
Setelah kepergian Ustadzah Azura, kini tinggal lah Tama, Annisa, dan Mama Linda. Ketiganya menatap kepergian Azura dengan pemikiran entah seperti apa.
''Nak??''
''Eh? Iya Ma?'' sahut Annisa.
Ia menatap Mama Linda dengan tersenyum lembut. Tama pun demikian. Ia menatap Mama Linda yang begitu serius saat ini. Sorot matanya penuh dengan kekhawatiran.
''Ma...''
''Tama, Annisa. Cinta dan obsesi itu berbeda. Jika kita mencintai seseorang, maka kita rela melakukan apapun untuk nya. Termasuk menyerahkan nyawa kita. Tetapi berbeda dengan obsesi. Obsesi itu merupakan keinginan yang harus ia kabulkan ketika ia menginginkan sesuatu. Jika ia tidak mendapatkan nya, maka ia akan berusaha untuk merebutnya.''
''Mama melihat itu dari mata Azura. Dia bukan mencintai mu. Namun terobsesi kepadamu. Mama hanya berniat untuk menolong kalian dari dirinya. Mama tidak akan tau apa yang akan terjadi nanti. Pesan Mama, sekuat apapun ia akan menghancurkan kalian berdua, kalian berdua harus kuat dan selalu bersama. Lawan dirinya dengan cinta kalian. Dia pasti akan kalah.''
''Jiks memang ia mencintai kamu, Azura pasti rela melepas mu agar kamu bahagia dengan pilihan hatimu. Titik terindah dalam mencintai ialah mengikhlaskan. Walau terasa sakit. Tapi itu lebih baik, daripada harus mempertahankan sementara yang kita cintai tidak menginginkan kita sama sekali. Ikhlas menerima keadaan yang menimpa kita, akan mendidik kita menjadi lebih baik lagi dalam mencintai seseorang.''
''Ingat Nak, segala tindak tanduk kita. Pasti akan menuai hasilnya. Jika kita berbuat baik kepada orang yang kita cintai walaupun ia tidak menginginkan nya, pasti suatu saat akan datang cinta baru yang akan menemui kita. Begitu pun sebaliknya. Jika kita berbuat jahat, maka hasil perbuatan kita itu akan kembali kepada kita.''
''Di dalam Islam itu tidak ada yang namanya karma. Tapi balasan baik dan buruk itu ada dan nyata. Percayalah, jika dia memang jodoh kita. Sejauh apapun kita melangkah maka ia akan menemukan kita.''
''Kalian paham??'' tanya Mama Linda kepada pasangan beda usia itu.
Sedangkan mereka berdua menatap Mama Linda dengan serius. Hingga mata keduanya tidak berkedip. Mama Linda terkekeh melihat nya.
''Udah ih! Serius banget sih liatin Mama! Ayo, kita sholat dulu. Udah adzan itu. Kita gantian. Mama dulu sama Annisa. Baru kamu! Ingat! Jangan macam-macam!'' ucap Mama Linda kepada Tama dengan mata menyipit tajam.
Tama terkekeh. ''Iya, Mamaku yang cantik! Seorang Adrian Pratama tidak akan tergoda dengan siapapun! Yang Abang ingin itu adek Annisa! Ya tetap itu! Nggak akan berubah!'' ucapnya
Membuat Annisa memutar bola mata malas. ''Ck! Gombal! Ayo Ma! Usah di dengarkan buaya yang sedang menggoda! Yang ada nanti kita berdua di makan olehnya!'' kelakar Annisa.
__ADS_1
Tama dan Mama Linda tertawa. Kemudian Mama Linda dan Annisa masuk kedalam pesantren untuk melaksanakan sholat berjamaah dengan para santri. Ustadzah Hanim tidak amarah, malah beliau sangat senang.
Tapi tidak dengan ustdzah Azura. Wajah itu datar. Maksud hati ingin mengancam Annisa, tapi malah tidak bisa karena ada Mama Linda. Ia menatap datar pada Annisa. Gadis kecil kesayangan Tama dan Mama Linda.
Entah apa yang dilihat oleh mereka berdua dari gadis seperti nya? Aku heran. Ada aku yang sebaya kenapa mereka lebih memilih yang masih kecil. Bahkan memasak pun belum bisa. Belum pernah selama ini aku melihat nya memasak di pesantren.
Dan lagi, kenapa pula ustadzah Hanim begitu baik kepada bocah nakal itu! Aku sanhat tidak menyukai nya! Aku membencinya! Sangat membencinya! Aku akan berusaha memisahkan mereka berdua! Jangan panggil namaku Azura jika aku tidak berhasil memisahkan kalian berdua! Azura
Ia tersenyum miring melihat Annisa begitu akrab dengan Mama Linda. Rasa benci sedari dulu kepada Annisa, kini semakin bertambah. Rasanya sulit untuk mengenal Azura sekarang ini.
Tama saja sampai heran melihat sikap Azura. Azura yang dulu berbeda dengan Azura yang sekarang.
Azura yang dulu begitu lembut. Sedang yang sekarang begitu genit dan pemaksa. Tama semakin ilfeel melihat nya.
Annisa menghela nafasnya saat melihat ustdzah Azura masih menatapnya dengan tatapan permusuhan.
''Aku tidak pernah ingin mencari masalah denganmu Ustadzah. Tapi ini mengenai suamiku yang tidak kamu ketahui. Seandainya kamu tau, entah apa yang akan kamu perbuat padaku?
Lindungi rumah tangga ku ya Robb..'' lirih Annisa dalam hati.
Ingin sekali ia membawa pergi Tama dari hadapan Azura. Tapi tidak tidak mungkin, karena Tama yang memiliki usaha disini. Sedangkan Annisa masih sekolah.
Apa yang harus ia perbuat selain hanya bisa sabar dan pasrah akan jalannya takdir pernikahan mereka.
Kita boleh merencanakan sesuatu, tapi Allah yang memutuskan sesuatu di dalam hidup ini. Semua ini atas kehendak Nya. Jika ingin rencana kita berhasil, maka libatkan Allah di dalam rencana kita.
Insya Allah pasti berhasil. Di coba saja. Othor sendiri buktinya. Serahkan hidup dan mati kita pada Nya. Biarkan Allah yang menuntun jalan kita. Kita pasti akan berhasil di kemudian hari. Begitu pesan Mak Alisa dan Papi Gilang kemarin sebelum mereka pulang dari menjenguk Annisa.
Sementara Tama, ia saat ini sedang duduk berhadapan dengan Azura. Ya, Azura. Selepas sholat, ia berpapasan dengan Tama. Tama tidak ingin meladeni nya. Tapi Azura tetap Keukeh. Tama terpaksa duduk berdua dengan nya di pondok lain. Tapi masih dekat dengan pondok mereka duduk tadi.
__ADS_1
''Kenapa??'' tanya Azura.
Tama menoleh padanya sebentar, setelah itu ia menatap datar ke depan. Azura mengepal kedua tangannya.
''Aku tidak punya jawaban dari pertanyaan mu itu!'' ketus Tama begitu dingin hingga menusuk relung hati ustadzah Azura.
''Kenapa kau sangat ingin bersama nya? Sementara ada aku yang lebih pantas bersanding dengan mu! Bukan Annisa!''
Tama menoleh pada Azura dengan wajah dingin nya. ''Karena aku! Aku mencintai nya karena Allah. Karena Allah lah yang menyatukan kami berdua! Jauh sebelum aku bertemu dengan mu! Jika kau berpikir aku juga menyukai mu dulu? Kau salah Azura! Aku tidak pernah menyukai mu sedikitpun!''
Deg!
Azura terkejut, ''Apa maksud mu?! Bukankah selama kita sekolah dulu, kamu juga menyukaiku bukan?! Kamu mencintai ku Adrian! Bukan Annisa!'' serunya dengan suara naik satu oktaf.
Tama terkekeh namun sangat menakutkan. Ia menatap dingin lagi pada Azura yang saat ini juga sedang menatapnya.
''Aku tidak pernah menyukai mu Azura! Dan juga aku tidak pernah mencintai mu! Yang aku cintai sedari dulu adalah Annisa!! Bukan kamu AZURA!''
Deg!
Deg!
💕💕💕💕
Nah loh .. ketahuan kan sekarang?
Okey, mampir dulu yuk di cerita temen othor yang satu ini.
__ADS_1
Cus kepoin!
Like dan komen selalu othor tunggu! 😘😘