunda Nak.. kasihan ayahmu. Bunda janji akan melunasi nya ketika udah dapat arisan nanti. Bunda mohon nak.. hiks.. bantu Bunda..''


Grep!


Deg!


''Astaghfirullah! Bunda!''


💕💕💕💕💕


Hayoo loh.. kenapa itu sama Bunda Zizi? Ada yang tau?


Ikutin terus kelanjutan nya!


Baiklah, sambilan nunggu cerita adek Annisa update, mampir dulu yuk di cerita temen aku yang satu ini. Ceritanya seru loh..


Karya nya Kak Thatya0316


__ADS_1


Cus kepoin!


Jangan lupa ritualnya. Like, kembang, kembang, vote dan rate untuk othor! Othor maksa nih! 😒😒✌️✌️


__ADS_2