
Annisa berlari kecil mendekati Tama yang saat ini sedang menunggu nya dengan membuka kan pintu mobil mereka berdua.
Annisa berlari kecil untuk tiba pada Tama yang saat ini sedang menunggu nya. ''Terimakasih Abang! Cup!'' Annisa mengecup pipi Tama sekilas.
Pemuda tampan itu terkekeh, ''Sama-sama sayang.. kita nggak pulang kerumah ya? Kita langsung menuju ke hotel milik Papa. Dimana kita dinikahkan dulu,''
''Weleh? Kenapa begitu??''
Tama tersenyum, ''Kejutan untuk yang tersayang...'' jawab Tama sambil mengikuti gaya berbicara Sarah tadi padanya.
Annisa tergelak keras di dalam mobilnya. ''Kejutan apa sih? Abang buat apa saja sama yang lain?? Makan-makan kah?''
Tama tersenyum lagi. ''Lebih dari itu. Kamu juga harus bersiap! Sudah waktunya untuk kita berdua bersatu. Kamu sudah siapkan untuk menjadi istri Abang seutuhnya??''
Deg, deg, deg..
Jantung itu berdegup tak karuan kala lirikan mata Tama langsung menghunus jantungnya. Belum lagi senyum lembut yang selalu membuatnya rindu itu. Annisa menunduk malu. Ia memainkan kedua jarinya yang saat ini sedang berkeringat.
Tama terkekeh, ''Jangan tegang begitu. Abang nggak ngapa-ngapain kamu loh..''
Annisa semakin menundukkan wajahnya. Ia malu melihat wajah tampan yang saat ini sedang menatap nya dengan lembut karena saat ini mereka berdua sedang berada di lampu merah.
''Sayang??'' panggil Tama.
Ia membuka selbert nya dan mendekati Annisa yang saat ini sedang menunduk malu tidak ingin menatap nya. ''Lihat Abang!'' titahnya
Sambil mencapit dagu Annisa untuk menoleh padanya. Annisa menoleh dan..
Cup.
Kecupan lembut itu mendarat di putik ranum miliknya. Cukup sebentar karena Tama tau, mereka saat ini sedang di jalan. ''Sudah waktunya untuk Abang memperkenalkan dirimu di mata dunia. Bagi mereka yang belum tau, mereka masih menganggap Abang ini lajang. Belum memiliki kekasih dan belum memiliki istri. Tapi itu bukan yang sebenarnya. Abang ingin menunjukkan dirimu pada seluruh dunia, kalau kamu adalah istri seorang Adrian Pratama. Seorang pemilik usaha showroom dan bengkel yang saat ini sudah terkenal karena Tian. Pemuda yang dulu pernah menghabiskan seluruh makanan kamu oleh temannya!''
Annisa terkekeh, ''Ya, adek masih ingat kok. Ya sudah. Ayo kita menuju hotel milik Papa. Apa.. Mak dan Papi...''
''Ya, seluruh keluarga kita sudah menunggu kamu disana saat ini. Tidak ada yang tertinggal. Kita akan merayakan ujian akhir kamu disana bersama-sama.'' Imbuh Tama membuat Annisa tersenyum lembut padanya.
__ADS_1
Tama pun ikut tersenyum, ia mengelus pipi Annisa yang kini terlihat sedikit tirus setelah pertemuan mereka enam bulan yang lalu.
Mereka berdua menuju ke hotel milik Papa Fabian. Dimana kejutan untuk Annisa sudah menunggunya disana.
Cukup satu jam tiga puluh menit menuju ke hotel Pratama. Disana sudah ramai orang yang berlaku lalang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Deg!
Deg!
Mata Annisa membuka saat melihat sesuatu di atas gedung hotel PRATAMA.
''I-itu.. Happy Wedding Adrian Pratama & Annisa Pratama??! hah?!'' Pekik Annisa begitu terkejut kala melihat sesuatu yang berada diatas pintu masuk hotel Pratama.
Tama tersenyum, ''Ayo kita masuk. Seluruh saudara kita yang dari Aceh pun sudah hadir. Kamu harus segera bersiap!''
''Hah?? Ini maksudnya apa? Resepsi pernikahan kita gitu??''
Tama tersenyum, Cup.
Ada yang membawa buket mawar merah, mawar putih, dan juga mawar merah jambu kesukaan Annisa.
Annisa masih melamunkan semua itu. Ini sungguh mengejutkan dirinya yang baru saja pulang dari pesantren, tiba-tiba saja di kejutkan dengan berita tentang resepsi pernikahan mereka.
Padahal seingat Annisa, mereka kan sudah menikah? Untuk apa lagi ada resepsi?? Pikirnya.
Ceklek.
Pintu mobil sebelah Annisa terbuka dimana Tama kini sedang menatap wajah ayu yang sedikit tirus itu.
Cup.
''Eh?'' Annisa terkejut karena Tama mengecup lagi putik merah jambu miliknya. Tama terkekeh.
Annisa masih saja menatap ke depan. ''Ayo, kamu harus istirahat dulu. Dua hari lagi baru acaranya di adakan. Untuk saat ini banyak acara adat yang harus kamu lakukan sebelum kita melakukan ijab qobul ulang di sana nanti.''
__ADS_1
Annisa menoleh, Tama tersenyum dan mengangguk. ''Ayo, kita sudah di tunggu di dalam.'' Ucapnya lagi pada Annisa.
Annisa mengangguk patuh. ''Baiklah..'' sahutnya pasrah.
Mereka berdua masuk sambil bergandengan. Semua yang melihat mereka menunduk menghormati keduanya. Annisa semakin terkejut.
''Kenapa menunduk seperti itu bang?'' tanya Annisa tidak mengerti.
Tama tersenyum, ia merangkul bahu Annisa. ''Itu karena mereka tau, jika pemilik sah dari hotel ini sudah datang beserta istrinya.''
''Oh...'' Annisa hanya oh ria saja. Mereka berdua terus berjalan menuju ke dalam hotel.
Baru saja berada di pertengahan ballroom, Annisa sudah di suguhkan dengan pelaminan yang begitu cantik. Pelaminan adat Aceh dan adat Jawa masa kini. Pelaminan itu seperti berkolaborasi.
''Sayangku...'' panggil nenek Irma dari kejauhan.
Ia merentangkan tangannya untuk menyambut kedatangan Annisa. Annisa berdiri terpaku melihat seluruh keluarga nya yang dari Aceh sudah hadir.
Berikut dengan sepupunya. Dan juga saudara yang lain. Termasuk Bang Lana. Pemuda tampan berseragam loreng itu pun baru saja tiba dari bandara di jemput oleh Papi Gilang tadi.
Ia sengaja pulang saat Mak Alisa mengabarkan tentang pernikahan Annisa yang akan segera di gelar bersama Tama.
Grep!
Annisa terpaku. Tubuhnya mematung di tempat Kala melihat seluruh ruangan yang di datanginya sudah sangat penuh dengan keluarga besar nya dan keluarga besar Tama yang baru saja tiba dari bandara.
Semua keluarga itu menatap Annisa dengan takjub. Mereka tersenyum pada Annisa. Mak Alisa terkekeh kala melihat putri bungsunya bersama ayah Emil itu begitu terkejut dengan kejutan Tama untuknya.
''Selamat datang menantu ku. Kami menerima mu dengan lapang dada. Pintu hotel ini terbuka luas untukmu!'' ucap salah satu saudara Papa Fabian yang mirip sekali dengan Papa Fabian.
''I-ini...''
''Beliau Pakde Abang. Abang nya Papa yang tinggal di Kalimantan.''
''Hah??''
__ADS_1