Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Kemarahan Annisa


__ADS_3

''Nak?? Ada apa? Kenapa kamu begitu marah pada adikmu?'' tanya ayah Emil pada Annisa.


Annisa menatap datar pada Ayah Emil, membuat Ayah Emil terkejut tanpa sadar ia menyebut nama Mak Alisa disana.


''Alisa...''


Deg!


Bunda Zizi menoleh pada Annisa. Ia pun terkejut melihat wajah Annisa begitu mirip dengan Mak Alisa jika sedang marah. Wajah dingin dan datarnya itu bisa membekukan seseorang yang ada di sekitarnya.


''Sayang... ingat apa kata Abang tadi kan??'' ucap Tama sembari mendekati Annisa tapi tidak melepaskan rangkulan tangannya dari tubuh Syakir.


Syakir menunduk takut saat melihat tatapan Bunda Zizi menatap horor padanya. Annisa tau itu. ''Hentikan Bunda! Sebelum semua ini terjadi dan membuat Bunda menyesali nya, hentikan tatapan horor bunda itu untuk adik ku Syakir!''


Deg!


''Nak ..'' tegur ayah Emil pada Annisa.


Annisa menoleh pada ayah Emil, ''Cukup Yah! Cukup terhadap kami saja ayah tidak berlaku adil! Sudah cukup Kakak menahan nya selama ini. Tidakkah Ayah ingat, seperti apa ayah dulu kepadaku?? Tidakkah Ayah ingat perlakuan Ayah terhadap Mak dan kedua saudara ku?? Dan kini?? Terulang lagi! Tidak kepada Bunda Zizi, tapi kepada adik ku yang lain! Syakir!''


Deg!


Deg!


Jantung bunda Zizi dan Ayah Emil seperti maraton mendengar ucapan Annisa yang begitu menohok hati mereka berdua.

__ADS_1


''Nak ..''


''Jangan kalian pikir, kakak tidak tau seperti apa perlakuan kalian terhadap adikku! Demi membela seseorang yang belum tentu benar kelakuan di belakang kalian, kalian tega menuduh yang lain karena perbuatannya! Tidakkah kalian tau kalau adikku ini terluka karena perlakuan kalian bertiga? Lihatlah dia!'' tunjuk Annisa pada Arta yang menunduk takut pada Annisa.


''Umurnya masih sepuluh tahun, tapi sudah Berani menatap Abang nya dengan tatapan tajamnya! Apa sih yang kamu inginkan Arta?! Belum cukup selama ini kamu merebut kasih sayang Ayah dan Bunda hingga kamu pun ingin menyingkirkan Syakir dari kehidupan mu?!'' seru Annisa dengan suara rendahnya.


Bunda Zizi meradang. ''Jangan sekali-kali kamu memarahi Arta, Annisa! Kamu tidak tau apapun tentang nya! Kamu itu hanya bisa menuduh nya tanpa bukti! Syakir disini yang bersalah! Bukan putra kedua bunda!'' ucap Bunda Zizi pada Annisa begitu marah.


Annisa terkekeh sumbang. Syakir semakin erat memeluk tubuh Annisa. ''Jika ku tau kelakuan kalian berdua seperti ini terhadap adikku, maka sudah sedari dulu aku membawanya pergi dari kalian! Jika kalian tidak menginginkan kehadiran nya, untuk apa kalian mencetaknya?!''


''Annisa!'' tegur ayah Emil pada Annisa.


''Apa!!!'' sahut Annisa dengan suara naik satu oktaf.


Uwak Udin menganga mendengar ucapan Annisa tentang cetak mencetak. Sedangkan Tama melototkan matanya pada Annisa. Setelah sadar, ia mengulum senyumnya. Ia melipat bibirnya ke dalam agar tidak tertawa.


''Hentikan tatapan matamu Bunda! Bunda selalu saja menyakiti adikku dengan kata-kata tajam Bunda. Tidakkah bunda tau, kalau selama ini Syakir begitu terluka dengan kelakuan kalian berdua?! Apa yang sudah membuat kalian hingga kalian menutup mata kalian hingga tidak mempercayai sedikit pun ucapan nya?! Dan kau Arta! Cukup sudah! Kali ini tidak ada tolerir untukmu! KEMBALIKAN SEMUA UANG DAN SEGALA SESUATUNYA YANG KAMU RAMPAS DARI SYAKIR SECARA PAKSA! DAN JUGA TARIK UCAPAN MU YANG MENGATAKAN JIKA SYAKIR TELAH MENIPU TEMANYA YANG TELAH MENCURI PONSEL MILIKNYA! TETAPI KAMULAH PELAKUNYA! KEMBALIKAN SEMUA YANG TELAH KAMU AMBIL DARINYA! APAPUN YANG PERNAH KAKAK BERIKAN PADAMU KEMBALIKAN DENGAN SEGERA ARTAFARIS ABBAS SYAHPUTRA!!!''


Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...


Brrruukkk...


Arta jatuh terduduk beserta ponsel mahalnya terhempas hingga jatuh kelantai bertaburan pecah menjadi berkeping-keping.


''ANNISA!!!''

__ADS_1


''CUKUP BUNDA AZIZAH!! CUKUP! CUKUP SUDAH!!'' seru Annisa dengan wajah menahan amarah.


Ayah Emil terkejut bukan main dengan ucapan Annisa baru saja. Begitu juga dengan Uwak Udin. Ia membeku di tempat karena melihat amarah Annisa sama persis seperti amarah mak Alisa. Bahkan lebih parah lagi.


''Cukup!!! cukup sudah!!! Kalau Bunda tidak mau mendengar ucapan ku, baik! Syakir!!''


''I-iya Kak!'' sahut Syakir ketakutan melihat Bunda Zizi yang kini menatap garang padanya.


''Kamu masih menyimpan bukti penipuan tentang Arta bukan??''


''I-iya kak. Ada di tas sekolah Abang. Biar Abang ambil dulu. Kakak pegang ini.'' Katanya pada Annisa sambil menyerahkan paper bag yang berisi ponsel pemberian Annisa tadi. Ia menunduk takut melihat Bunda Zizi yang seperti ingin menerkamnya.


Syakir berjalan melewati tubuh Arta yang jatuh terduduk dengan wajah pucat pasi. Ketika Syakir melewati Arta, kaki Syakir dirangkul erat oleh Arta.


Mata sipit itu menatap tajam pada Syakir dengan kepala menggeleng. Syakir menghela nafasnya.


''CUKUP ARTAFARIS!! CUKUP SUDAH SELAMA INI ABANG MELINDUNGI KEJAHATAN MU! SAMPAI-SAMPAI ABANG DI HUKUM KARENA PERBUATAN YANG SAMA SEKALI TIDAK PERNAH SEKALIPUN ABANG LAKUKAN! CUKUP! TIDAK LAGI! JIKA BUKAN KARENA KAK ANNISA, MAKA ABANG SUDAH SEDARI DULU MEMUKULMU, ARTAFARIS!!''


''SYAKIR!!!''


''Cukup Bunda! Jangan selalu menyalah kan seseorang yang Bunda anggap benar karena ucapan dusta nya! Lihat dulu bukti apa yang di kumpulkan oleh putra sulung mu baru setelah itu Bunda boleh menghukum nya!''


''Nak..'''


''Sayang...''

__ADS_1


''Adek tau Bang!'' sahut Annisa melengos ke arah lain saat melihat tatapan sendu Bunda Zizi padanya.


__ADS_2