
Setelah mengatakan hal itu kepada Tama, dengan segera Annisa berlari masuk kedalam pesantren lagi.
Meninggalkan Tama yang berdiri mematung karena kepergian nya. Ucapan Annisa tadi sangat membuat nya merasa bersalah.
Namun, ada yang ia tau saat Annisa bicara seperti itu. ''Kamu cemburu, sayang?'' gumamnya sambil terkekeh.
Ia berbalik dan mendekati ustadzah Azura lagi. ''Abang pulang ya Zura? Annisa udah masuk. Jadi tugas Abang sudah selesai disini. Abang pulang ya? Assalamualaikum..'' ucapnya, kemuadin berlalu meninggalkan Azura yang mematung tanpa menjawab salam darinya.
Sadar jika Tama sudah pergi, Azura mengejarnya. ''Tunggu Bang! Tunggu sebentar! Ada hal yang ingin aku sampaikan!'' ucapnya dengan mencekal lengan Tama.
Tama berhenti, ia mberbalik dan melihat tanahnya Azura masih mencekal lengannya. ''Ada apa?'' tanya nya dengan segera tangannya itu melepaskan tangan Azura yang tidak mau melepas kan tangannya.
''Ada hubungan apa Abang dengan Annisa. Aku melihat Abang sangat berbeda setiap kali bertemu dengannya? Apakah kalian berdua... pasangan??''
Deg!
Deg!
Tama terkejut dengan ucapan Azura. Namun wajah itu datar. Sengaja, agar tidak memancing rasa keingintahuan dari Azura.
''Kenapa? Kamu tidak suka jika aku berdekatan dengan nya?'' tanya Tama masih dengan wajah datar.
Wajah Azura juga tak kalah datarnya dari Tama. Dua orang yang pernah saling kenal, di pertemukan kembali pada saat mereka sudah dewasa.
''Ya, aku tidak suka melihat kedekatan kalian berdua! Aku melihat Jika Abang sangat menyayanginya. Bukan seperti seorang adik, melainkan sebagai pasangan! Katakan padaku, apakah kalian berdua itu pasangan? Aku sudah melihat cincin dijari manis Annisa. Dan dia mengatakan cincin itu dari mu. Apakah itu benar?''
Tama menarik sedikit ujung bibirnya. ''Kenapa kamu tidak suka? Apa hubungannya dengan mu? Annisa itu adikku! Kalaupun kami pasangan, toh itu wajar-wajar saja bukan? Annisa itu adik angkat ku. Kalaupun kami menikah, sah secara hukum dan agama!''
Deg!
__ADS_1
Azura mengepalkan tangannya. ''Kenapa Abang memilihnya. Kenapa bukan aku?! Aku yang lebih dulu mengenalnya dibandingkan dengan Annisa! Apa kurangknya aku di mata Abang?! Sedari dulu selalu saja menolak ku! Kamu selalu lebih mengutamakan Annisa setiap kali kita bertemu. Apa lebihnya Annisa dibanding kan dengan diriku?!'' seru Maura dengan suara rendahnya.
Ia tidak mau meninggi kan suaranya. Karena mereka berdua masih dalam lingkungan pesantren.
Tama terkekeh kecil. ''Ada apa dengan mu Azura?? Kamu itu berbeda dengan Azura yang pernah aku kenal dulu. Kamu sekarang lebih blak-blakan dalam menyampaikan isi hatimu. Berbeda dengan yang dulu. Kamu selalu diam ketika aku tanya.''
''Aku mengenalmu saat kita satu sekolah. Sedangkan Annisa, aku sudah mengenalnya sebelum ia lahirkan ke dunia ini! Kamu tidak tau apapun tentang Annisa, Azura! Aku yang lebih tau tentangnya. Bahkan ketika ia dilahirkan pun aku yang mengadzani nya! Apa salah jika aku menyayanginya seperti pasangan? Bukan seperti adikku??''
Deg!
Deg!
Seperti diremas jantung Azura mendengar ucapan Tama. Benar tebakannya, Jika Tama memiliki perasaan terhadap adik angkatnya itu.
Azura terkekeh kecil. ''Nggak salah Bang? Kamu menyukai Annisa? Annisa itu masih kecil loh.. sedang kamu sudah dewasa? Apa pantas seorang lelaki dewasa menikah dengan anak kecil seperti nya? Jika iya, berarti kamu pedofil! Suka yang anak-anak dari pada yang dewasa! Ada yang dewasa kok milih yang anak-anak sih? Aku yakin, kamu pasti belok bang Tama!''
Deg!
''Haha.. Azura yang pernah kamu kenal dulu telah tiada bang Tama. Yang ada dihadapan mu saat ini adalah Azura dengan tubuh baru dan semangat baru. Azura yang dulu telah mati saat kamu menolak ku demi mencari Annisa yang saat itu sedang tersesat di perkemahan nya! Kamu lebih mementingkan nya dibandingkan hubungan kita! Aku belum melupakan semua kenangan pahit itu Bang Tama! Aku masih mengingat nya bahkan sampai saat ini!'' sarkas Azura. Ia menatap nyalang pada pada Tama.
Kedua tangannya terkepal erat. Tama tidak ingin menjawab pertanyaan Azura. Karena ia tau, Azura bisa nekad untuk mengganggu Annisa nanti saat di pesantren.
Aku mengenalmu dengan baik Azura! Jika aku mengatakan kalau aku menolak mu, maka Annisa yang akan menanggung nya. Lebih baik aku diam demi Annisa tidak kau ganggu!
Tama menatap datar padanya. Ingin sekali ia menyahuti ucapan Azura, tapi itu bisa berakibat buruk pada Annisa nantinya.
Lebih baik mengalah sekarang, tapi mencari solusi.
Ia lebih baik mengalah daripada Annisa yang harus menanggung sebab dari perbuatannya dulu.
__ADS_1
Tama menghela nafasnya. ''Maaf Azura. Abang tidak ingin menyakiti mu terlalu dalam. Abang mohon.. lupakan kejadian itu. Abang tidak bermaksud untuk meninggalkan mu sendiri disana, tapi kala itu Annisa memang sangat membutuhkan bantuan ku. Dia hampir tiada karena tidak ada yang tau dimana keberadaan nya saat itu. Maaf kan Abang Azura..'' ucap Tama dengan suara rendahnya.
Azura yang tadinya begitu marah pada Tama, kini mulai melembut lagi. Ia menghela nafasnya.
''Aku tidak marah sama Abang. Hanya saja.. aku merasa Jika Annisa selalu menjadi prioritas Abang yang utama. Contoh nya saat ini. Belum lagi aku selesai bicara, Abang sudah pergi Karena Annisa meninggalkan Abang begitu saja. Aku merasa... jika Annisa adik angkat mu itu menyukaimu, bang Tama? Apakah benar? Atau ini cuma pengamatan ku saja?'' selidik Azura.
Ia sangat tau wajah seseorang yang menyukai lawan jenis seperti apa. Ia bisa melihat jika Annisa menyukai Tama.
Seutas senyum tipis tertarik di sudut bibir Tama. Sangat tipis.
Bukan hanya menyukai ku. Bahkan istriku itu sudah sangat mencintai ku. Terlihat saat tadi aku mengabaikan nya dan berbicara padamu. Ia cemburu melihat kedekatan kita berdua!
Azura menatap Tama yang tidak tersenyum sedikitpun. Wajah itu tetap sama. Datar. Berbeda sekali saat ingin bertemu dengan Annisa.
Wajah tampan dengan mata sipit itu terus saja tersenyum dan tertawa ketika berbicara dengannya.
''Sudahlah Azura. Abang harus pulang dulu. Bengkel sedang ramai jika pagi-pagi seperti ini. Masuklah Ra.. Abang mau pulang. Kapan-kapan Abang kesini lagi kita ngobrol-ngobrol ya? Abang pulang dulu. Assalamualaikum..'' ucap Tama pada Azura dengan tersenyum manis, membuat jantung Azura bedegub dua kali lebih kencang dari biasanya.
Wajah Azura merona. Tapi Tama tidak melihatnya lagi. Karena pemuda tampan dengan tubuh tegap itu sudah keluar dengan mobilnya.
Sadar jika Azura belum menjawab salam Tama, ia terkekeh. ''Waalaikum salam Bang.. Aku akan tetap menunggu mu. Aku akan berusaha merebut hatimu Kembali. Tak peduli jika adik angkat mu itu juga menyukai mu. Aku cinta banget sama kamu bang Adrian Pratama... sangat mencintaimu..'' ucap Azura dengan terus memandangi mobil Tama yang berlalu pergi meninggalkan pesantren itu.
Sementara Tama, mengepalkan kedua tangannya.
''Aku tidak mau Annisa yang menanggung akibat yang aku perbuat dulu padanya. Aku menyayangi Annisa lebih dari diriku sendiri. Aku tidak akan membiarkan nya terluka karena diriku. Abang akan menjagamu, sayang.. dari orang-orang yang dengan sengaja yang akan menghancurkan mu karena Abang. Kamu segalanya bagiku. Annisa.'' gumam Tama dalam hatinya.
💕💕💕💕💕
Ujian rumah tangga mereka dimulai!
__ADS_1
Jangan lupa Like, komen, kembang juga boleh. hihihi..