
''Sekarang, semuanya sudah selesai. Ayah tidak perlu khawatir lagi. Hem? Selagi Annisa ada, ayah tidak akan sendirian. Kakak sama ayah. Bagaimana ayah dulu, semua itu masa lalu ayah. Kami sekeluarga sudah memaafkan ayah kok. Jadi ayah jangan terus merasa bersalah.'' Ucap Annisa sembari memeluk tubuh ringkih ayah Emil.
Ayah Emil tersedu. Ia memeluk tubuh Annisa dengan erat. Begitu pun dengan Bunda Zizi. ''Maafkan kesalahan ayah dulu nak. Ayah sangat merasa bersalah padamu. Tapi ayah mencoba berlapang hati menerima semua takdir hidup ini. Ayah beruntung memiliki kamu sebagai perisai ayah. begitu pun dengan kamu sayang. Abang pun sangat beruntung memiliki mu Zi. Sangat beruntung. Kemana anak-anak kita? kok sepi? Bukannya tadi kamu datang bersama ketiga anak kita ya?'' tanya ayah Emil pada bunda Zizi. Pria paruh baya itu celingak-celinguk mencari ketiga anaknya yang lain.
Bunda Zizi dan Annisa terkekeh. ''Saking sibuknya dengan sandiwara ini Abang Sampai lupa dengan kehadiran anak-anak kita. Mereka sedang-,''
Ceklek.
''Siapa yang ayah cari?Kami disini loh. Nih, Abang bawa pulang makan siang yang tertunda. Kami sholat dulu tadi. Baru setelahnya kami beli makan siang untuk kita makan.'' Potong Syakir yang saat baru saja datang dari luar.
Ayah Emil terkekeh. ''Ya, bagaimana ayah nggak kecarian coba? Tadi aja kalian semua ada disini. Giliran masalahnya selesai, kalian nggak ada. Makanya ayah tanya, gitu loh..''
Syakir tertawa. ''Udah yuk kita makan. Abang lagi ni es di luar rumah sakit. Karena adek belikan minta di belikan es campur rasa durian. Ck. Gara-gara keseringan nonton di botak tuyul itu, adek jadi ikut ikutan pingin makan eskrim rasa durian. Untungnya di depan sana ada yang jual es campur yang kata Adek es ABCD. Ck. ck. ck. Dasar Bella!'' gerutu Syakir bersungut-sungut.
__ADS_1
Semua yang ada disana terkekeh-kekeh mendengar ucapan Syakir untuk adik kecilnya.
Mereka makan sambil tertawa-tawa bersama. Annisa sengaja menunggu Tama untuk makan bersama. Setelah Tama masuk, mereka baru makan. Makan sepiring berdua sama seperti saat mereka sarapan tadi pagi. Ayah Emil tersenyum melihat nya.
Tama sering kali menyuapi Annisa makan seperti kebiasaan saat Annisa kecil dulu. Annisa tidak menolak semua itu. Bahkan moment seperti inilah yang selalu Annisa nantikan jika ia sedang di pesantren.
''Aa lagi. Dikit lagi ini,'' ucap Tama pada Annisa.
Tama terkekeh, ''Kamu itu harus banyak makan sayang. Badan kami itu kurus ceking sejak tinggal di pesantren. Nggak enak banget di peluknya!'' celutuk Tama membuat Annisa melototkan matanya dan manyun terhadap Tama.
''Ck. Abang nggak asik! Dasar pria tua menyebalkan!''
Tama tertawa lepas. Begitu juga dengan ayah Emil. ''Tua begini pun kamu cinta kan??'' ledek Tama lagi pada Annisa.
__ADS_1
Annisa semakin kesal saja dibuatnya. ''Ya, ya, ya. Anda benar tuan Adrian Pratama! Ck. Gimana ya? Cinta ini sudah mendarah daging! Sukar untuk di lepaskan! Ck. Kenapa pula aku cinta sama pria tua kayak kamu bang Tama!''
Bukannya marah, Tama malah tertawa terbahak bahak. Ia sangat suka menggoda Annisa seperti itu. Tiada hari di dalam hidupnya tanpa menggoda Annisa. Hanya waktu kebersamaan seperti inilah ia bisa bersama Annisa.
Selebihnya Annisa harus balik lagi ke asrama. Momen seperti ini yang sangat Tama inginkan dari dulu. Tapi apalah daya kalau Annisa masih sekolah. Hanya tinggal beberapa bulan lagi.
Dan Tama harus bersabar dengan hal itu. Semua itu demi masa depan Annisa kelak. Semoga mereka dipersatukan di saat yang tepat.
Ya, semoga saja.
💕💕💕💕
Tiga!
__ADS_1