Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Pasangan beda usia yang romantis


__ADS_3

Annisa dan Tama kembali ke ballroom dimana para tamu sudah menunggu mereka. Dan acara resepsi pun terus berlanjut hingga malam nanti.


Annisa dan Tama kembali menyambut para tamu yang akan mendoakan mereka. Annisa teriak histeris saat melihat kedua sahabat nya hadir disana ditemani kedua orang tua mereka.


Annisa begitu senang. ''Ishh.. kalian rupanya dengan ya membuat aku kayak gini?? Kalian curang! Nggak asik ah!'' sungut Annisa pura-pura kesal.


Tama terkekeh, gemas. Ia mencubit pipi sang istri yang sedikit tirus itu. Sarah dan Mutia tergelak keras saat melihat wajah Annisa yang benar-benar cemberut karena di goda eh sang suami.


''Tenanglah sayang.. semau ini pun ide dari sahabat kamu kok. Abang yang menjalankan nya. Awalnya iya Abang sengaja ingin membuat kamu terkejut. Dan ya, Abang berhasil. Tetapi cara mereka ini lebih ekstrim daripada cara Abang. Ya Abang tolak lah. Mana mau Abang membuat kamu terluka dulu baru setelahnya dibuat sebagai kayak gini. Bisa karatan seumur hidup Abang kalau begitu.''


Buhahahaha...


Siapa saja yang mendengar ucapan Tama tertawa terbahak. Ya, ide dari kedua sahabatnya itu ialah Tama harus berpura-pura selingkuh agar Annisa membencinya.


Setelah itu baru beri kejutan seperti ini. Tapi Tama menoleh saat seminggu yang lalu mereka berdua menyampaikan ide itu saat mengunjungi ustadzah Hanim.


Annisa menatap tajam pada kedua sahabatnya itu. Sedangkan Tama semakin tertawa.


Acara itu berlangsung dengan meriah. Tamu terus berdatangan dari segala arah. Sarah dan Mutia sempat membantu Annisa untuk membawa kado pemberian saudara dan kuah para kenalan Tama untuk dibawa ke kamar.


Sedangkan kado mereka berdua, mereka berikan langsung pada Annisa dan Tama. Annisa mengucapkan banyak terima kasih karena sudah hadir di acara resepsi nya. Dan sebelum pulang, Annisa memberikan bingkisan yang sudah Tama sediakan untuk kedua sahabat Annisa itu.

__ADS_1


Mereka pulang dengan hati gembira. Dan untuk saat ini sudah masuk waktu ashar. Annisa dan Tama diminta untuk istirahat sejenak karena mereka begitu lelah melayani para tamu yang lumayan banyak.


Acara itu akan dilanjutkan kembali habis sholat ashar. Mana tamu yang sudah hadir tetap dijamu. sedangkan seluruh keluarga beristirahat sebentar sebelum nantinya acara resepsi itu dilanjutkan hingga pukul sepuluh malam.


Tama dan Annisa sedang makan siang kesorean saat ini. Satu piring berdua tetapi ada nasi tambahan untuk Annisa yang suka makan.


Tama dengan telaten menyuapi Annisa yang begitu kelelahan. Ia kasihan melihat Annisa, tetapi apa boleh buat kalau mereka tetap harus tampil nanti di panggung seperti permintaan Lana dan Syakir tadi.


''Sudah Bang. Adek udah kenyang.''


Tama terkekeh, ''Gimana kamu nggak kenyang? Semua nasi tambah dan kuah laukanya habis tidak bersisa!'' jawab Tama dengan tertawa.


Ia punenyuapkan dua suap nasi terakhir di piring itu sebelum ia mencuci tangan. ''Hadeeuuuhh.. lama nggak akan enak Abang. Ya gini jadinya. Nggak selera makan kalau di pesantren. Mikirin Abang udah makan apa belum? Udah mandi belum? Sudah minum vitamin belum?''


''Abang makan dengan baik kok. Alhamdulillah. Kamu lihat sendiri kan? Abang baik-baik saja??''


''Ya, Abang baik-baik saja.. adek bobok bentar lah bang. Kan udah sholat ashar? Kalau penata riasnya datang, Abang bangunin ya?''


''Tentu, tidurlah. Abang akan menunggumu disini. Abang buka ponsel aja deh. Sedari kemarin ponsel itu mati sendiri. kehabisan daya saking sibuknya Abang mengurus pernikahan kita dan menyusulmu.'' ucapnya sembari mengelus lembut surai hitam Annisa yang sudah terbuka.


''Hem...'' sahut Annisa.

__ADS_1


Mata itu begitu berat saat ini. Tama tersenyum lagi melihat Annisa yang begitu kelelahan.


Pukul enam belas tiga puluh penata rias Annisa yang tadi mengetuk pintu. Tama yang sedang fokus pada ponselnya berhenti. Ia letakkan ponsel itu diatas nakas dan membuka pintu.


Penata rias itu tersenyum. ''Mana pengantin nya? Masih molor kah??'' tanyanya sembari masuk ke kamar mereka di ikuti dua gadis sebaya Annisa dibelakang nya.


Tama terkekeh. ''Iya, Annisa masih tidur. Kecapean melayani seluruh tamu tadi. Bentar ya, saya bangunin dulu.''


''Oke,'' sahutnya dengan tangan terus bergerak mengeluarkan seluruh alat riasnua dan ia atur di atas ranjang mereka berdua.


Tama mendekati Annisa dan membangunkan nya. Annisa berusaha bangun walau mata masih terpejam erat. Karena dirasa Annisa masih terlelap, Tama berinisiatif ingin memandikan dulu pujaan hatinya itu.


Annisa di gendong ke kamar mandi oleh Tama dan itu tidak lepas dari perhatian tiga orang gadis disana. Mereka tersenyum.


''Sungguh, pasangan beda usia yang begitu romantis. Kalian harus banyak belajar Dari Annisa ya? Mana tau nanti kalian mendapatkan suami yang dewasa seperti suami Annisa ini. Berusahalah bersikap dewasa di depan semua orang. Tetapi jadilah diri sendiri ketika dihadapan suami mu. Seorang suami itu lebih menyukai sang istri yang apa adanya. Tidak yang selalu menuntut diri kita harus menjadi orang lain ketika dihadapan nya. Ya.. walaupun kita tau banyak suami yang tidak sama seperti suami Annisa ini. Yang penting kalian tau, bahwa seorang lelaki itu bukan hanya sekedar butuh dengan kecantikan tetapi juga dengan jiwa kita, paham??''


Mereka berdua mengangguk setuju.


💕💕💕💕


Kalau ada typo nanti othor revisi. Othor ngejar target. Akhir bulan ini tiga karya othor termasuk ini othor tamatkan.

__ADS_1


So.. pantengin terus ye?


__ADS_2