Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Permintaan Mitha


__ADS_3

''Ayo, kita harus sholat dulu. Nanti kita lanjut lagi masalah ini. Nggak baik menunda-nunda dalam hal kebaikan! Maka Allah pun akan menunda apa yang seharusnya menjadi hak kita!'' ujar Tama pada ke semua yang ada disana.


Annisa, Mitha dan Syakir mengangguk patuh. Mereka bertiga menuju ke mushola rumah sakit tapi tidak dengan Mitha.


Bunda Zizi menoleh padanya. ''Kamu tidak sholat nak?'' tanya Bunda Zizi sembari mendudukkan diri di bangkar ayah Emil yang kini sedang berusaha memejamkan matanya karena terlalu lama menangis.


Mitha tersenyum, ''Nggak Bunda. Aku tidak bisa sholat. Maklum, lagi kebanjiran!'' celutuknya membuat anak kecil di sebelah nya itu menatap nya dengan heran.


''Apanya yang kebanjiran kak?? Dimana nya?'' tanya si polos Bella. Bunda Zizi terkekeh.


Mitha nyengir kuda menatap Bunda Zizi. ''Hehehe... adek nggak tau. Nanti, kalau udah besar adek pasti tau, oke? Jangan banyak tanya dan cukup diam dan mendengarkan!'' tegas Mitha dengan suara lembut namun, tegas


Bella nyengir dan mengangguk patuh. Mulut itu terus mengunyah jajan yang tadi ia beli dari market sebelah rumah sakit. Bunda Zizi tersenyum melihat Bella Putri kecilnya.

__ADS_1


''Bunda...'' panggil Mitha dengan wajah serius nya.


Bunda Zizi menoleh, ''Ya Nak? Ada yang kamu butuhkan??'' tanya nya pada Mitha


Mitha menggeleng, ''Mitha punya permintaan sama Bunda, bisa??''


Bunda Zizi menatap serius pada Mitha. ''Apa permintaan mu? Jika sanggup, akan Bunda penuhi.''


Mitha menatap serius pada Bunda Zizi begitu pun sebaliknya. ''Jangan terlalu keras kepada Syakir, Bunda.. Syakir masih lah kecil untuk menerima semua tanggung jawab untuk bisa memenuhi kehidupan kalian. Maaf, bukan Mitha ikut campur atau sengaja ingin menggurui. Tapi.. Mitha bisa melihat jika Syakir tertekan karena permintaan Bunda,'' ucapnya sambil menatap wanita paruh baya yang sedang menatap nya dengan sendu.


Mitha menghela nafasnya. ''Tapi apa yang Bunda katakan tadi padanya begitu melukai perasaannya, Bunda. Syakir anak yang baik. Dia tidak akan menyahuti ucapan Bunda jika hatinya selama ini tidak terluka. Bunda dengar sendiri bukan ?''


Bunda Zizi menunduk. Ia memegang tangan ayah Emil yang tertidur dengan erat. Untuk mencari kekuatan walau hanya dengan memegang tangan kasar Sang suami yang selama ini telah memberikan nya makan hingga banting tulang sampai ia mengalami sakit paru-paru lantaran selalu pulang malam dari bekerja sebagai kuli.

__ADS_1


Walaupun upah yang ia dapat lumayan dan cukup bahkan lebih untuk memenuhi kebutuhan ketiga anaknya, tetap saja pria paruh baya ayah kandung Annisa itu sudah tua.


Sudah tidak kuat lagi untuk bekerja keras seperti ia muda dulu. Beruntung nya rumah mereka tidak mengontrak. Karena mereka punya rumah peninggalan Almarhumah Atok Ibra dan Nenek Rima yang sudah berpulang ke pangkuan Allah saat umur Syakir berusia lima tahun.


Jika sampai mengontrak seperti Mak Alisa dulu, entah apa yang akan terjadi kepada keluarga Bunda Zizi itu.


Tama, Annisa dan Syakir berdiri diam di depan pintu mendengar permintaan Mitha padanya. Syakir mendekati Annisa dan memeluk Kakak tirinya itu. Lagi, hati lembut itu terisak kembali.


''Bunda harus apa Nak? Syakir sekarang tidak ingin tinggal bersama kami lagi, lantas siapa yang akan membiayai kami makan jika bukan Syakir? Arta? Bahkan untuk mencari uang jajan sendiri saja ia belum mampu. Bagaimana caranya nya Arta membantu kami dengan cara bekerja? Bunda bisa apa Nak?? Bunda bisa apa??'' lirih bunda Zizi semakin pilu saat mengenang kehidupan mereka saat ini.


Syakir semakin erat memeluk tubuh Annisa. Annisa mengelus pelan surai hitam yang ke coklatan akibat terpapar sinar matahari siang hari.


''Dengarkan Mitha Bunda. Untuk sementara biarkan Syakir tinggal bersama Abang dulu. Disana ia bisa membantu Abang di bengkel. Nanti Mitha yang ngomong sama Abang. Untuk makan sehari-hari bunda, jangan khawatir. Mitha akan memberikan uang untuk bunda setiap bulannya. Ini ada sedikit uang untuk biaya makan bunda selama sebulan. Rencananya uang ini untuk membayar buku nikah Mitha enam bulan lagi. Tapi karena Bunda lebih membutuhkan. Tak apa Mitha ikhlas. Lagi pun, Mitha senang bisa membantu Bunda. Bunda sudah Mitha anggap Mama Mitha sendiri. Selama ini Mitha hanya punya Abang saja. Sedang Mama? Sibuk dengan halnya sendiri!''

__ADS_1


Terkejut bunda Zizi mendengar nya. Tama dan Annisa hanya bisa menghela nafasnya. Mitha dan Syakir ini sama. Sama-sama tertekan karena Mama mereka berdua.


__ADS_2