
Kedua orang itu saling terkikik geli ketika tanah salah satu dari mereka memegang erat satu sama lain. Senyum itu tidak pernah surut dari bibir mereka berdua.
Mama Linda dan Mak Alisa menggelengkan kepala melihat tingkah pasangan pengantin usang itu. ''Sudahlah Bang! Kamu ini! Jangan di ganggu terus! Ayo, kita keluar! Sebentar Annisa selesai dan kita harus menunggu di depan. Ranup lampuan pun sudah menunggu. Ayo!'' ajak Mama Linda pada Tama.
Tama mengangguk, ia mengambil topi yang khusus di pakaikan untuk dirinya saat diluar nanti. Sebelum keluar Tama sempat mengedipkan mata nakal pada Annisa. Annisa tertawa. Saat ini ia sedang dipakaikan bunga goyang yang lumayan besar dan juga beberapa bunga lainnya untuk pelengkap.
Setelah semua siap, Annisa di bimbing untuk berjalan keluar memakai heels putih yang lumayan tinggi yang akan membuatnya setara berdiri disampingnya Tama karena tinggi tubuhnya tidak seimbang dengan Tama.
Tama memilik tinggi 176 sedangkan Annisa 156 saja. Dengan menggunakan heels akan menambah sedikit tingginya dengan Tama.
Annisa di tuntun untuk menuju pelaminan adat Aceh yang sangat cantik bertabur bunga mawar merah di sisi pelaminan nya.
Ia di didudukkan disana sementara Tama datang untuk menemui nya. Tapi sebelum itu ia harus melewati para penari Ranup lampuan yang khusus dibawa kan oleh nenek Irma langsung dari Aceh. Sanggar tari miliknya yang terinspirasi dari pernikahan Mak Alisa dulunya.
Sampai kini, sanggar tari itu masih berjalan. Alunan suara musik Ranup lamouan menadkaan jika acara menyambut menantu baru akan segera di mulai.
Tama sedikit gugup. Ia berdiri dengan menutup kan kedua tangannya ke wajah sambil berdoa di dalam hati.
Jangan dilihat orangnya ye? Baju adat nya! 😄
Mama Linda memberiakn permintaan Tama tadi padanya sebelum keluar. Menurut Annisa, sanggar tari neneknya itu harus di beri hadiah. Maka dari itu Tama meminta Mana Dewi untuk memasukkan uang cash berjumlah sepuluh juta ke dalam amplop berwarna kuning untuk diberikan kepada sang penari itu saat ia di suguhkan mangkuk sirih nanti padanya untuk ia ambil.
Tama mengantongi itu. Ia tersenyum pada semua orang. Sedang Annisa pun sedang duduk tenang di pelaminan sana. Wajah itu terus saja menunduk.
__ADS_1
Sedangkan dari kejauhan Tama terus saja menatap sang mempelai nya yang begitu cantik kala dihias dengan baju adat yang sama sepertinya.
Gambar : UP ( Uchi Photographer )
Model pakaian adat Aceh Annisa kayak gini ya. Fokus pada bajunya jangan pada orang nya! 😄
Selesai dengan penari itu, kini Tama sedang dituntun menuju pelaminan yang di tuntun langsung oleh Nenek Alina selaku nenek Annisa.
''Sini Nak.'' katanya pada Tama.
Tama mengangguk. Mereka berdua di hadapkan satu sama lain, kemudian disatukan kedua yang itu dan diberkati.
Setelahnya keduanya di dudukkan di pelaminan adat yang sudah tersedia. Kini para tamu yang bertugas mengantar Tama pun sudah duduk di kursi di ruangan ballroom yang begitu megah itu.
Dimulai dari nenek Alina yang memberikan Annisa sebuah gelang emas dilingkari di tangannya. ''Semoga kehidupan pernikahan mu selalu bahagia. Dia kakek dan nenek selalu menyertai mu cucuku.. Cup!''
''Terimakasih Nenek..''
''Sama-sama sayang..''
Dilanjut dengan nenek Irma. Beliau pun memberikan cincin yang langsung dipasangkan di jari tengah Annisa yang sebelah kiri.
Dilanjut lagi dengan keluarga Annisa yang lainnya. Semuanya memberikan hadiah yang sama.
__ADS_1
''Semoga kalian berdua sakinah mawadah warohmah..''
''Amin..'' sahut kedua mempelai yang sedang berbahagia itu.
''Ingat Nak. Setiap ruang tangah itu di uji dengan berbagai macam ujian. Rumah tangga itu ladang pahala untuk kita selama kita hidup di dunia. Kadang kala kita merasa senang dan jenuh terhadap pasangan. Pesan nenek, jika suatu saat kamu mendapati Tama melakukan suatu hal yang membuatku terluka, tanya dan cari tau dulu kebenaran nya. Jangan lari! Karena dengan kamu lari, tidak akan menyelesaikan masalah tetapi menambah masalah baru untukmu. Di ingat ya? Semoga kalian berbahagia cucuku..'' ucap nenek Tama begitu tulus pada keduanya.q
''Terimakasih Nenek.. insyaallah kami bisa menghadapi nya. Iya kan sayang??'' tanya Tama pada Annisa.
Annisa mengangguk mengiyakan. ''Betul! Nenek pun begitu. Sehat-sehat ya Nek? Sampai nenek bisa melihat cicit nenek nantinya!'' goda Annisa pada sang nenek.
Nenek Tama tertawa mendengar ucapan cucu menantunya itu. Setelahnya ia memberikan sesuatu kepada Annisa membuat Annisa dan Tama tertegun.
''Ini berkat dan doa dari nenek untuk kalian berdua. Nenek tidak memiliki apapun. Cuma ini yang nenek punya. Kamu ingat kan Tama dengan perhiasan mutiara ini??''
Tama tidak menyahut, ia masih tertegun dengan perhiasan yang pernah ia lihat ada pada Mama Karin dulunya. Kenapa sekarang ada pada sana nenek. Tama menoleh pada nenek dengan tatapan bingung.
Nenek tersenyum, ''Ya, perhiasan i i turun temurun dari keluarga kita. Kemarin, nenek memintanya kepada mantan istri Kedua papa kamu. Ia tidak ingin memberikan perhiasan ini karena katanya perhiasan ini miliknya. Padahal bukan. Nenek kandung Tama dulu pernah berpesan ketika beliau akan berpulang, bahwa perhiasan yang ia berikan kepada Mama Karin Safira Kinanti harus di berikan kepada istri Tama nantinya. Itu tanda berkat dan restu untuk kalian berdua darinya yang sudah tiada. Itulah wasiat terakhir nya sebelum beliau meninggal dunia.''
''Jaga perhiasan ini nak. Simpan dengan baik. Pakailah jaosn pun kamu inginkan dan turunkan kepada ahli warisnya berikutnya. Inilah wasiat terakhir nya. Semoga kalian berdua menjalaninya dengan baik.''
Kedua semakin tertegun dengan ucapan Sanga nenek. Dimana nenek kandung Tama yang merupakan Mama kandung Papa Fabian itu menutup satu set perhiasan bermata mutiara asli kepada Annisa.
Jika ditakasir harganya bisa berkisar 5 Milyar. Bagaimana Tama dan Annisa tidak tertegun dengan hal itu. Tama dan Annisa menerima perhiasan itu dengan tersenyum walau masih dilanda kebingungan.
''Baiklah Nek. Kami terima ya? Insyaallah kami akan menjaga amanah Nenek ini kepada kami,'' jawab Tama dengan segera memeluk sang nenek sebaya nenek Alina itu.
__ADS_1
''Terimakasih nak. Semoga Allah selalu metshmsti kehidupan rumah tangga kalian berdua dan dijauhkan dari musibah dan marabahaya yang sengaja mengincar kalian berdua...''
''Amiiin....'' sahut Annisa dan Tama mengaminkan doa nenek Tama itu.